KEKERAMATAN MAKAM KI GEDE SEBAYU
Di
awali oleh sebuah mimpi yang sangat mengherankan, mimpi itu terjadi pada saat aku
masih bekerja di sebuah perusahaan travel di Jakarta. Disitu aku bekerja sudah
hampir setahun sebagai staf marketing. Pada suatu malam aku bermimpi kedatangan
seseorang kakek berjubah yang berdiri pada sebuah bukit dan di bawah bukit itu
terdapat sungai yang cukup besar. Mimpi itu seperti pada sebuah tempat yang
sangat asing, tidak jelas apakah siang atau malam.Sebenarnya mimpi itu tidak
terlalu istimewa, namun setelah mimpi itu, tidak tahu mengapa rasa bosan dalam
mengarungi hidup seolah-olah semakin menguat. Sampai akhirnya, aku membulatkan
tekad untuk resign dari tempatku bekerja.
Akhirnya
aku memutuskan untuk mengembara....berkelana....menuruti hasrat hati......tanpa
memikirkan untuk apa, bagaimana dan mengapa. Dan tempat yang aku pilih adalah sebuah
makam keramat di daerah Balapulang Slawi. Sengaja aku memilih tempat ini,
karena tempat ini dekat dengan rumah istri aku yang ada di Slawi. Sebelumnya
aku belum pernaah datang ke makam ini, berbekal sedikit nekat dan rasa ingin
tahu maka aku paksakan untuk pergi ke makam keramat ki Gede Sebayu.
Konon
ceritanya, Ki Gede Sebayu merupakan keturunan dari Brawijaya V yang memilih
muksa di Gunung Lawu dan bergelar Sunan Lawu. Ki Gede Sebayu terkenal dengan
pendiri dari kota Tegal dan beliau merupakan sosok yang sangat ahli dalam
bidang pertanian. Salah satu jasa beliau adalah membuat sebuah bendungan dan
membuat irigasi untuk mengairi sawah penduduk. Dalam catatan sejarah, beliau
sebenarnya di tawari beberapa jabatan penting di kasultanan Demak, namun ia
tolak secara halus dan lebih memilih untuk idup sebagai ‘wong cilik’ dan
mengabdi kepada masyarakat luas.
Setelah
tiba di lokasi, aku merasa senang sekali, tempatnya cukup indah. Makam itu,
tepat berada di tengah-tengah antara sebuah bukit dan sungai terbesar
sekabupaten Tegal. Diatas makam juga terdapat sungai kecil yang di gunakan
untuk mengairi sawah di seluruh kabupaten Tegal. Makam tersebut sangat terwat
dan kelihatan sangat bersih, dan yang membuat nampak lebih indah adalah di
sekitar makam di tanami beberapa tanaman seperti pohon kelapa, pepaya dan
beberapa tanaman lain. Selain tanaman juga terdapat beberapa tanaman bunga yang
menambah kecantikan di sekitar makam itu. Di sebelah utara makam terdapat
sebuah musholla, tentu keberadaan mushola bagi musafir seperti aku sangat
penting artinya. Musholla tidak saja berfungsi untuk beribadah tapi juga untuk
beristirahat melepas lelah dalam beribadah.
Dan
yang terpenting bagi seorang musafir adalah air, karena air tidak saja
berfungsi untuk menghilangkan hadast kecil atau untuk mandi tapi air bagi
musafir juga penting karena di gunakan untuk minum juga. Bagi seorang musafir
seperti saya yang ingin mengembara sejauh-jauhnya namun dengan perbekalan
seadanya, sudah barang tentu harus menghemat pengeluaran. Dan salah satu untuk
menghemat pengeluaran selain dengan cara berpuasa adalah dengan minum air
sumur. Alhamdulillah, sumur di musholla itu begitu jernih dan tak berbau,
sehingga airnya dapat melegakan tenggorokanku yang kehausan. Hanya satu yang
menurutku yang agak disayangkan, yakni tidak ada penerangan.
Setiba
sampai di lokasi aku langsung memasuki areal makam, dan ternyata tidak seperti
makam keramat lainnya yang dijaga oleh juru kunci 24 jam. Sejenak aku khawatir
karena aku belum pernah sendirian di makam keramat, namun karena tempat yang
indah dan terdapat musholla, aku langsung menepis keraguanku dan berfikir kalau
nanti pasti akan ada peziyarah lain yang akan menemani. Disini saya cukup
bebas, tidak ada aturan tertentu seperti dimakam keramat lainnya, bisa kapan
aja tidur, bisa kapan aja mau sholat dan mau apa aja tidak ada yang ngelarang
karena memang sendirian, he..he....
