Translate

Minggu, 07 Desember 2014

HAKIKAT JODOH
(Sebuah Novel Filsafat)
Senja sudah mulai menampakkan keindahannya, ditandai dengan matahari yang sudah mulai tenggelam dan langitpun berubah warna menjadi jingga. Suara kemandang adzan menambah rasa kesyahduan hatiku. Alhamdulillaah....aku sampai di rumah ketika adzan maghrib telah selesai di kumandangkan. Mengingat .waktu maghrib cukup pendek, aku langsung mengambil wuduk untuk langsung mendirikan sholat maghrib. Setelah selesai sholat, seperti biasa aku langsung mengambil tasbeh untuk berdzikir Allah.....Allah....Allah dalam hati dengan menempelkan lidah ke langit-langit mulut dan memusatkan konsentrasi pada titik diantara dua alis (disebut juga sebagai cakra ajna). Ketika kutenggelam dalam kenikmatan dzikir, tiba sayup-sayup aku dengar suara memanggilku, “bimaaaa.......bimaaaaaa makan dulu, Ibu sudah menyiapkan makanan untukmu”. Ternyata Ibuku yang memanggil, sejenak aku berfikir apa aku harus meneruskan dzikir atau menjawab panggilan orang tuaku?, akhirnya aku teringat kisah kesalehan seseorang tiada memiliki arti bila tanpa ridho dari orang tua. Akhirnya aku lebih memilih menjawab panggilan orang tuaku.
“Iyya bu......sebentar lagi aku akan ke sana” jawabku
“Ayoo nak,,,,, makan rame-rame dengan adik-adikmu, biar terasa lebih nikmat.”
“Injih (bahasa jawa yg berarti iyya) buu...”, sahut aku
Alhamdulillaah......saya merasakan kenikmatan ketika menyantab hidangan yang dimasak oleh kedua tangan Ibuku, jika tidak ingat sabda Nabi, mungkin aku sudah mengambil nasi lagi. Setelah adik-adikku selesai makan, dan langsung meninggalkan meja makan, untuk melanjutkan aktivitas rutin masing-masing ada yang mengaji dan ada yang belajar.Tiba-tiba Ibuku memecah kesunyian dan berkata;
“Nak.....kapan engkau akan menikah”?
“Jujur bu......bukannya tidak ada wanita yang mendekatiku, tapi aku takut pasanganku kelak mengecewakan Ibu.....”
“Janganlah kau pikir seperti itu......tidak baik berfikir seperti itu, kita tidak boleh berfikir negatif atau berprasangka yang tidak baik, karena prasangka itu bagian dari doa.”
“Mohon doanya bu.....insha Allah, bila Allah berkehendak, mudah baginya untuk mendatangkan jodoh bagiku, aku ijin ke kamar dulu ya bu...”?
            Lalu aku bergegas ke dalam kamar, merebahkan tubuh diatas kasur kesayanganku, sambil mengingat lagi pertanyaan Ibu, ketika aku memikirkan pertanyaan Ibuku, aku teringat pertemuanku dengan seorang musafir di makam Sunan Bungkul Surabaya yang masih membujang di usianya yang sudah berkepala empat. Aku tertarik untuk mengetahui, kenapa di usianya yang sudah berkepala empat dia masih membujang, lalu aku bertanya;
“kenapa di usia seperti ini Bapak masih membujang”?
“Karena aku takut lebih mencintai pasanganku daripada Ibuku, di usia Ibuku yang semakin tua, dan aku lebih mencintai pasanganku dari pada Ibuku, maka tentu hal ini akan sangat menyakiti Ibuku, apalagi Ibuku telah berjuang membesarkan aku sendirian, karena Bapakku telah wafat semenjak aku masih kelas dua SMP. Hanya saya yang menjadi tumpuan satu-satunya untuk dapat merawat Ibuku dimasa tuanya. Karena hanya akulah putra satu-satunya yang dapat merawat Ibuku ketika usianya sudah tak muda lagi, ketika dia sudah mulai sering sakit, ketika dia sudah mulai ingatannya melemah (pikun), ketika tubuhnya sudah mulai melemah, ketika tak seorang pun tertarik untuk melihatnya. Aku masih menyimpan beberapa sajak yang kutulis tentang makna Ibu dan kehidupan. (Sajak itu di tulis dalam sebuah agenda berwarna biru, cukup lama nampaknya agenda itu).
