Translate

Minggu, 09 November 2014

KEKERAMATAN MAKAM KI GEDE SEBAYU

KEKERAMATAN MAKAM KI GEDE SEBAYU


Di awali oleh sebuah mimpi yang sangat mengherankan, mimpi itu terjadi pada saat aku masih bekerja di sebuah perusahaan travel di Jakarta. Disitu aku bekerja sudah hampir setahun sebagai staf marketing. Pada suatu malam aku bermimpi kedatangan seseorang kakek berjubah yang berdiri pada sebuah bukit dan di bawah bukit itu terdapat sungai yang cukup besar. Mimpi itu seperti pada sebuah tempat yang sangat asing, tidak jelas apakah siang atau malam.Sebenarnya mimpi itu tidak terlalu istimewa, namun setelah mimpi itu, tidak tahu mengapa rasa bosan dalam mengarungi hidup seolah-olah semakin menguat. Sampai akhirnya, aku membulatkan tekad untuk resign dari tempatku bekerja.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengembara....berkelana....menuruti hasrat hati......tanpa memikirkan untuk apa, bagaimana dan mengapa. Dan tempat yang aku pilih adalah sebuah makam keramat di daerah Balapulang Slawi. Sengaja aku memilih tempat ini, karena tempat ini dekat dengan rumah istri aku yang ada di Slawi. Sebelumnya aku belum pernaah datang ke makam ini, berbekal sedikit nekat dan rasa ingin tahu maka aku paksakan untuk pergi ke makam keramat ki Gede Sebayu.
Konon ceritanya, Ki Gede Sebayu merupakan keturunan dari Brawijaya V yang memilih muksa di Gunung Lawu dan bergelar Sunan Lawu. Ki Gede Sebayu terkenal dengan pendiri dari kota Tegal dan beliau merupakan sosok yang sangat ahli dalam bidang pertanian. Salah satu jasa beliau adalah membuat sebuah bendungan dan membuat irigasi untuk mengairi sawah penduduk. Dalam catatan sejarah, beliau sebenarnya di tawari beberapa jabatan penting di kasultanan Demak, namun ia tolak secara halus dan lebih memilih untuk idup sebagai ‘wong cilik’ dan mengabdi kepada masyarakat luas.
Setelah tiba di lokasi, aku merasa senang sekali, tempatnya cukup indah. Makam itu, tepat berada di tengah-tengah antara sebuah bukit dan sungai terbesar sekabupaten Tegal. Diatas makam juga terdapat sungai kecil yang di gunakan untuk mengairi sawah di seluruh kabupaten Tegal. Makam tersebut sangat terwat dan kelihatan sangat bersih, dan yang membuat nampak lebih indah adalah di sekitar makam di tanami beberapa tanaman seperti pohon kelapa, pepaya dan beberapa tanaman lain. Selain tanaman juga terdapat beberapa tanaman bunga yang menambah kecantikan di sekitar makam itu. Di sebelah utara makam terdapat sebuah musholla, tentu keberadaan mushola bagi musafir seperti aku sangat penting artinya. Musholla tidak saja berfungsi untuk beribadah tapi juga untuk beristirahat melepas lelah dalam beribadah.
Dan yang terpenting bagi seorang musafir adalah air, karena air tidak saja berfungsi untuk menghilangkan hadast kecil atau untuk mandi tapi air bagi musafir juga penting karena di gunakan untuk minum juga. Bagi seorang musafir seperti saya yang ingin mengembara sejauh-jauhnya namun dengan perbekalan seadanya, sudah barang tentu harus menghemat pengeluaran. Dan salah satu untuk menghemat pengeluaran selain dengan cara berpuasa adalah dengan minum air sumur. Alhamdulillah, sumur di musholla itu begitu jernih dan tak berbau, sehingga airnya dapat melegakan tenggorokanku yang kehausan. Hanya satu yang menurutku yang agak disayangkan, yakni tidak ada penerangan.
Setiba sampai di lokasi aku langsung memasuki areal makam, dan ternyata tidak seperti makam keramat lainnya yang dijaga oleh juru kunci 24 jam. Sejenak aku khawatir karena aku belum pernah sendirian di makam keramat, namun karena tempat yang indah dan terdapat musholla, aku langsung menepis keraguanku dan berfikir kalau nanti pasti akan ada peziyarah lain yang akan menemani. Disini saya cukup bebas, tidak ada aturan tertentu seperti dimakam keramat lainnya, bisa kapan aja tidur, bisa kapan aja mau sholat dan mau apa aja tidak ada yang ngelarang karena memang sendirian, he..he....
Aku berusaha untuk tidak membuang waktu, langsung mengambil wuduk dan melakukan sholat ashar di musholla. Setelah itu tepat jam empat sore aku memulai mengambil tempat di sisi utara dan mulai membaca dzikir. Setelah beberapa lama aku terbuai dengan bacaan dzikir yang harus saya selesaikan dalam hitungan tertentu, hingga akhirnya aku tersentak kaget, pada saat waktu menunjukkan jam lima lebih tiga puluh menit, tepat matahari sudah tidak dapat dilihat lagi. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri tak ada satu pun orang yang berada pada sekitar makam. Aku mulai di liputi rasa ketakutan, gelisah dan terus terang aku ingin rasanya untuk lari meninggalkan makam. Namun karena jarak makam ke perkampungan cukup jauh dan letaknya diatas bukit, ditambah aku belum tahu arah ke kampung tersebut, karena memang pertama kalinya aku datang ke makam ini. Akhirnya dengan keberanian yang sedikit dipaksakan, aku memutuskan untuk meneruskan ‘wiridan’ di makam tersebut sambil tetap mengharapkan adanya peziyarah lain datang.
Pada saat pukul menunjukkan enam sore, dan aku meyakini waktu sudah memasuki maghrib, maka aku beranjak dari tempat dzikir menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat maghrib. Seusai melaksanakan sholat maghrib, aku kembali ke makam untuk kembali melanjutkan dzikir yang belum selesai sesuai dengan terget jumlah yang aku inginkan. Semakin malam keangkeran dari makam ini semakin terasa, rasa takut sudah mulai membuatku tidak tenang, gelisah dan sulit untuk konsentrasi. Aku berusaha untuk memejamkan mata, namun perasaan ada makhluq lain di sekitar tempat aku duduk begitu kuat, sesekali aku membuka mataku dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apa memang ada makhluk lain di sekitar tempaku berdzikir. Namun, setiap kali aku membuka mata, aku tidak melihat sosok makhluk lain ada di sekitarku, namun anehnya begitu aku kembali memejamkan mata, aku kembali merasakan ada makhluk lain yang ada di sekitar tempatku dan seolah-olah sedang mengawasi gerak-gerikku.
Ketakutan yang aku rasakan semakin kuat, apalagi tepat pada saat jam menunjukkan jam delapan malam angin begitu kencang dan berputar-putar mengelilingi tempatku berdzikir. Rasanya ingin segera untuk meninggalkan tempat ini. Dalam ketakutan yang amat sangat, aku hanya dapat berdoa,
“Ya Allah......Yang Maha Melindungi....Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu.........Yang Maha meliputi segala sesuatu......Ya Allah .....Seseunggguhnya engkau sebaik-baik tempat kembali, Aku berserah diri kepada Mu, bila aku harus kembali dengan melalui perantaraan makhluq ghaib yang ada disini maka aku berserah diri.........”
Ya Allah...... Yang Maha Tahu......Engkau tahu kedatanganku di sini hanya untuk mendoakan para kekasihMu dan mencari tempat untuk berduan dengan Mu”. Sesungguhnya keselamatanku terletak pada kuasaMU, bila memang saya harus mati karena makhluq yang ada disini, itu berarti Engkau menghendaki demikian, hanya melalui perantaraan makhluk yang ada disini. Dan apa yang akan Engkau perbuat terhadap diriku maka aku hanya dapat berserah diri, karena aku hanyalah makhluq sedangkan Engkau adalah sang Kholiq”.
Setelah selesai berdoa, rasa takut mulai sedikit berkurang. Namun harus tetap kuakui jika rasa takut itu masih ada. Akhirnya kulanjutkan lagi dengan berdzikir dan membaca surat alfatehah yang kutujukan ke arwah dari Ki Gede Sebayu. Selain membaca alfatehah aku juga membaca dzikir lain yang saya bisa sampai aku merasakan seperti ada angin puting beliung yang berputar-putar mengelilingi tubuhku. Akhirnya aku menghentikan dzikirku dan memutuskan untuk berpindah ke musholla dengan berharap dapat terhindar dari angin yang begitu kencang. Selain itu, juga berharap agar keangkeran yang kurasakan sedikit berkurang bila berpindah ke musholla. Namun, rasa keangkeran itu ternyata tidak berkurang sama sekali.
Ku lanjutkan lagi dzikirku, Allah...Allah......berulang-ulang dalam hati sebagaimana dalam thareqat Qodiriyah wal Naqsyabandi dengan cara menempelkan lidah ke langit-langit sambil di konsentrasikan ke dada sebelah kiri tepatnya dua jari dibawah puting susu. Setelah beberapa putaran tasbih, aku benar-benar terkaget dengan bunyi pintu dan jendela yang menutup sendiri dengan keras dan berulang-ulang. Seolah-olah pintu dan jendela dari musholla tersebut di tutup dengan cara di banting, sehingga menimbuklan suara yang sangat keras. Konsentrasiku langsung buyar seketika, lalu ku mencoba mendekati pintu dan jendela dan memastikan kembali untuk menutup dan menguncinya dengan benar. Kerasnya bunyi pintu dan jendela itu benar-benar membuatku ingin lari dan membuat tubuhku gemeteran karena ketakutan.
Setelah sampai pada hitungan tertentu aku merasakan punggungku dan kakiku sudah mulai terasa nyeri karena kecapekkan. Ingin rasanya saya mengantuk dan dapat tidur dengan tenang dan bangun pada saat subuh sudah datang. Tapi anehnya, rasa kantuk itu tak kunjung menghampiriku. Ku coba untuk melihat jam, dan ternyata sudah menunjukkan jam satu malam.  
Setelah jantungku sudah mulai berdetak dengan normal, ku mulai mencoba untuk merebahkan tubuhku yang begitu lelah tapi sama sekali tidak ada rasa kantuk. Waktu terasa begitu lama, seolah-olah waktu telah berhenti berputar. Sesaat ketika aku mulai merebahkan diri dan memejamkan mata, namun masih dalam kondisi sadar aku melihat sosok anak kecil walau tidak begitu jelas, namun suara tangisnya begitu jelas, sosok anak kecil itu ingin mengikuti aku, aku semakin ketakutan dan dengan kesadaran penuh aku hanya dapat membaca Allah...Allah........sampai aku membuka mata dan ternyata anak kecil itu juga ikut lenyap. Jantungku kembali berdetak lebih kencang dan tubuhku sedikit gemetaran, dan akhirnya saya berusaha untuk tidak merebahkan tubuhku, walau tubuhku terasa sangat penat sekali.                
Untuk mengurangi rasa takut, aku mencoba untuk berdzikir sambil mengitari ruang musholla, dan juga untuk mengurangi rasa pegal karena ‘wiridan’ dengan duduk, setelah sampai pukul tiga dini hari aku memutuskan untuk sholat tahajut, lalu aku lanjutkan dengan dzikir. Tepat pukul empat dini hari pada saat aku lagi berdzikir, tiba-tiba ada orang masuk dan langsung tidur dengan posisi terlentang. Kehadiran orang tersebut sangat aneh, awalnya aku ragu apa dia benar-benar manusia. Namun, setelah aku dekati dan aku yakin kalau ia adalah manusia. Dan yang juga tak kalah anehnya adalah kepergiannya, kepergiannya begitu tiba-tiba dan tidak ada jejak sama sekali. Tapi saya tidak terlalu menghiraukannya dan menganggap dia adalah orang penduduk sekitar yang sering tidur di musholla itu.          
Akhirnya sang mentari pun terlihat memancarkan keindahannya, rasa lega dan puji syukur aku sampaikan kepada Tuhan, akhirnya aku dapat melewati malam yang cukup menyeramkan. “Aku harus segera meninggalkan tempat ini” gumamku. Lalu aku mulai mengemas barang-barangku dan mulai melangkahkan kaki untuk keluar dar musholla. Begitu sampai di pintu musholla aku melihat seorang pria di usia tiga puluh tahunan yang lagi asyik mencari rumput dan membersihkan areal makam. Aku langsung mendekatinya dengan berharap dapat informasi terkait keangkeran makam ini. “Assalamu’alaikum Pak,,, perkenalkan saya Agus, mulai kemarin sore saya disini untuk berziyarah ke makam ini, apakah bapak adalah juru kunci dari makam ini?”, tanyaku. “Iyya mas”, jawabnya. “Apa tempat ini angker pak, karena semalam saya merasa ketakutan dan mimpi ketemu dengan sosok anak kecil?”, tanyaku. “Iyya benar mas, tempat ini memang angker, tapi itu sifatnya hanya menguji kita, banyak para musafir yang memilih tempat ini untuk mendekatkan diri dan tujuan tertentu, bahkan ada yang sampai empat puluh hari lamanya, mengenai sosok anak kecil itu, tujuh hari yang lalu ada anak kecil yang meninggal dan di makamkan tepat di sebelah utara dari musholla”, jawaban dari juru kunci.