Aku
berusaha untuk tidak membuang waktu, langsung mengambil wuduk dan melakukan
sholat ashar di musholla. Setelah itu tepat jam empat sore aku memulai mengambil
tempat di sisi utara dan mulai membaca dzikir. Setelah beberapa lama aku
terbuai dengan bacaan dzikir yang harus saya selesaikan dalam hitungan
tertentu, hingga akhirnya aku tersentak kaget, pada saat waktu menunjukkan jam
lima lebih tiga puluh menit, tepat matahari sudah tidak dapat dilihat lagi. Aku
menoleh ke kanan dan ke kiri tak ada satu pun orang yang berada pada sekitar
makam. Aku mulai di liputi rasa ketakutan, gelisah dan terus terang aku ingin
rasanya untuk lari meninggalkan makam. Namun karena jarak makam ke perkampungan
cukup jauh dan letaknya diatas bukit, ditambah aku belum tahu arah ke kampung
tersebut, karena memang pertama kalinya aku datang ke makam ini. Akhirnya
dengan keberanian yang sedikit dipaksakan, aku memutuskan untuk meneruskan
‘wiridan’ di makam tersebut sambil tetap mengharapkan adanya peziyarah lain
datang.
Pada
saat pukul menunjukkan enam sore, dan aku meyakini waktu sudah memasuki
maghrib, maka aku beranjak dari tempat dzikir menuju ke musholla untuk melaksanakan
sholat maghrib. Seusai melaksanakan sholat maghrib, aku kembali ke makam untuk
kembali melanjutkan dzikir yang belum selesai sesuai dengan terget jumlah yang
aku inginkan. Semakin malam keangkeran dari makam ini semakin terasa, rasa
takut sudah mulai membuatku tidak tenang, gelisah dan sulit untuk konsentrasi. Aku
berusaha untuk memejamkan mata, namun perasaan ada makhluq lain di sekitar
tempat aku duduk begitu kuat, sesekali aku membuka mataku dan menoleh ke kanan
dan ke kiri untuk memastikan apa memang ada makhluk lain di sekitar tempaku
berdzikir. Namun, setiap kali aku membuka mata, aku tidak melihat sosok makhluk
lain ada di sekitarku, namun anehnya begitu aku kembali memejamkan mata, aku
kembali merasakan ada makhluk lain yang ada di sekitar tempatku dan seolah-olah
sedang mengawasi gerak-gerikku.
Ketakutan
yang aku rasakan semakin kuat, apalagi tepat pada saat jam menunjukkan jam delapan
malam angin begitu kencang dan berputar-putar mengelilingi tempatku berdzikir.
Rasanya ingin segera untuk meninggalkan tempat ini. Dalam ketakutan yang amat
sangat, aku hanya dapat berdoa,
“Ya
Allah......Yang Maha Melindungi....Yang Maha berkuasa atas segala
sesuatu.........Yang Maha meliputi segala sesuatu......Ya Allah
.....Seseunggguhnya engkau sebaik-baik tempat kembali, Aku berserah diri kepada
Mu, bila aku harus kembali dengan melalui perantaraan makhluq ghaib yang ada
disini maka aku berserah diri.........”
Ya
Allah...... Yang Maha Tahu......Engkau tahu kedatanganku di sini hanya untuk
mendoakan para kekasihMu dan mencari tempat untuk berduan dengan Mu”.
Sesungguhnya keselamatanku terletak pada kuasaMU, bila memang saya harus mati
karena makhluq yang ada disini, itu berarti Engkau menghendaki demikian, hanya
melalui perantaraan makhluk yang ada disini. Dan apa yang akan Engkau perbuat
terhadap diriku maka aku hanya dapat berserah diri, karena aku hanyalah makhluq
sedangkan Engkau adalah sang Kholiq”.
Setelah
selesai berdoa, rasa takut mulai sedikit berkurang. Namun harus tetap kuakui
jika rasa takut itu masih ada. Akhirnya kulanjutkan lagi dengan berdzikir dan membaca
surat alfatehah yang kutujukan ke arwah dari Ki Gede Sebayu. Selain membaca
alfatehah aku juga membaca dzikir lain yang saya bisa sampai aku merasakan
seperti ada angin puting beliung yang berputar-putar mengelilingi tubuhku.
Akhirnya aku menghentikan dzikirku dan memutuskan untuk berpindah ke musholla
dengan berharap dapat terhindar dari angin yang begitu kencang. Selain itu,
juga berharap agar keangkeran yang kurasakan sedikit berkurang bila berpindah
ke musholla. Namun, rasa keangkeran itu ternyata tidak berkurang sama sekali.