Dan isi dari sajak itu adalah ;
Indahnya kasihmu Ibu...
Buat ananda merasakan arti dari sebuah kasih
Untuk bekal hidup penuh ujian
Kasihmu murni tanpa tendensi
Bahkan tulus bukan karena Tuhan
Tak peduli apa Tuhan menyuruh atau tidak
Tanpa bertanya haruskah mengasihi atau tidak
Bagimu Ibuku mengasihi aku adalah sebuah kesenangan
Tak pernah merasakan sedikitpun sebagai sebuah beban
Bahkan kenakalanku engkau enggap seolah-olah sebagai rahmat
Tidak pernah engkau berkata, “aku mengasihimu karena Tuhan”
Kesenanganmu adalah mendekapku, menyuapiku, meneteki aku
Tak pernah engkau menghitung kebaikanmu
Tak pernah engkau berharap aku akan membalasmu
Engkau tak gentar menukar nyawa, andai malaikat mau akan mencabut nyawaku
Bahkan engkau bersedia masuk neraka, andai engkau tahu aku di dalamnya
Engkau tak pernah meminta pahala, atas pengorbananmu
Kini kusadari kasihmu adalah kasih Tuhan Yang sebenarnya
            Kasih tanpa berfikir
Kasih tanpa argumen
Kasih tanpa hitungan
Kasih tanpa kenapa dan mengapa
Kini kusadari betapa dasyatnya kasih
Dia (Tuhan) mencipta dengan kasih
Adam tercipta dengan ‘tanganNya’ dengan kasih
Adam mencintai Hawa dengan cinta dan kasih
Cinta kasih Adam dan Hawa memiliki implikasi kenikmatan
            Cinta dan Kasih hanya akan berbuah syurga
            Cinta dan kasih tidak bertanya apa dan kenapa
            Cinta dan kasih tidak terbatas oleh waktu
            Cinta dan kasih tidak fana         
            Cinta dan kasih adalah esensi sebuah kehidupan
            Cinta dan kasih ada dalam setiap ciptaan
            Cinta dan kasih adalah sebuah anugrah
Cinta Tuhan mengalir pada Adam
Cinta Adam mengalir pada Hawa
Cinta Hawa mengalir sampai tak terhingga
Cinta mengalir bagaikan siklus air
            Oh...apa jadinya bila kenikmatan menjadi tujuan
            Oh....apa jadinya bila penciptaan tanpa adanya cinta
            Masihkah ingat kisah Habil dan Qobil
            Penciptaan bukan karena cinta
            Penciptaan bukan karena kasih
            Penciptaan hanya karena syahwat
            Penciptaan hanya melihat kecantikan yang menipu
Itulah awal terjadinya kejahatan di muka bumi
Itulah pertanda kehancuran kehidupan
Itulah awal lahirnya rentetan karma
Itulah awal lahirnya penderitaan manusia
Setelah membaca puisi yang ia tulis, kini aku memahami makna, cinta kasih, bagaimana seharusnya hubungan makhluq dengan sang kholiq, bagaimana konsep penciptaan.
