HAKIKAT
JODOH
(Sebuah
Novel Filsafat)
“Iyya
bu......sebentar lagi aku akan ke sana” jawabku
“Ayoo
nak,,,,, makan rame-rame dengan adik-adikmu, biar terasa lebih nikmat.”
“Injih
(bahasa jawa yg berarti iyya) buu...”, sahut aku
Alhamdulillaah......saya
merasakan kenikmatan ketika menyantab hidangan yang dimasak oleh kedua tangan Ibuku,
jika tidak ingat sabda Nabi, mungkin aku sudah mengambil nasi lagi. Setelah
adik-adikku selesai makan, dan langsung meninggalkan meja makan, untuk
melanjutkan aktivitas rutin masing-masing ada yang mengaji dan ada yang
belajar.Tiba-tiba Ibuku memecah kesunyian dan berkata;
“Nak.....kapan
engkau akan menikah”?
“Jujur
bu......bukannya tidak ada wanita yang mendekatiku, tapi aku takut pasanganku
kelak mengecewakan Ibu.....”
“Janganlah
kau pikir seperti itu......tidak baik berfikir seperti itu, kita tidak boleh
berfikir negatif atau berprasangka yang tidak baik, karena prasangka itu bagian
dari doa.”
“Mohon
doanya bu.....insha Allah, bila Allah berkehendak, mudah baginya untuk
mendatangkan jodoh bagiku, aku ijin ke kamar dulu ya bu...”?
Lalu aku bergegas ke dalam kamar,
merebahkan tubuh diatas kasur kesayanganku, sambil mengingat lagi pertanyaan Ibu,
ketika aku memikirkan pertanyaan Ibuku, aku teringat pertemuanku dengan seorang
musafir di makam Sunan Bungkul Surabaya yang masih membujang di usianya yang
sudah berkepala empat. Aku tertarik untuk mengetahui, kenapa di usianya yang
sudah berkepala empat dia masih membujang, lalu aku bertanya;
“kenapa
di usia seperti ini Bapak masih membujang”?
“Karena
aku takut lebih mencintai pasanganku daripada Ibuku, di usia Ibuku yang semakin
tua, dan aku lebih mencintai pasanganku dari pada Ibuku, maka tentu hal ini
akan sangat menyakiti Ibuku, apalagi Ibuku telah berjuang membesarkan aku
sendirian, karena Bapakku telah wafat semenjak aku masih kelas dua SMP. Hanya
saya yang menjadi tumpuan satu-satunya untuk dapat merawat Ibuku dimasa tuanya.
Karena hanya akulah putra satu-satunya yang dapat merawat Ibuku ketika usianya
sudah tak muda lagi, ketika dia sudah mulai sering sakit, ketika dia sudah
mulai ingatannya melemah (pikun), ketika tubuhnya sudah mulai melemah, ketika
tak seorang pun tertarik untuk melihatnya. Aku masih menyimpan beberapa sajak
yang kutulis tentang makna Ibu dan kehidupan. (Sajak itu di tulis dalam sebuah
agenda berwarna biru, cukup lama nampaknya agenda itu).
Dan
isi dari sajak itu adalah ;
Indahnya
kasihmu Ibu...
Buat
ananda merasakan arti dari sebuah kasih
Untuk
bekal hidup penuh ujian
Kasihmu
murni tanpa tendensi
Bahkan
tulus bukan karena Tuhan
Tak
peduli apa Tuhan menyuruh atau tidak
Tanpa
bertanya haruskah mengasihi atau tidak
Bagimu
Ibuku mengasihi aku adalah sebuah kesenangan
Tak
pernah merasakan sedikitpun sebagai sebuah beban
Bahkan kenakalanku engkau enggap seolah-olah
sebagai rahmat
Tidak pernah engkau berkata, “aku mengasihimu
karena Tuhan”
Kesenanganmu adalah mendekapku, menyuapiku,
meneteki aku
Tak pernah engkau menghitung kebaikanmu
Tak pernah engkau berharap aku akan membalasmu
Engkau
tak gentar menukar nyawa, andai malaikat mau akan mencabut nyawaku
Bahkan
engkau bersedia masuk neraka, andai engkau tahu aku di dalamnya
Engkau
tak pernah meminta pahala, atas pengorbananmu
Kini
kusadari kasihmu adalah kasih Tuhan Yang sebenarnya
Kasih tanpa berfikir
Kasih tanpa argumen
Kasih tanpa hitungan
Kasih tanpa kenapa dan mengapa
Kini
kusadari betapa dasyatnya kasih
Dia
(Tuhan) mencipta dengan kasih
Adam
tercipta dengan ‘tanganNya’ dengan kasih
Adam
mencintai Hawa dengan cinta dan kasih
Cinta
kasih Adam dan Hawa memiliki implikasi kenikmatan
Cinta dan Kasih hanya akan berbuah
syurga
Cinta dan kasih tidak bertanya apa
dan kenapa
Cinta dan kasih tidak terbatas oleh
waktu
Cinta dan kasih tidak fana
Cinta dan kasih adalah esensi sebuah
kehidupan
Cinta dan kasih ada dalam setiap
ciptaan
Cinta dan kasih adalah sebuah
anugrah
Cinta
Tuhan mengalir pada Adam
Cinta
Adam mengalir pada Hawa
Cinta
Hawa mengalir sampai tak terhingga
Cinta
mengalir bagaikan siklus air
Oh...apa jadinya bila kenikmatan
menjadi tujuan
Oh....apa jadinya bila penciptaan
tanpa adanya cinta
Masihkah ingat kisah Habil dan Qobil
Penciptaan bukan karena cinta
Penciptaan bukan karena kasih
Penciptaan hanya karena syahwat
Penciptaan hanya melihat kecantikan
yang menipu
Itulah
awal terjadinya kejahatan di muka bumi
Itulah
pertanda kehancuran kehidupan
Itulah
awal lahirnya rentetan karma
Itulah
awal lahirnya penderitaan manusia
Setelah
membaca puisi yang ia tulis, kini aku memahami makna, cinta kasih, bagaimana
seharusnya hubungan makhluq dengan sang kholiq, bagaimana konsep penciptaan.