Ku
lanjutkan lagi dzikirku, Allah...Allah......berulang-ulang dalam hati
sebagaimana dalam thareqat Qodiriyah wal Naqsyabandi dengan cara menempelkan
lidah ke langit-langit sambil di konsentrasikan ke dada sebelah kiri tepatnya
dua jari dibawah puting susu. Setelah beberapa putaran tasbih, aku benar-benar
terkaget dengan bunyi pintu dan jendela yang menutup sendiri dengan keras dan
berulang-ulang. Seolah-olah pintu dan jendela dari musholla tersebut di tutup
dengan cara di banting, sehingga menimbuklan suara yang sangat keras.
Konsentrasiku langsung buyar seketika, lalu ku mencoba mendekati pintu dan
jendela dan memastikan kembali untuk menutup dan menguncinya dengan benar.
Kerasnya bunyi pintu dan jendela itu benar-benar membuatku ingin lari dan
membuat tubuhku gemeteran karena ketakutan.
Setelah
sampai pada hitungan tertentu aku merasakan punggungku dan kakiku sudah mulai
terasa nyeri karena kecapekkan. Ingin rasanya saya mengantuk dan dapat tidur
dengan tenang dan bangun pada saat subuh sudah datang. Tapi anehnya, rasa
kantuk itu tak kunjung menghampiriku. Ku coba untuk melihat jam, dan ternyata
sudah menunjukkan jam satu malam.
Setelah
jantungku sudah mulai berdetak dengan normal, ku mulai mencoba untuk merebahkan
tubuhku yang begitu lelah tapi sama sekali tidak ada rasa kantuk. Waktu terasa
begitu lama, seolah-olah waktu telah berhenti berputar. Sesaat ketika aku mulai
merebahkan diri dan memejamkan mata, namun masih dalam kondisi sadar aku melihat
sosok anak kecil walau tidak begitu jelas, namun suara tangisnya begitu jelas,
sosok anak kecil itu ingin mengikuti aku, aku semakin ketakutan dan dengan
kesadaran penuh aku hanya dapat membaca Allah...Allah........sampai aku membuka
mata dan ternyata anak kecil itu juga ikut lenyap. Jantungku kembali berdetak
lebih kencang dan tubuhku sedikit gemetaran, dan akhirnya saya berusaha untuk
tidak merebahkan tubuhku, walau tubuhku terasa sangat penat sekali.
Untuk
mengurangi rasa takut, aku mencoba untuk berdzikir sambil mengitari ruang
musholla, dan juga untuk mengurangi rasa pegal karena ‘wiridan’ dengan duduk,
setelah sampai pukul tiga dini hari aku memutuskan untuk sholat tahajut, lalu aku
lanjutkan dengan dzikir. Tepat pukul empat dini hari pada saat aku lagi
berdzikir, tiba-tiba ada orang masuk dan langsung tidur dengan posisi
terlentang. Kehadiran orang tersebut sangat aneh, awalnya aku ragu apa dia
benar-benar manusia. Namun, setelah aku dekati dan aku yakin kalau ia adalah
manusia. Dan yang juga tak kalah anehnya adalah kepergiannya, kepergiannya begitu
tiba-tiba dan tidak ada jejak sama sekali. Tapi saya tidak terlalu
menghiraukannya dan menganggap dia adalah orang penduduk sekitar yang sering
tidur di musholla itu.
Akhirnya
sang mentari pun terlihat memancarkan keindahannya, rasa lega dan puji syukur
aku sampaikan kepada Tuhan, akhirnya aku dapat melewati malam yang cukup
menyeramkan. “Aku harus segera meninggalkan tempat ini” gumamku. Lalu aku mulai
mengemas barang-barangku dan mulai melangkahkan kaki untuk keluar dar musholla.
Begitu sampai di pintu musholla aku melihat seorang pria di usia tiga puluh
tahunan yang lagi asyik mencari rumput dan membersihkan areal makam. Aku
langsung mendekatinya dengan berharap dapat informasi terkait keangkeran makam
ini. “Assalamu’alaikum Pak,,, perkenalkan saya Agus, mulai kemarin sore saya
disini untuk berziyarah ke makam ini, apakah bapak adalah juru kunci dari makam
ini?”, tanyaku. “Iyya mas”, jawabnya. “Apa tempat ini angker pak, karena
semalam saya merasa ketakutan dan mimpi ketemu dengan sosok anak kecil?”,
tanyaku. “Iyya benar mas, tempat ini memang angker, tapi itu sifatnya hanya
menguji kita, banyak para musafir yang memilih tempat ini untuk mendekatkan
diri dan tujuan tertentu, bahkan ada yang sampai empat puluh hari lamanya,
mengenai sosok anak kecil itu, tujuh hari yang lalu ada anak kecil yang
meninggal dan di makamkan tepat di sebelah utara dari musholla”, jawaban dari
juru kunci.