            Setelah melihat jam dinding menunjukkan jam sepuluh malam WIB, aku langsung bergegas mengambil wudhuk, untuk sholat sunnah sebagaimana yang dianjurkan dalam thareqat Naqsyabandi. Lalu aku langsung melakukan sholat sunnah dua raka’at, setelah salam aku lang sung membuka buku yang isinya tentang tareqat Naqsyabandi, pada halaman ke 298 ada amalan dzikir yang artinya menarik hatiku, lalu dalam hati aku bergumam, “bila aku membaca dzikir ini sampai 100 kali, dan aku mimpi maka amalan ini cocok untuk aku amalkan. Lalu aku membaca dzikir itu sampai 100 kali, setelah selesai aku langsung membaringkan tubuh sambil berharap mendapatkan mimpi. Dan ternyata aku memang benar-benar mimpi, aku mimpi bertemu dengan gadis tetanggaku sewaktu aku masih SD. Dulu aku sewaktu aku masih SD, aku tinggal di sebuah kota yang cukup ramai di kota Banyuwangi, kota itu bernama Genteng. Dulu memang aku sangat memuji kecantikan seorang gadis tetanggaku sendiri, namanya Wulan. Aku terkesima dengan kecantikannya, wajahnya mirip bintang film India yang terkenal, yang bernama Sri Dehvi.
            Aku sangat heran, kenapa aku setelah dzikir amalan itu, aku mimpi ketemu dengan Wulan. Apakah ini petunjuk kalau dia merupakan jodohku? Ataukah mimpi ini memiliki arti lain, sebagaimana yang tertulis dalam primbon, bahwa mimpi bertemu dengan perempuan pertanda akan mendapatkan pengetahuan. Awalnya aku masih mempercayai yang pertama, walau aku sadari mempercayai yang pertama itu karena faktor keinginan karena ada rasa cinta. Ku coba untuk mencari tahu, tentang Wulan. Apakah dia sudah menikah, lalu bagaimana aku dapat menyambung silaturrahmi dengannya. Walau sudah lama tak berjumpa, aku masih ingat nomor telponnya, karena aku masih menyimpan dengan baik nomor telponnya di buku harianku.
            Singkat cerita, akhirnya aku tahu kalau ternyata sudah menikah, walau sejujurnya aku ada rasa kecewa, namun yang terpenting adalah bahwa mimpiku itu memiliki makna bukan terkait dengan jodoh tapi terkait dengan pengetahuan. Tapi mengapa mimpi itu kembali membangkitkan kenangan manis, bahkan rasa cinta. Entahlah.....pertanyaan itu sulit aku jawab. Dalam renunganku aku bertanya tentang hakikat jodoh, lalu terjadihlah dialog dalam diriku sendiri tentang hakikat jodoh.
“Apakah hakikat jodoh itu”?
“Jodoh adalah misteri Tuhan, bagaikan rahasia rizki ataupun mati. Kita bisa memaksakan diri untuk menikah, namun kita tidak bisa memaksakan diri untuk mendapatkan jodoh. Kita bisa memaksakan diri untuk kaya dengan cara tidak halal, tapi kita tidak bisa memaksakan rizki hakiki. Kita bisa menghabisi nyawa kita sendiri dengan bunuh diri, tapi kita tidak bisa memaksakan mati secara hakiki.
“Lalu, apakah jodoh kita akan datang dengan sendirinya?
“Datangnya jodoh, rizki, mati itu adalah rahmat Tuhan, hak prerogratif Tuhan, dan rahasia Tuhan. Demi kebaikan manusia, Tuhan merahasiakannya.
“Dapatkah kita mengetahui pertanda kedatangannya?
“Bila engkau memiliki pengetahuan, dan mendapatkan perkenannya, maka engkau akan mengetahui, namun hanya pertanda akan kedatangannya
“Bagimana dengan petunjuk dalam Al-Qu’an, bahwa lelaki pezina akan mendapatkan wanita pezina”.
“Ayat itu berbicara secara umum, pada umumnya jodoh kita merupakan gambaran dari diri kita sendiri. Karena wanita itu, hasil dari cipta kita sendiri, bisa dikatakan jodoh kita adalah amal perbuatan kita.