Setelah melihat jam dinding
menunjukkan jam sepuluh malam WIB, aku langsung bergegas mengambil wudhuk,
untuk sholat sunnah sebagaimana yang dianjurkan dalam thareqat Naqsyabandi.
Lalu aku langsung melakukan sholat sunnah dua raka’at, setelah salam aku lang
sung membuka buku yang isinya tentang tareqat Naqsyabandi, pada halaman ke 298
ada amalan dzikir yang artinya menarik hatiku, lalu dalam hati aku bergumam,
“bila aku membaca dzikir ini sampai 100 kali, dan aku mimpi maka amalan ini
cocok untuk aku amalkan. Lalu aku membaca dzikir itu sampai 100 kali, setelah
selesai aku langsung membaringkan tubuh sambil berharap mendapatkan mimpi. Dan
ternyata aku memang benar-benar mimpi, aku mimpi bertemu dengan gadis
tetanggaku sewaktu aku masih SD. Dulu aku sewaktu aku masih SD, aku tinggal di
sebuah kota yang cukup ramai di kota Banyuwangi, kota itu bernama Genteng. Dulu
memang aku sangat memuji kecantikan seorang gadis tetanggaku sendiri, namanya Wulan.
Aku terkesima dengan kecantikannya, wajahnya mirip bintang film India yang
terkenal, yang bernama Sri Dehvi.
Aku sangat heran, kenapa aku setelah
dzikir amalan itu, aku mimpi ketemu dengan Wulan. Apakah ini petunjuk kalau dia
merupakan jodohku? Ataukah mimpi ini memiliki arti lain, sebagaimana yang
tertulis dalam primbon, bahwa mimpi bertemu dengan perempuan pertanda akan
mendapatkan pengetahuan. Awalnya aku masih mempercayai yang pertama, walau aku
sadari mempercayai yang pertama itu karena faktor keinginan karena ada rasa
cinta. Ku coba untuk mencari tahu, tentang Wulan. Apakah dia sudah menikah,
lalu bagaimana aku dapat menyambung silaturrahmi dengannya. Walau sudah lama
tak berjumpa, aku masih ingat nomor telponnya, karena aku masih menyimpan
dengan baik nomor telponnya di buku harianku.
Singkat cerita, akhirnya aku tahu
kalau ternyata sudah menikah, walau sejujurnya aku ada rasa kecewa, namun yang
terpenting adalah bahwa mimpiku itu memiliki makna bukan terkait dengan jodoh
tapi terkait dengan pengetahuan. Tapi mengapa mimpi itu kembali membangkitkan
kenangan manis, bahkan rasa cinta. Entahlah.....pertanyaan itu sulit aku jawab.
Dalam renunganku aku bertanya tentang hakikat jodoh, lalu terjadihlah dialog
dalam diriku sendiri tentang hakikat jodoh.
“Apakah
hakikat jodoh itu”?
“Jodoh
adalah misteri Tuhan, bagaikan rahasia rizki ataupun mati. Kita bisa memaksakan
diri untuk menikah, namun kita tidak bisa memaksakan diri untuk mendapatkan
jodoh. Kita bisa memaksakan diri untuk kaya dengan cara tidak halal, tapi kita
tidak bisa memaksakan rizki hakiki. Kita bisa menghabisi nyawa kita sendiri
dengan bunuh diri, tapi kita tidak bisa memaksakan mati secara hakiki.
“Lalu,
apakah jodoh kita akan datang dengan sendirinya?
“Datangnya
jodoh, rizki, mati itu adalah rahmat Tuhan, hak prerogratif Tuhan, dan rahasia Tuhan.
Demi kebaikan manusia, Tuhan merahasiakannya.
“Dapatkah
kita mengetahui pertanda kedatangannya?
“Bila
engkau memiliki pengetahuan, dan mendapatkan perkenannya, maka engkau akan
mengetahui, namun hanya pertanda akan kedatangannya
“Bagimana
dengan petunjuk dalam Al-Qu’an, bahwa lelaki pezina akan mendapatkan wanita
pezina”.
“Ayat
itu berbicara secara umum, pada umumnya jodoh kita merupakan gambaran dari diri
kita sendiri. Karena wanita itu, hasil dari cipta kita sendiri, bisa dikatakan
jodoh kita adalah amal perbuatan kita.
“Bukankah
ada gadis perawan yang menikah dengan pria yang pernah berzina, sebaliknya
bukankah pernah ada lelaki perjaka yang menikah dengan wanita yang pernah
berzina? Bagaimana menjelaskan tentang hal ini?, kenapa bisa demkian?
“itulah
rahasia Tuhan, itulah misteri dari jodoh itu sendiri, setiap kepala manusia
bisa berbeda ketika berbicara tentang jodoh, tapi ingatlah, bahwa jodoh kita
adalah merupakan buah dari amal perbuatan kita, yang akhirnya terproyeksikan
pada alam bawah sadar. Disitulah kita mengalami proses ‘mencipta’. Bisa jadi,
yang perawan mendapatkan pria yang sudah berzina, karena amal perbuatan dia
menuntut demkian. Yang dilihat bukan bentuk dari perbuatannya melainkan esensi
dari perbuatan itu sendiri. Begitu pula bila ada perjaka mendapatkan jodoh wanita
yang pernah pezina. Tapi ingatlah satu hal, bahwa pernikahan itu bukan
legitimasi dari sebuah ‘jodoh’. Jodoh tetap menjadi misteri dan rahasia ilahi.
‘Apa
sebenarnya fungsi dari jodoh itu sendiri?
“Jodoh
adalah penyempurna kita, mensucikan setiap karma yang melekat pada diri kita,
untuk menuju ke arah kesempurnaan diri kita. Jodoh itu harusnya mendekatkan
kita pada sang pencipta, terkadang ada tingkah pasangan yg tidak sesuai dengan
harapan kita, namun ternyata itu jalan pendekatan kita kepada sang pencipta.
“Bagaimana
bila pasangan itu justru menjauhkan kita pada Tuhan?
“Sudah
pasti itu bukan jodoh dari Tuhan, setiap yang menjauhkan kita dengan Tuhan kita
harus berani menghapusnya dari kehidupan kita, dan setiap yang mendekatkan kita
kepada Tuhan, kita harus berani mempertahankannya. Tuhan haruslah harga mati.
Ingatlah satu hal, Tuhan tidak menciptakan Hawa bersamaan dengan Adam, walau Tuhan
tahu Adam membutuhkan Hawa sebagai pasangan hidupnya. Ini artinya penciptaan Adam
di khususkan untuk melaksanakan misi Tuhan sebagai kholifah fil ardhi,
sedangkan wanita untuk membantu suami dalam mengemban amanah dari Tuhan.
Aneh memang bagi sebagian orang,
tapi itulah yang kurasakan, terjadi dialektika dalam diri pribadiku sendiri,
aku bebaskan pikiranku untuk bertanya secara kritis, bersifat universal dan
seradikal-radikalnya, akal harus bebas dari segala intervensi. Hal ini
merupakan kaedah berfikir dalam filsafat yang harus ku pegang. Lalu aku
berusaha mencari jawabannya dengan bertanya dan membaca buku, bila aku sanggup
menemukan jawabannya maka aku benar-benar merasakan kepuasan yang tiada
ternilai harganya.
Kini kusadari, kalau aku tak mungkin
mengetahui apakah wanita yang menerima cintaku adalah jodohku atau bukan, aku
harus mengikuti rencana Tuhan kepadaku, kini aku tak pernah lagi, meminta jodoh
secara ghaib. Secara ghaib yang aku maksud adalah yang seperrti di ceritakan
oleh guru ngajiku, kalau ia dulu mendapatkan istri melalui mimpi. Menurutnya,
ia bermimpi seolah-olah disuruh untuk pergi ke sebuah daerah tertentu (terus
terang aku lupa daerah mana) persisnya di sebuha pasar, lalu dalam mimpi itu
dia seperti mendengar sebuah suara tanpa wujud, namun sangat jelas suaranya.
Suara itu berbunyi, “nanti akan ada wanita yang menyapamu, wanita yang
menyapamu itulah jodohmu”. Ternyata guruku mengikuti seperti apa yang dalam
mimpi itu, dan memang terjadi persis seperti yang ada dalam mimpi.