“Bukankah ada gadis perawan yang menikah dengan pria yang pernah berzina, sebaliknya bukankah pernah ada lelaki perjaka yang menikah dengan wanita yang pernah berzina? Bagaimana menjelaskan tentang hal ini?, kenapa bisa demkian?
“itulah rahasia Tuhan, itulah misteri dari jodoh itu sendiri, setiap kepala manusia bisa berbeda ketika berbicara tentang jodoh, tapi ingatlah, bahwa jodoh kita adalah merupakan buah dari amal perbuatan kita, yang akhirnya terproyeksikan pada alam bawah sadar. Disitulah kita mengalami proses ‘mencipta’. Bisa jadi, yang perawan mendapatkan pria yang sudah berzina, karena amal perbuatan dia menuntut demkian. Yang dilihat bukan bentuk dari perbuatannya melainkan esensi dari perbuatan itu sendiri. Begitu pula bila ada perjaka mendapatkan jodoh wanita yang pernah pezina. Tapi ingatlah satu hal, bahwa pernikahan itu bukan legitimasi dari sebuah ‘jodoh’. Jodoh tetap menjadi misteri dan rahasia ilahi.
‘Apa sebenarnya fungsi dari jodoh itu sendiri?
“Jodoh adalah penyempurna kita, mensucikan setiap karma yang melekat pada diri kita, untuk menuju ke arah kesempurnaan diri kita. Jodoh itu harusnya mendekatkan kita pada sang pencipta, terkadang ada tingkah pasangan yg tidak sesuai dengan harapan kita, namun ternyata itu jalan pendekatan kita kepada sang pencipta.
“Bagaimana bila pasangan itu justru menjauhkan kita pada Tuhan?
“Sudah pasti itu bukan jodoh dari Tuhan, setiap yang menjauhkan kita dengan Tuhan kita harus berani menghapusnya dari kehidupan kita, dan setiap yang mendekatkan kita kepada Tuhan, kita harus berani mempertahankannya. Tuhan haruslah harga mati. Ingatlah satu hal, Tuhan tidak menciptakan Hawa bersamaan dengan Adam, walau Tuhan tahu Adam membutuhkan Hawa sebagai pasangan hidupnya. Ini artinya penciptaan Adam di khususkan untuk melaksanakan misi Tuhan sebagai kholifah fil ardhi, sedangkan wanita untuk membantu suami dalam mengemban amanah dari Tuhan.
            Aneh memang bagi sebagian orang, tapi itulah yang kurasakan, terjadi dialektika dalam diri pribadiku sendiri, aku bebaskan pikiranku untuk bertanya secara kritis, bersifat universal dan seradikal-radikalnya, akal harus bebas dari segala intervensi. Hal ini merupakan kaedah berfikir dalam filsafat yang harus ku pegang. Lalu aku berusaha mencari jawabannya dengan bertanya dan membaca buku, bila aku sanggup menemukan jawabannya maka aku benar-benar merasakan kepuasan yang tiada ternilai harganya.
            Kini kusadari, kalau aku tak mungkin mengetahui apakah wanita yang menerima cintaku adalah jodohku atau bukan, aku harus mengikuti rencana Tuhan kepadaku, kini aku tak pernah lagi, meminta jodoh secara ghaib. Secara ghaib yang aku maksud adalah yang seperrti di ceritakan oleh guru ngajiku, kalau ia dulu mendapatkan istri melalui mimpi. Menurutnya, ia bermimpi seolah-olah disuruh untuk pergi ke sebuah daerah tertentu (terus terang aku lupa daerah mana) persisnya di sebuha pasar, lalu dalam mimpi itu dia seperti mendengar sebuah suara tanpa wujud, namun sangat jelas suaranya. Suara itu berbunyi, “nanti akan ada wanita yang menyapamu, wanita yang menyapamu itulah jodohmu”. Ternyata guruku mengikuti seperti apa yang dalam mimpi itu, dan memang terjadi persis seperti yang ada dalam mimpi.
           





Tidak ada komentar: