Translate

Kamis, 16 Oktober 2014

SULUK LINGLUNG (MENYALIN)

NAIK HAJI KE MEKAH (Bagian 03) Syekh Malaya menerobos hutan, naik gunung, turun jurang, tetebingan di dakinya memutar, melintasi jurang dan tanjakan. Tanpa terasa perjalanannya telah sampai di tepi pantai. Hatinya bingung, kesulitan menempuh jalan selanjutnya karena terhalang oleh samudera luas, sejauh memandang tampak air semata. Dia diam tercenung lama sekali di tepi samudera memutar otak mencari jalan yang sebaiknya ditempuh. Kocap kacarita tersebutlah seorang manusia, yang bernama Sang Mahyuningrat, mengetahui kedatangan seorang yang tengah bingung yaitu Syekh Malaya. Sang Mahyuningrat tahu segala perjalanan yang dialami oleh Syekh Malaya dengan sejuta keprihatinan karena ingin meraih iman hidayah. Berbagai cara telah ditempuh, juga melalui penghayatan kejiwaan dan berusaha mengungkap berbagai rahasia yang tersembunyi, namun mustahil dapat menemukan hidayah, kecuali kalau mendapatkan kanugrahan Allah yang haq. Syekh Malaya ternyata sudah terjun merenangi samudra luas, dan tidak mempedulikan nasib jiwanya sendiri. Semakin lama Syekh Malaya sudah hampir sampai tengah samudra, mengikuti jalan untuk mencapai hakikat yang tertinggi dari Allah, tidak sampai lama, sampailah di tengah samudra. Beliu kehabisan tenaga untuk merenangi samudra menuju Mekah. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia berusaha mempertahankan diri jangan sampai tenggelam di dasar laut. Yang tampak kini. Syekh Malaya timbul-tenggelam di permukaan laut berjuang menyelamatkan nyawanya. Ternyata disaat Syekh Malaya dalam keadaan yang kritis itu berjuang antara hidup dan mati, tiba-tiba penglihatannya melihat seseorang yang sedang berjalan di atas air dengan tenangnya, yang tidak dari mana datangnya. Seketika itu pula, tahu-tahu Syekh Malaya sudah dapat duduk tenang diatas air. Orang yang mendekati Syekh Malaya tidak lain adalah Kanjeng nabi Khidir yang menyapa Syekh Malaya dengan lemah lembut, “Syekh Malaya apakah tujuanmu mendatangi tempat ini? Apakah yang kau harapkan? Ketahuilah di sini tidak ada apa-apa! Tidak ada yang ditemubuktikan, apalagi untuk dimakan dan berpakaian pun tidak ada. Yang ada hanyalah daun kering yang tertiup yang jatuh di depanku, itu yang saya makan, kalau tidak ada tentu tidak makan. Senangkah kamu melihat kenyataan semua itu?”. Sunan Kalijaga heran mengetahui penjelasan ini. Kanjeng Nabi Khidir berkata lagi kepada Sunan Kalijaga, “Cucuku, di sini ini banyak bahayanya, kalau tidak mati-matian berani bertaruh nyawa, tentu tidak mungkin sampai di sini. Di tempat ini segalanya tidak ada yang dapat diharapkan hasilnya. Mengandalkan pikiranmu saja belum apa-apa, biarpun kamu tidak takut mati. Kutegaskan sekali lagi, di sini kau tidak mungkin mendapat apa yang kau maksudkan!”. Syekh Malaya bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat, dia menjawab pertanyaan Kanjeng Nabi Khidir, bahwa dia tidak mengetahui akan langkah yang sebaiknya perlu ditempuh setelah ini. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya kemudian! “Syekh Malaya pasrah diri kepada Kanjeng Nabi Khidir , katanya terasa memilukan”. Sang guru Kanjeng Nabi Khidir menebak, “Apakah kamu juga sangat mengharapkan hidayatullah Allah?”. Akhirnya Kanjeng Nabi Khidir menjelaskan, “ikutilah petunjukku sekarang ini!” “Kamu telah berusaha menjalankan petunjuk gurumu kanjeng Sunan Bonang yang menyuruhmu menuju kota Mekah, dengan keperluan naik haji. Maka ketahuilah olehmu, makna tugas itu yaitu : sungguh sulit menjalankan lika-liku kehidupan ini”. “Jangan pergi kalau belum tahu yang kau tuju dan jangan makan kalau belum tahu rasanya yang dimakan, jangan berpakaian kalau belum tahu kegunaan berpakaian. Lebih jelasnya tanyalah sesama manusia sekaligus dengan persamaannya, kalau sudah jelas amalkanlah!”. “Demikianlah seharusnya hidup itu, ibarat ada orang dari gunung, akan membeli emas, oleh tukang emas biarpun diberi kuningan tetap dianggap emas mulia. Demikianlah pula dengan orang berbakti, bila belum yakin benar, pada siapakah yang harus disembah?” Syekh Malaya ketika mendengar itu, spontan duduk berlutut mohon belas kasihan, setelah mendapati kenyataan Kanjeng Nabi Khidir betul-betul serba tahu yang tersimpan di hatinya. Dengan duduk bersila dia berkata, “Yang kami dengar akan kami laksanakan apa pun jadinya nanti. “Syekh Malaya meminta kasih sayang, memohon keterangan yang jelas’, siapakah nama tuan? Mengapa di sini sendirian? Sang Mahyuningrat menjawab, “sesungguhnya saya ini Kanjeng Nabi Khidir”. Syekh Malaya berkata, “saya menghaturkan hormat sedalam-dalamnya kepada tuan junjunganku dan mohon petunjuk serta perlu dikasihani, saya juga tidak tahu benar tidaknya pengabdianku ini. Tidak lebih bedanya dengan hewan di hutan, itupun masih tidak seberapa, bila mau menyelidiki kesucian diriku ini. Dapat dikatakan lebih bodoh dan dungu serta tercela ibarat keris tanpa kerangka dan ibarat bacaan tanpa isi tersirat”. Maka berkata dengan manisnya Sang Kanjeng Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga. “Jika kamu berkehendak naik haji ke Mekah, kamu harus tahu tujuan yang sebenarnya menuju ke Mekah itu. Ketahuilah mekah itu hanya tapak tilas saja! Yaitu bekas tempat tinggal Nabi Ibrahim zaman dahulu. Beliulah yang membangun Ka’bah Masjidil Haram serta yang menghiasi Ka’bah itu dengan benda yang berupa batu hitam (Hajar Aswad) yang tergantung didinding Ka’bah tanpa digantungkan. Apakah Ka’bah itu yang hendak kamu sembah? Kalau itu yang menjadi niatmu, berarti kamu sama halnya menyembah berhala atau bangunan yang dibuat dari batu. Perbuatanmu itu tidak jauh berbeda dengan yang diperbuat oleh orang kafir, karena hanya sekedar menduga-duga saja wujud Allah yang disembah, dengan senantiasa menghadap kepada berhalanya. Oleh karenanya itu, biarpun kamu sudah naik haji, bila belum tahu tujuanya yang sebenernya dari ibadah haji tentu kamu akan rugi besar. Maka dari itu, ketahuilah bahwa Ka’bah yang sedang kau tuju itu, bukannya yang terbuat dari tanah atau kayu apalagi batu, tetapi Ka’bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya Ka’bahtullah (Ka’bah Allah). Demikian itu sesunggunya iman hidayah yang harus kamu yakinkan dalam hati”. Kanjeng Nabi Khidir memerintah, “Syekh Malaya segeralah kemari secepatnya! Masuk ke dalam tubuhku!” Syekh Malaya terhenyak hatinya tak dapat dicegah lagi, keluarlah tawanya, bahkan sampai mengeluarkan air mata seraya berkata halu. “Melalui jalan manakah harus masuk ke dalam tubuhmu, padahal saya tinggi besar melebihi tubuhmu, kira-kira cukupkah? Melalui jalan manakah usaha saya untuk masuk? Padahal nampak olehku buntu semua? Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lemah lembut. “Besarmana kamu dengan bumi, semua ini beserta isinya, hutan rimba dan samudera serta gunung tidak bakal penuh bila dimasukkan kedalam tubuhku, jangan khawatir bila tak cukup masuklah di dalam tubuhku ini. Syekh Malaya setelah mendengarnya semakin takut sekali dan bersedia melaksanakan tugas memasuki badan Kanjeng Nabi Khidir, namun bingung tak tahu cara melaksanakannya. Menolehlah Kanjeng Nabi Khidir, ini jalan di telingaku ini”. MUTIARA ILMU SYARIAT (Bagian 04) Syekh Malaya masuk dengan segera melalui telinga Kanjeng Nabi Khidir. Sesampainya di dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat samudera luas tiada bertepi sejauh mata memandang, semakin diamati semakin jauh tampaknya. Kanjeng Nabi Khidir bertanya keras-keras, “hai apa yang kamu lihat?” Syekh Malaya segera menjawab, “Angkasa Raya yang kuamati, kosong melompong jauh tidak kelihatan apa-apa, kemana kakiku melangkah, tidak tahu arah utara selatan barat timur pun tidak kami kenal lagi, bawah dan atas serta muka belakan, tidak mampu saya bedakan. Bahkan semakin membingungkanku”. Kanjeng Nabi Khidir berkata lemah-lembut, “usahakan jangan sampai bingung hatimu”. Tiba-tiba Syekh Malaya melihat suasana terang benderang. Dihadapannya nampak Kanjeng Nabi Khidir, Syekh Malaya melihat Kanjeng Nabi Khidir malayang di udara kelihatan memancarkan cahaya gemerlapan. Saat itu Syekh Malaya melihat arah utara selatan, barat dan timur sudah kelihatan jelas, atas serta bawah juga sudah terlihat dan mampu menjaring matahari, tenang rasanya sebab melihat Kanjeng Nabi Khidir, rasanya berada di alam yang lain dari yang lain. Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut, “jangan berjalan hanya sekedar berjalan, lihatlah dengan sungguh-sungguh apa yang terlihat olehmu”. Syekh Malaya menjawad, “Ada warna empat macam yang nampak padaku semua itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya empat macam yang kuingat yaitu hitam merah kuning dan putih”. Berkata Kanjeng Nabi Khidir, “yang pertama kau lihat cahaya mencorong tapi tidak tahu namanya ketahuilah itu adalah pancamaya, yang sebenarnya ada di dalam dirimu sendiri yang mengatur dirimu. Pancamaya yang indah itu disebut mukasyafah, bila mana kamu mampu membimbing dirimu ke dalam sifat terpuji, yaitu sifat yang asli. Maka dari itu jangan asal bertindak, selidikilah semua bentuk jangan sampai tertipu nafsu. Usahakan semaksimal mungkin agar hatimu menduduki sifat asli, perhatikan terus hatimu itu, supaya tetap dalam jati diri!” Tentramlah hati Syekh Malaya, setelah mengerti itu semua dan baru mantap rasa hatinya serta gembira. Kanjeng Nabi Khidir melanjutkan penjelasannya, “adapun yang kuning, merah, hitam serta putih itu adalah penghalanya. Sebab isinya dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi kedalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku, kalau mampu menjauhi itu pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menghalangi meningkatkan citra diri. Hati yang tiga macam yaitu hitam, merah dan kuning, semua itu menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya. Maksudnya akan menghalangi menyatunya hamba dengan Tuhan yang membuat nyawa lagi mulia. Jika tidak tercampur oleh tiga hal itu, tentu terjadi hilangnya jiwa, maksudnya orang akan mencapai tingkatan Maqom Fana dan akan masuk Maqom Baqo atau abadi. Maksudnya senantiasa berdekatan rapat dengan Sang Pencipta. Namun yang perlu diperhatikan dan diingat dengan seksama, bahwa penghalang yang ada dalam dihati, mempunyai kelebihan yang perlu kamu ketahui dan sekaligus sumber inti kekuatannya. Yang hitam lebih perkasa, pekerjaanya marah, mudah sakit hati, angkara murka secara membabi buta. Itulah hati yang menghalangi, menutup kepada kebajikan. Sedangkan yang berwarna merah, ikut menunjukkan nafsu yang tidak baik, segala keinginan nafsu keluar dari si merah, mudah emosi dalam mencapai tujuan, hingga menutup kepada hati yang sudah jernih tenang menuju akhir hidup yang baik (khusnul khatimah). Adapun yang berwarna kuning, kemampuannya menghalangi segala hal, pikiran yang baik maupun pekerjaan yang baik. Hati kuninglah yang menghalangi timbulnya pikiran yang baik hanya membuat kerusakan, menelantarkan ke jurang kehancuran. Sedangkan yang putih itulah yang sebenarnya, membuat hati tenang serta suci tanpa ini itu, pahlawan dalam kedamaian”. Kanjeng Nabi Khidir memberi kesempatan bagi Syekh Malaya untuk merenungkan penjelasannya tadi. Selanjutnya beliu berkata, “hanya itulah yang dapat dirasakan manusia akan kesaksiannya. Sesungguhnya yang terwujud adanya, hanya menerima anugrah semata-mata dan hanya itulah yang dapat dilaksanakan. Kalau kamu tetap berusaha agar abadi berkumpulnya diri dekat Tuhan, maka senantiasalah menghadapi tiga musuh yang sangat kejam, besar dan tinggi hati (bohong). Ketiga musuhmu saling kerjasama, padahal si putih tanpa teman, hanya sendirian saja, makanya sering dapat dikalahkan. Kalau sekiranya dapat mengatasi akan segala kesukaran yang timbul dari tiga penghala itu, maka terjadilah persatuan erat wujud, tanpa berpedoman itu semua tidak akan terjadi persatuan erat antara manusia dan Penciptanya”. Syekh Malaya sudah memahaminya, dengan semangat mulai berusaha disertai tekad membaja demi mendapatkan pedoman akhir kehidupan, demi kesempurnaan dekatnya dengan Allah SWT. Kanjeng Nabi Khidir kembali melanjutkan wejanganya, “Setelah hilang empat macam warna ada hal lain lagi nyala satu delapan warnanya”. Syekh Malaya berkata, “Apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah yang dimaksud sebenarnya? Nyalanya semakin jelas nyata, ada yang tampak berubah-ubah warna menyambar-nyambar, ada yang seperti permata yang berkilau tajam sinarnya”. Sang Kanjeng Nabi Khidir berpesan, “Nah, itulah sesungguhnya tunggal. Pada dirmu sendiri sudah tercakup makna di dalamnya, rahasianya terdapat pada dirimu juga, serta seluruh isi bumi tergambar pada tubuhmu dan juga seluruh alam semesta. Dunia kecil tidak jauh berbeda. Ringkasnya, utara, barat, selatan, timur, atas serta bawah. Juga warna hitam, merah, kuning dan putih itulah isi kehidupan dunia. Didunia kecil dan alam semesta, dapat dikatakan semua isinya. Kalau ditimbang dengan yang ada dalam dirimu dalam dirimu ini, kalau hilang warna yang ada, dunia kelihatan kosong kesulitannya tidak ada, dikumpulkan kepada wujud rupa yang satu, tidak lelaki tidak pula perempuan. Sama pula dengan bentuk yang ada ini, yang bila dilihat berubah-ubah putih. Camkanlah dengan cermat semua itu”. Syekh Malaya mengamati, “yang seperti cahaya berganti-ganti kuning, cahayanya terang benderang memancar, melingkar mirip pelangi, apakah itu yang dimaksudkan wujud dari Dzat yang dicari dan didambakan? Yang merupakan hakikat wujud sejati?” Kanjeng Nabi Khidir menjawab dengan lemah lembut, “itu bukan yang kau dambakan, yang dapat menguasai segala keaadaan. Yang kamu dambakan tidak dapat kamu lihat, tiada bentuk apalagi berwarna, tidak berwujud garis, tidak dapat ditangkap mata, juga tidak bertempat tinggal hanya dapat dirasakan oleh orang yang awas mata hatinya, hanya berupa pengambaran-pengambaran (simbol) yang memenuhi jagad raya, dipegang tidak dapat. Bila itu yang kamu lihat, yang nampak seperti berubah-ubah putih, yang terang benderang sinarnya, memancarkan sinar yang menyala-nyala. Sang Permana itulah sebutannya. Hidupnya ada pada dirimu. Permana itu menyatu pada dirmu sendiri, tetapi tidak merasakan suka dan duka, tempat tinggalnya pada ragamu. Tidak ikut suka dan duka, juga tidak ikut sakit dan menderita jika Sang Permana meninggalkan tempatnya, raga menjadi tak berdaya dan pastilah lemahlah seluruh badanmu, sebab itulah letak kekuatannya, ikut merasakan kehidupan, yang mengerti rahasia di dunia. Dan itulah yang sedang mengenai pada dirimu, seperti diibaratkan pula pada hewan, yang tumbuh di sekitar raga. Hidupnya karena adanya Permana, dihidupi oleh nyawa yang mempunyai kelebihan, mengusai seluruh badan. Permana itu bila mati ikut menggung, namun bila telah hilang nyawanya kemudian yang hidup hanya sukma atau nyawa yang ada. Kehilangan itulah yang didapatkan, kehidupan nyawalah yang sesungguhnya, yang sudah berlalu diibaratkan seperti rasanya pohon yang tidak berbuah, sang Permana yang mengetahui dengan sadar, sesungguhnya satu asal. Menjawablah Syekh Malaya, “Kalau begitu manakah warna bentuk sebenarnya?” kanjeng Nabi Khidir berkata, “Hal itu tidak dapat kamu pahami di dalam keadaan nyata semata-mata, tidak semudah itu untuk mendapatkannya”, Syekh Malaya menyela pembicaraan< “Saya mohon pelajaran lagi, sampai saya paham betul, sampai putus. Saya menyerahkan hidup dan mati, demi mengharapkan tujuan yang pasti, jangan sampai tanpa hasil”. Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut dan manis yang isinya bercampur perlambang dan sindiran, “Misalnya ada orang membicarakan sesuatu hal, lotnya seharusnya baik, nyatanya lotnya justru merupakan bumbunya yang bercampur dengan rahasia yang terasa sebagai jiwa suci. Nubuwah yang penuh rahasia itu sebenarnya rahasia ini. Yaitu ketika masih berada di sifat jamal ialah jauhar awal. Bila sudah keluar menjadi jauhar akhir yang sudah dewasa, yang awal itulah rahasia sejati. Si jauhar akhir itu ternyata dalam satu wujud, satu mati dan satu hidup dengan jauhar, ketika dalam kesatuan satu wujud, satu raksa, satu hidup menyatu dalam keadaan sehidup-semati. Segala ulah jauhar akhir selamanya bersikap pasrah, sedangkan jauhar batin ini ialah yang dipuji dan disembah hanyalah Allah yang sejati. Tidak ada sama sekali rasa sakit karena sebenarnya kamu ini nukad ghaib. Nukad ghaib ialah ketika di masa awal atau kuna, ia tidak hidup juga tidak mati. Sebenarnya yang dikatakan nukad itu, tidak lain ghaib jugalah namanya itu. Setelah datangnya nukad itu, yang sudah hidup sejak dulu, dicipta menjadi Alif. Alif itu sendiri jisim latif. Dan keberadaanmu yang sebenarnya itulah yang disebut atau dinamakan neqdu”. Sambil menghela nafas Kanjeng Nabi Khidir berkata pelan, “Sekarang jauhar sejati, yaitu namamu itu semasa hidup ialah syahadat jati. Dalam hidup dan kehidupanmu disebut juga darah hidup. Darah hidup itu sendiri ialah yang dinamakan Rasulullah rasa sejati. Syahadat jati adalah darah, tempat segala Dzat atau makhluk merasakan rasa yang sebenarnya tentang hidup dan kehidupan. Yang sama dengan satuan Jibril-Muhammad-Allah. Sedangkan keempatnya adalah yang disebut darah hidup. Jelasnya coba perhatikan orang mati! Apa darahnya? Darah itu kini hilang, hilangnya bersama atau menyatu dengan sukma. Sukma atau ruh hilang dan kembali pada Alif itu disebut Ruh Idhafi. Pengertian jisim Latif ialah Jisim Angling yang sudah ada terdahulu kala yaitu Alif yang disebut Angling. Padahal alif itu tanpa mata, tidak berkata-kata dan tidak mendengar, tanpa perilaku dan tidak melihat. Dan itulah Alif, yang artinya, menjadi Alif itu karena dijabarkan atau dikembangkang. Bukankah ruh Idhafi itu bagian Dzatullah”?. Setelah mengajarkan semua pelajaran sampai selesai, tentang Ruh Idhafi yang menjadi inti pembahasannya. Kanjeng Nabi Khidir berkata, “Adapun wujud sesungguhnya alif itu, asal muasalnya berasal dari jauhar alif itu. Yang dinamakan Kalam Karsa. Timbullah hasrat kehendak Allah untuk menjadikan terwujudnya dirimu. Dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya. Allah tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri! Adapu sifat jamal (sifat yang bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan bahwa pada dasarnya adanya dirinya itu, karena adanya yang mewujudkan keberadannya”. Kanjeng Nabi Khidir menandaskan penjelsannya, “Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi kekasih-Nya, bunyi firman-Nya sebagai berikut : kalau tidak ada dirimu, Saya (Allah) tidak akan dikenal atau disebut. Hanya dengan sebab adanya kamulah yang menyebut akan keberadaan-Ku. Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya Aku (Allah), menjadikan ada dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya wujud Dzat-Ku. Dan untuk menjelaskan jati dirmu, tidakkah kau sadari, bahwa hampir ada persamaan Asma-Ku yang baik (Asmaul Husna) dengan sebutan manusia yang baik itu semua kau maksudkan untuk memudahkan pengambaran perwujudan tentang Diri-Ku. Padahal kau tahu, Aku berada dengan dirimu, yang tak mungkin dapat disamakan satu sama lain. Dan kamu pasti mengalami dan tidak mungkin dapat melukiskan atau menyebutkan Asma-Ku dengan setepat-tepatnya. Namamu yang baik dapat menyerupai nama-Ku yang baik (Asmaul Husna)”. Selanjutnya Kanjeng Nabi Khidir bertanya, “Apakah kamu sudah dapat meraih sebutan nama yang baik itu? Baik di dunia maupun di akhirat? Kamu ini merupakan penerus atau pewaris Muhammad Rasulullah, sekaligus Nabi Allah. Ya Illahi, ya Allah ya Tuhanku……”. Kanjeng Nabi Khidir mengakhiri pembacaan Firman Allah SWT, kemudian melanjutkan memberi penjelasan pada Sunan Kalijaga, “Tanda-tanda adanya Allah itu, ada pada dirimu sendiri harap direnungkan dan diingat betul. Asal mula Alif itu akan menjadikan dirimu bersusah-payah selagi hidup, Budi Jati sebutannya. Yang tidak terasa, menimbulkan budi atau usaha untuk mengatasi lika-liku kehidupan. Bagi orang yang senang membicarakan dan memuji dirinya sendiri, akan dapat melemahkan semangat usahanya, antara tidak dan ya, penuh dengan kebimbangan. Sedang yang dimaksudkan dengan jauhar budi (mutiara budi) ialah, bila sudah mengetahui maksud dan budi iman yaitu menjalankan segala tingkah laku dengan didasari keimanan kepada Allah. Alif tercipka karena sudah menjadi ketentuan yang sudah digariskan. Sesungguhnya Alif itu, tetap kelihatan apa adanya dan tidak dapat berubah. Itulah yang disebur Alif. Adapun bila terjadi perubahan, itulah yang disebut Alif Adi, yang menyesuaikan diri dengan keadaanmu Mutiara awal kehidupan (jauhar awal) dimaksudkan dengan kehidupan tempo dulu yang betul-betul terjadisebagaimana tinja junub dan jinabat. Jauhar awal ibarat bebauan atau aroma akan tiba saatnya, tidak boleh tidak akan kita laksanakan dan rasakan di dalam kehidupan kita didunia. Jelasnya, kehidupan yang telah digariskan sebelumnya oleh jauhar itu, telah memuat garis hidup dan mati kita. Segalanya telah ditentukan di dalam jauhar awal. Dari keterangan tentang jauhar awal tadi, tentu akan menimbulkan pertanyaan, diantaranya, mengapa kamu wajib shalat di dalam dunia ini? Penjelasannya demikian : Asal mula diwajibkan menjalankan shalat itu ialah disesuaikan dengan ketentuan di zaman azali, kegaiban yang kau rasakan, bukankah juga berdiri tegak, bersidakep mencipkatakan keheningan hati, bersidekep menyatukan konsentrasi, menyatukan segala gerakmu? Ucapanmu juga kau satukan, akhirnya kau rukuk tunduk kepada yang menciptakanmu. Merasa sedih karena malu, sehingga menimbulkan keluar air matamu yang jernih, sehingga tenanglah segala kehidupan ruhmu. Rahasia iman dapat kau resapi. Setelah merasakan semua itu, mengapa harus sujud ke bumi? Pangkal mula dikerjakan sujud bermula adanya cahaya yang memberi pertanda pentingnya sujud. Yaitu merasa berhadapan dengan wujud Allah, biarpun tidak dapat melihat Allah sesungguhnya, dan yakin bahwa Allah melihat segala gerak kita (pelajaran tentang ikhsan). Dengan adanya agama Islam yang dimaksudkan, agar makhluk yang ada di bumi dan di langit termasuk dirimu itu, beribadah sujud kepada Allah dengan hati yang ikhlas sampai kepala diletakkan di muka bumi, sehingga bumi dengan segala keindahannya tidak tampak dihadapanmu, hatimu hanya ingat Allah semata-mata. Ya demikianlah seharusnya perasaanmu, senantiasa merasa sujud dimuka bumi ini. Mengapa pula menjalankan duduk diam seakan-akan menunggu sesuatu? Melambungkan pengosongan diri dengan harapan ketemu Allah. Padahal sebenarnya itu tidak dapat mempertemukan dengan Allah. Allah yang kau sembah itu betul-betul ada. Dan hanya Allah-lah tempat kamu mengabdikan diri dengan sesungguhnya. Dan janganlah sekali-kali dirimu menganggap sebagai Allah. Dan dirimu jangan pula menganggap sebagai Nabi Muhammad. Untuk menemukan rahasia (rahsa) yang sebenarnya herus jeli, sebab antara rahasia yang satu berbeda dengan rahasia yang lain. Dari Allah-lah Nabi Muhammad mengetahui segala rahasia yang tersembunyi. Nabi Muhammad sebagai makhluk yang dimuliakan Allah. Beliu sering menjalankan puasa. Dan akan dimuliakan makhluk-Nya, kalau mau mengeluarkan shodagoh. Dimuliakan makhluk-Nya bagi yang dapat naik haji. Dan makhluk-Nya akan dimuliakan, kalau melakukan ibadah shalat”. MUTIARA ILMU MAKRIFAT (Bagian 05) Kanjeng Nabi Khidir berhenti sejenak, lalu berkata “matahari berbeda dengan bulan, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkannya. Sudahkah hidayah iman terasa dalam dirimu? Tauhid adalah pengetahuan penting untuk menyembah pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya ru’yat (melihat dengan mata telanjang) sebagai saksi adanya yang terlihat dengan nyata. Maka dari itu kita dalami sifat dari Allah, sifat Allah yang sesungguhnya, Yang Asli, asli dari Allah. Sesungguhnya Allah itu, allah yang hidup. Segala afalnya (perbuatanya) adalah berasal dari Allah. Itulah yang dimaksud dengan ru’yati. Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khairat (kebajikan hidup). Makrifat itu hanya ada di dunia. Jauhar awal khairat (mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan. Untuk itu secara tidak langsung sudah kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang sempurna). Insan Kamil (manusia yang sempurna) berasal dari Dzatullah (Dzatnya Allah). Sesungguhnya ketentuan ghaib yang tersurat, adalah kehendak Dzat yang sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat Allah. Dinamakan Insan Kamil kalau mengetahui keberadaan Allah itu. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuked ghaib insan kamil, itu bukan berarti tidak tersurat. Ya, itulah yang dinamakan puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan kehidupan nyawamu semakin baik. Serta badannya, akan disebut badan Muhammad, yang mendapat kesempurnaan hidup”. Syekh Malaya berkata lemah lembut, “mengapa sampai ada orang mati yang dimasukkan neraka? Mohon penjelasan yang sebenarnya”. Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan tersenyum manis, “Wahai Malaya! Maksudnya begini. Neraka jasmani juga berada di dalam dirimu sendiri, dan yang diperuntukkan bagi siapa saya yang belum mengenal dan meniru laku Nabiyullah. Hanya ruh yang tidak mati. Hidupnya ruh jasmani itu sama dengan sifat hewan, maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Juga yang mengikuti bujuk rayu iblis, atau yang mengikuti nafsu yang merajalela seenaknya tanpa terkendali, tidak mengikuti petunjuk Gusti Allah SWT. Mengandalkan ilmu saja, tanpa memperdulikan sesama manusia keturunan Nabi Adam, itu disebut iman tadlot. Ketahuilah bahwa umat manusia itu termasuk badan jasmanimu. Pengetahuan tanpa guru itu, ibarat orang menyembah tanpa mengetahui yang disembah. Dapat menjadi kafir tanpa diketahui, karena yang disembah kayu dan batu, tidak mengerti apa hukumnya, itulah kafir yang bakal masuk neraka jahanam. Adapun yang dimaksudkan Rud Idhafi adalah sesuatu yang kelak tetap kekal sampai akhir nanti kiamat dan tetap berbentuk ruh yang berasal dari ruh Allah. Yang dimaksud dengan cahaya adalah yang memancar terang serta tidak berwarna, yang senantiasa menerangi hati penuh kewaspadaan yang selalu mawas diri atau introspeksi mencari kekurangan diri sendiri serta mempersiapkan akhir kematian nanti. Merasa sebagai anak Adam yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan. Ruh Idhafi sudah ada sebelum tercipta. Syirik itu dapat terjadi, tergantung saat menerima sesuatu yang ada, itulah yang disebut Jauhar Ning. keenamnya jauhar awal. Jauhar awal adalah mutiara ibaratnya. Mutiara yang indah penghias raga agar nampak menarik. Mutiara akan tampak indah menawan. Bermula dari ibarat ketujuh, dikala mendengarkan sabda Allah, maka Ruh Idhafi akan menyesuaikan, yang terdapat di dalam Dzat Allah Yang Mutlak. Ruh serba psrah kepada Dzatullah, itullah yang dimaksudkan Ruh Idhafi. Jauhar awal itu pula, yang menimbulkan Shalat Daim. Shalat Daim tidak perlu mengunakan air wudhu, untuk membersihkan khadas tidak disyaratkan. Itulah shalat batin yang sebenarnya, diperbolehkan makan tidur syahwat maupun buang kotoran. Demikianlah tadi cara shalat Daim. Perbuatan itu termasuk hal terpuji, yang sekaligus merupakan perwujudan syukur kepada Allah. Jauhar tadi bersatu padu menghilangkan sesuatu yang menutupi atau mempersulit mengetahui keberadaan Allah Yang Terpilih. Adanya itu menujukkan adanya Allah, yang mustahil kalau tidak berwujud sebelumnya. Kehidupan itu seperti layar dengan wayangnya, sedang wayang itu tidak tahu warna dirinya. Akibat junub sudah bersatu erat tetap bersih badan jisimmu. Adapun Muhammad badan Allah. Nama Muhammad tidak pernah pisah dengan nama Allah. Bukakah hidayah itu perlu diyakini? Sebagai pengganti Allah? Dapat pula disebut utusan Allah. Nabi Muhammad juga termasuk badan mukmin atau orang yang beriman. Ruh mukmin identik pula dengan Ruh Idhafi dalam keyakinanmu. Disebut iman maksum, kalau sudah mendapat ketetapan sebagai panutan jati. Bukankah demikian itu pengetahuanmu? Kalau tidak hidup begitu, berarti itu sama dengan hewan yang tidak tahu adanya sesuatu di masa yang telah lewat. Kelak, karena tidak mengetahui ke-Islaman, maka matinya tersesat, kufur serta kafir badannya. Namun bagi yang telah mendapatkan pelajaran ini, segala permasalahan dipahami lebih seksama baru dikerjakan, Allah itu tidak berjumlah tiga. Yang menjadi suri tauladan adalah Nabi Muhammad. Bukankah sebenarnya orang kufur itu, mengingkari empat masalah prinsip. Di antaranya bingung karena tiada pedoman manusia yang dapat diteladani. Kekafiran mendekatkan pada kufur kafir. Fakhir dekat dengan kafir. Sebabnya karena kafir itu, buta dan tuli tidak mengerti tentang surga dan neraka. Fakhir tidak akan mendekatkan pada Tuhan. Tidak mungkin terwujud pendekatan ini, tidak menyembah dan memuji, karena kekafirannya. Seperti itulah kalau fakhir terhadap Dzatullah. Dan sesungguhnya Gusti Allah, mematikan kefakhiran manusia, kepastiannya ada di tangan Allah semata-mata. Adapun wujud Dzatullah itu, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui kecuali Allah sendiri. Ruh Idhafi menimbulkan iman. Ruh Idhafi berasal dari Allah Yang Maha Esa, itulah yang disebut iman tauhid. Meyakini adanya Allah juga adanya Muhammad sebagai Rasulullah. Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan Yang Terpilih. Menyatu dengan Gusti Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus menyatu bahwa Gusti Allah itu ada dalam dirimu. Ruh Idhafi ada di dalam dirimu. Makrifat itu sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat, hidup tunggal didalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan Pilihan. Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal tidak akan terjadi padamu, jangan takut menghadapi sakaratil maut. Jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh Idhafi tidak akan mati. Hidup mati, mati hidup. Akuilah sedalam-dalamnya bahwa keberadaanmu itu, terjadi karena Allah itu hidup dan menghidupi dirimu, dan menghidupi segala yang hidup. Sastra Alif (huruf alif) harus dimintakan penjelasannya pada guru. Jabar jer-nya pun harus berani susah payah mendalaminya. Terlebih lagi pengetahuan tentang kafir dan syirik! Sesungguhnya semua itu, tidak dapat dijelaskan dengan tepat maksud sesungguhnya. Orang yang menjelaskan syariat itu berarti sudah mendapatkan anugrah sifat Gusti Allah. Sebagai sarana pengabdian hamba kepada Gusti Allah. Yang menjalankan shalat sesungguhnya raga. Raga yang shalat itu terdorong oleh adanya iman yang hidup pada diri orang yang menjalankannya. Seandainya nyawa tidak hidup, maka Lam Tamsyur (maka tidak akan menolong) semua perbuatan yang dijalankan. Secara yang tersurat, shalat itu adalah perbuatan dan kehendak orang yang menjalankan, namun sebenarnya Allah-lah yang berkehendak atas hambanya. Itulah hakikat dari Tuhan penciptanya. Ruh Idhafi berada di tangan orang mukmin. Semua ruh berada di tangan-Nya. Yaitu terdapat pada Ruh Idhafi. Ruh Idhafi adalah sifat jamal (sifat yang bagus atau indah) keindahan yang berasal Dzatullah. Ruh Idhafi nama sebuah tingkatan (maqom), yang tersimpan pada diri utusan Allah (Rasulullah). Syarat jisim lathif (jasad halus itu, harus tetap hidup dan tidak boleh mati. Cahayanya berasal dari ruh itu, yang terus menerus meliputi jasad. Yang mengisayaratkan sifat jalal (sifat yang perkasa) dan sekaligus mengisyaratkat adanya sifat jamal (sifat keindahan). Jauhar awal mayit (mutiara awal kematian) itu, memberi isyarat hilangnya diri ini. Setelah semua menemui kematian di dunia, maka akan berganti hidup di akherat. Kurang lebih tiga hari perubahan hidup itu pasti terjadi. Asal mula manusia terlahir, dari adanya Ayah, Ibu serta Tuhan Yang Maha Pencipta. Satu kelahiran berasal dari tiga asal lahir. Ya, itulah isyarat dari tiga hari. Setelah dititipkan selama tujuh hari, maka dikembalikan kepada yang meninipkan (yang memberi amanat). Titipan itu harus seperti sedia kala. Bukankah tauhid itu sebagai sarana untuk makrifat? Titipan yang ketiga puluh hari, itu juga termasuk juga titipan, yang ada hanya kemiripan dengan yang tujuh hari. Kalau menangis mengeluarkan air mata karena menyesali sewaktu masih hidup. Seperti teringat semasa kehidupan itu berasal dari Nur. Yang mana cahayanya mewujudkan dirimu. Hal itulah yang menimbulkan kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan. Tak terkecuali siapun yang merasakan itu semua, sebagaimana kamu mati, saya merasa kehilangan. Mati atau hilang bertepatan hari kematian yang keempat puluh hari. Bagaimanakah yang lebih tepat untuk melukiskan persamaan sesama makhluk hidup secara keseluruhannya? Allah dan Muhammad semuannya berjumlah satu. Seratuspun dapat dilukiskan seperti satu bentuk, seperti diibaratkan dengan adanya cahaya yang bersember dari cahaya Muhammad yang sesungguhnya. Sama hal pada saat kamu memohon sesuatu. Ruh jasad hilang di dalamnya, kehadirat Tuhan Yang Maha Pemberi. Tepat pada hari keseribu, tidak ada yang tertinggal. Kembalinya pada allah sudah dalam keaadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama dalam keadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama diciptakan”. Syekh Malaya terang hatinya, mendengarkan pelajaran yang baru diterima dari gurunya Syekh Mahyuningrat Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya senang hatinya sehingga beliu belum mau keluar dari dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya menghaturkan sembah, sambil berkata manis seperti gula madu. “Kalau begitu hamba tidak mau keluar dari raga dalam tuan. Lebih nyaman di sini saja yang bebas dari sengsara derita, tiada selera makan tidur, tidak merasa ngantuk dan lapar, tidak harus bersusah payah dan bebas dari rasa pegal dan nyeri. Yang terasa hanyalah rasa nikmat dan manfaat”. Kanjeng Nabi Khidir memperingatkan, “yang demikian tidak boleh kalau tanpa kematian”. Kanjeng Nabi Khidir semakin iba kepada pemohon yang meruntuhkan hatinya. Kata Kanjeng nabi Khidir, “kalau begitu yang awas sajalah terhadap hambatan upaya. Jangan sampai kau kembali. Memohonlah yang benar dan waspada. Anggaplah kalau sudah kau kuasai, jangan hanya digunakan dengan dasar bila ingat saja, karena hal itu sebagai rahasia Allah. Tidak diperkenankan mengobrol kepada sesama manusia, kalau tanpa seizin-Nya! Sekiranya akan ada yang mempersolakan, memperbincangkan masalah ini! Jangan sampai terlanjur! Jangan sampai membanggakan diri! Jangan peduli terhadap gangguan, cobaan hidup! Tapi justru terimalah dengan sabar! Cobaan hidup yang menuju kematian, ditimbulkan akibat buah pikir. Bentuk yang sebenarnya ialah tersimpan rapat di dalam jagadmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanya tentang adanya itu. Bukankah sudah berada di tubuh? Sungguh, bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan! Kemudian tidak pernah memberitahunakan darimana asalnya dulu. Yang menyatu dalam gerak perputaran bawana. Bukankah berita sebenarnya sudah ada padamu? Cara mendengarnya adalah denga ruh sejati, tidak menggunakan telinga. Cara melatihnya, juga tanpa dengan mata. Adpun telingannya, matanya yang diberikan oleh allah. Ada padamu itu. Secara batinnya ada pada sukma itu sendiri. Memang demikianlah penerapannya. Ibarat seperti batang pohon yang dibakar, pasti ada asap apinya, menyatu dengan batang pohonnya. Ibarat air dengan alunnya. Seperti minyak dengan susu, tubuhnya dikuasai gerak dan kata hati. Demikian pun dengan Hyang Sukma, sekiranya kita mengetahui wajah hamba Tuhan dan sukma yang kita kehendaki ada, diberitahu akan tempatnya seperti wayang ragamu itu. Karena datanglah segala gerak wayang. Sedangkan panggungnya jagad. Bentuk wayang adalah sebagai bentuk badan atau raga. Bergerak bila digerakkan. Segala-galanya tanpa kelihatan jelas, perbuatan dengan ucapan. Yang berhak menentukan semuanya, tidak tampak wajahnya. Kehendak justru tanpa wujud dalam bentuknya. Karena sudah ada pada dirimu. Permisalan yang jelas ketika berhias. Yang berkaca itu Hyang Sukma, adapun bayangan dalam kaca itu ialah dia yang bernama manusia sesungguhnya, terbentuk di dalam kaca. Lebih besar lagi pengetahuan tentang kematian ini dibandingkan dengan kesirnaan jagad raya, karena lebih lembut seperti lembut nya air. Bukankah lebih lembut kematian manusia ini? Artinya lembut kesirnaan manusia? Artinya lebih dari, karena menentukan segalanya. Sekali lagi artinya lembut ialah sangat kecilnya. Dapat mengenai yang kasar dan yang kecil. Mencakup semua yang merangkak, melata tiada bedanya, benar-benar serba lebih. Lebih pula dalam menerima perintah dan tidak boleh mengandalkan pada ajaran dan pengetahuan. Karena itu bersungguh-sungguhlah menguasainya. Pahamilah liku-liku solah tingkah kehidupan manusia! Ajaran itu sebagai ibarat benih sedangkan yang diajari ibarat lahan. Misal kacang dan kedelai. Yang disebar di atas batu. Kalau batunya tanpa tanah pada saat kehujanan dan kepanasan, pasti tidak tidak akan tumbuh. Tapi bila kau bijaksana, melihatmu musnahkanlah pada matamu! Jadikanlah penglihatanmu sukma dan rasa. Demikian pula wujudmu, suaramu. Serahkan kembali kepada yang Empunya suara! Justru kau hanya mengakui saja sebagai pemiliknya. Sebenarnya hanya mengatas namai saja. Maka dari itu kau jangan memiliki kebiasaan yang menyimpang, kecuali hanya kepada Hyang Agung. Dengan demikian kau Hangraga Sukma. Yaitu kata hatimu sudah bulat menyatu dengan kawula Gusti. Bicarakanlah manurut pendapatmu! Bila pendapatmu benar-benar meyakinkan, bila masih merasakan sakit dan was-was, berarti kejangkitan bimbang yang sebenarnya. Bila sudah menyatu dalam satu wujud. Apa kata hatimu dan apa yang kau rasakan. Apa yang kau pikir terwujud ada. Yang kau cita-citakan tercapai. Berarti sudah benar untukmu. Sebagai upah atas kesanggupanmu sebagai khalifah di dunia. Bila sudah memahami dan menguasai amalan dan ilmu ini, hendaknya semakin cermat dan teliti atas berbagai masalah. Masalah itu satu tempat dengan pengaruhnya. Sebagai ibaratnya sekejap pun tak boleh lupa. Lahiriah kau landasilah dengan pengetahuan empat hal. Semuanya tanggapilah secara sama. Sedangkan kelimanya adalah dapat tersimpan dengan baik, berguna dimana saja! Artinya mati di dalam hidup. Atau sama dengan hidup di dalam mati. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sukma, sukma muksa. Jelasnya mengalami kematian! Syekh Malaya, terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan senang hatimu! Anugrah berupa wahyu akan datang kepadamu. Seperti bulan yang diterangi cahaya temaram. Bukankah turunnya wahyu meninggalkan kotoran? Bersih bening, hilang kotorannya”. Kemudian Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lembut dan tersenyum. “Tak ada yang dituju, semua sudah tercakup haknya. Tidak ada yang diharapkan dengan keprawiraan, kesaktian semuanya sudah berlalu. Toh semuanya itu alat peperangan”. Habislah sudah wejangan Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya merasa sungkan sekali di dalam hati. Mawas diri ke dalam dirinya sendiri. Kehendak hati rasanya sudah mendapat petunjuk yang cukup. Rasa batinya menjelajah jagad raya tanpa sayap. Keseluruh jagad raya, jasadnya sudah terkendali. Menguasai hakekat semua ilmu. Misalnya bunga yang masih lama kuncup, sekarang sudah mekar berkembang dan baunya semerbak mewangi. Karena sudah mendapat san Pancaretna, kemudian Sunan Kalijaga disuruh keluar dari raga Kanjeng Nabi Khidir kembali ke alamnya semula”. Lalu Kanjeng Nabi Khidir berkata, “He, Malaya. Kau sudah diterima Hyang Sukma. Berhasil menyebarkan aroma Kasturi yang sebenarnya. Dan rasa yang memanaskan hatimu pun lenyap. Sudah menjelajahi seluruh permukaan bumi. Artinya godaan hati ialah rasa qonaah yang semakin dimantapkan. Ibarat memakai pakaian sutra yang indah. Selalu mawas diri. Semua tingkah laku yang halus. Diserapkan kedalam jiwa, dirawat seperti emas. Dihiasi dengan keselamatan, dan dipajang seperti permata, agar mengetahui akan kemauan berbagai tingkah laku manusia. Perhaluslah budi pekertimu atau akhlak ini! Warna hati kita yang sedang mekar baik, sering dinamakan Kasturi Jati. Sebagai pertanda bahwa kita tidak mudah goyah, terhadap gerak-gerik, sikap hati yang ingin menggapai sesuatu tanpa ilmu, ingin mendalami tentang ruh itu justru keliru. Lagi pula secara penataan, kita itu ibaratnya busana yang dipakai sebagai kerudung. Sedangkan yang ikat kepala sebagai sarungmu. Kemudian terlibat ingatan ketika dulu. Ibarat mendalami mati ketika berada di dalam rongga ragaku. Tampak oleh Sunan Kalijaga cahaya. Yang warnanya merah dan kuning itu, sebagai hambatan yang menghadang agar gagal usaha atau ikhtiar atau cita-citanya. Dan yang putih di tengah itulah yang sebenarnya harus diikuti. Kelimanya harus tetap diwaspadai. Kuasailah seketika jangan sampai lupa! Bisa dipercaya sifatnya. Berkat kesediaanku berbuat sebagai penyekat. Untuk alat pembebas sifat berbangga diri. Yang selalu didambakan siang dan malam. Bukankah aku banyak sekali melekat atau mengetahui caranya pemuka agama yang ternyata salah dalam penafsiran. Dan penyampaian keterangannya? Anggapannya sudah benar. Tak tahunya malah mematikan pengertian yang benar. Akibatnya terperosok dalam penerapannya. Ada pemuka agama yang ibaratnya menjadi murung. Ia hanya sekedar mencari tempat bertengger saja. Yaitu pada batang kayu yang baik rimbun, lebat buahnya, kuat batangnya. Untuk kemuliaan hidup baru. Ada orang yang berkedudukan, ada yang ikut orang kaya. Akhirnya di masyarakatkan. Ibaratnya seperti sekedar memperoleh kemuliaan sepele. Jadinya tersesat-sesat. Ada pula yang justru memiliki jalan terpaksa. Menumpuk kekayaan harta dan istri banyak. Ada pula yang memilih jalan menguasai putranya. Putra yang bakal menguasai hak asasi orang per orang. Semuanya ingin mendapatkan yang serba lebih di dalam memiliki jalan mereka. Kalau demikian halnya, menurut pendapatku, belumlah mereka disebut pemuka agama yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah, tapi masih berkeinginan pribadi atau berambisi. Agar semua itu menjunjung harkat dan martabat. Tatanan yang tidak pasti, belum bisa disebut manusia utama. Yang demikian itu menurut anggapannya dan perasaannya mendapatkan kebahagiaan, kekayaan dan mengerti hak yang benar. Bila kemudian tertimpa kedudukan, terlanjur terbiasa. Memilih jalan sembarang tempat, tanpa mengahasilkan jerih payahnya dan tanpa hasil. Dalam arti mengalami kegagalan total. Setidak-tidaknya menimbulkan kecurigaan. Apa kebiasaan ketika hidup didunia. Ketika menghadapi datangnya maut, disitulah biasanya tidak kuat menerima ajal. Merasa berat meninggalkan kehidupan dunia yang tersangkal lagi. Pokoknya masih lekat sekali pada kehidupan duniawi. Begitulah beratnya amencari kemuliaan. Tidak boleh lagi merasa terlekat kepada anak-istri. Pada saat-saat menghadap ajatnya. Bila salah menjawab pertanyaannya bumi, lebih baik jangan jadi manusia! Kalau matinya tanpa pertanggungjawaban. Bila kau sudah merasa hatimu benar. Akan hidup abadi tanpa hisab. Akibatnya, tubuh bumi itu keterdiamannya tidak membantu. Kesepiannya tidak mencair. Tidak mempedulikan pembicaraan orang lain yang ditujukan kepadanya. Yaitu bagaimana hilang dan mati bersama raganya ialah diidamkannya. Sehingga mempertinggi semedinya, untuk mengejar keberhasilan. Tapi sayang tanpa petunjuk Allah, apalagi hanya semedi semata. Tidak disertai dukungan ilmu. Bagikan

Senin, 13 Oktober 2014

KISAH SANG PEMUJA

KISAH SANG PEMUJA
YANG SETIA

Kisah ini merupakan kisah fiksi, yang bersumber dari kisah Nabi Ayub as. Namun, isi dari pada kisah ini merupakan hasil imajinasi dari penulis. Oleh karena itu, mohon untuk tidak di pertanyakan akan kebenaran dari kisah ini atau tidak dikait-kaitkan pada suatu agama tertentu 

Al kisah .....seorang hamba yang menjadi kekasih Tuhan. Tiada yang menyamai pada masanya, bagaimana ia selalu berdzikir lesan dan hatinya untuk mengingat kebesaran TuhanNya. Pada akhirnya, semua apa yang menjadi angan-angannya dapat terwujud dan menjadi nyata. Ia memiliki kekayaan yang berlimpah bahkan tiada yang dapat menyamai kekayaannya, ia memiliki ribuan hewan ternak, ia memilihi ribuan hektar lahan pertanian. Ia menjadi yang terkaya di seluruh negerinya, bahkan mungkin, ia telah  menjadi orang terkaya di bumi. Selain kekayaan materi, ia juga memiliki anak yang jumlahnya cukup banyak. Anak yang menjadi penyejuk jiwa, anak yang akan menjadi penerus dari cita-cita orang tua, anak-anak yang mampu mengusir sepi, anak-anak yang mampu memberikan kasih sayang, anak-anak yang dengan hanya melihatnya saja akan dapat menyembuhkan jiwa yang sakit, anak-anak yang bisa membangkitkan semangat untuk mengisi kehidupan. Ia bernama Ayub, putra dari Nabi Ishak yang namanya Abadi tertulis di semua kitab samawi. Di usianya yang sudah mencapai separuh dari kehidupannya. Ayub telah menjadi orang yang sukses, namun ia tak setitik pun merubahnya menjadi manusia yang congkak dan sombong. Ayub memulai segalanya dari nol, memulai bisnisnya dari beberapa ekor ternak dan mengerjakan lahan pertanian yang hanya sepetak saja. Namun, ia tak pernah berkeluh kesah, ia selalu berusaha untuk memeras keringatnya, dan ia percaya kebaikan TuhanNya. Dan saat yang ia nantikan pun tiba, semua keinginannya menjadi nyata. Dan ia selalu melantunkan nyanyian jiwa untuk memujaNya.
Ya Tuhan Yang baik dalam segala kehendaknya
Ya Tuhan yang Maha Pemberi Rizki kepada semua makhluknya
Yang Maha berbelas kasih kepada semua hambanya
Yang Maha Indah dalam setiap rencananya

Oh Tuhan....aku bersyukur padamu, atas setiap anugrah darimu
Oh Tuhan yang tidak pernah mengecewakan bagi setiap pemujamu
Oh Tuhan Yang maha berkuasa atas segala sesuatu                              
Oh Tuhan hanya engkaulah tempat aku mengadu......

Betapa besar anugrahMu......
Betapa sedikit amalku.......
Betapa banyak nikmatMu......
Betapa sedikit maluku........

Oh Tuhan.....setiap hembusan nafas adalah nikmat tak terkira
Keindahan ciptaanmu adalah keindahan yang tak terkira
MenganalMu adalah anugrah terindah
Kedekatan denganMu adalah kebahagian yang sesungguhnya

Oh Tuhan.....berawal dari tiada lalu menjadi ada
Berawal aku tak punya apa-apa
Yang kubisa hanya berdoa
Dan berikhtiar yang kubisa

Engkaupun tahu apa yang menjadi kemauanku
Akhirnya Engkaupun tak mengecewakan aku
Tercipta semua yang ada dalam anganku
Aku sadar inipun bagian dari ujianMu

Senang susah suka duka adalah beragam rasa
Semua manusia harus merasakannya
Semua ada massa (ukuran) dan waktunya
Semua akan tiba sebagai kenangan semata

Oh... Tuhan tetapkan hatiku         
Bagai karang yang bukan sekedar batu
Apapun yang terjadi Engkau tempat aku bersimpuh
Apapun yang terjadi Engkau selalu ada di hatiku

Tak peduli suka, kaya atapun menjadi raja dunia
Tak peduli duka lara, miskin papa bahkan budak tak berharga
Tetapkan hatiku hanya memujiMu
Hanya bersujud padaMu   

Segala puji bagimu Tuhan semesta Alam
          Setiap untaian nyanyian jiwa Ayub, menggetarkan kerajaan langit, para malaikat pun kagum dibuat oleh nyanyian jiwanya yang menggetarkan Arsy Tuhan. Akhirnya Tuhan pun memuji keshalihan Ayub sebagai pemuja terbaik pada masanya. Sungguh hal ini, membuat iblish tidak senang dan membuatnya gelisah seraya memutar otak. Bagaimana cara menguji keimanan Ayub. Ditengah kebingungan dan kegelisahan, akhirnya salah satu penasehat dari iblish berkata, “Hai Iblish, datanglah pada Tuhan, sampaikan pada Tuhan, jika Ayub tak layak mendapat predikat sebagai pemuja terbaik, karena Ayub merupakan pemuja di tengah berkelimpahan anugrah dari TuhanNya. Belum tentu, ketika semua nikmat berupa hartanya engkau musnahkan Ayub akan tetap menjadi pemuja yang setia”. “Benar penasehat”, sahut iblish. Dengan wajah yang berbinar, dengan disertai tawa yang membahana, dengan mengepalkan tangan sebagai pertanda penuh dengan keyakinan, iblish pun berkata, “Kali ini, Ayub pasti akan masuk dalam perangkapku, ia akan berubah menjadi hamba yang kufur, gelar sebagai pemuja yang setia akan berubah....ha..haaa.....haaaaa, dan lagi-lagi aku akan menjadi pemenangnya”. Lalu iblispun bersegera menghadap kepada Tuhan, sambil menghaturkan sembah, lalu berkata, “ Ampun Tuhan, saya sebagai penyeimbang dunia, kurang berkenan dengan gelar yang di berikan Tuhan kepada Ayub, karena menjadi pemuja di tengah berkelimpahan harta, anak yang banyak, istri yang shalehah adalah sangat mudah. Belum tentu Ayub, ketika engkau musnahkan seluruh hartanya, ia akan menjadi pemuja yang setia”. Lalu Tuhan menimpali, “lalu apa maumu wahai Iblis”. Iblis pun berkata, “berikanlah kuasaMu kepadaku untuk memusnahkan semua harta yang dimiliki oleh Ayub, niscaya engkau akan tahu, kalau Ayub tak pantas engkau beri gelar sebagai pemuja yang setia. Lalu Tuhan pun menjawab, “terjadilah apa yang engkau kehendaki wahai Iblish”. Iblish senang sekali permintaannya dikabulkan oleh Tuhan. Lalu iblish mohon diri untuk kembali kepada istananya.

          Tanpa disangka-sangka tiba-tiba bumi terbelah dan menenggelamkan semua hawan ternak milik Ayub, anehnya itu terjadi hanya menimpa semua hewan ternak milik Ayub. Dan tidak hanya itu,  semua lahan pertanian milik Ayub pun tiba-tiba terkena hama yang begitu dasyatnya, sampai tak ada satupun tanaman yang tersisa. Para pekerjanya dan semua anak-anaknya bergegas memberitahu Ayub. Dengan nafas yang terengah-engah salah satu dari anak Ayub berkata, “Wahai Ayah, telah terjadi yang aneh pada semua hewan ternak kita, dan tidak hanya itu semua lahan pertanian kita juga terserang hama yang begitu dasyatnya sampai tak ada satupun dari tanaman kita yang masih hidup. Ini...sungguh aneh, kenapa ini hanya menimpa kita ayah, kenapa yang lain tidak, apa maksud dari kejadian ini ayah,,,, apakah Tuhan sudah tak sayang dengan kita????ataukah kita melakukan kesalahan atau dosa yang sangat mengerikan???ataukah ini sebuah takdir ????ataukah ini sebuah karma?????........
          Ayub hanya tersenyum mendengar kata-kata anaknya, lalu Ayub berkata “Wahai anakku.........tenangkanlah pikiranmu........!!!coba engkau renungkan....apa semua hewan ternak itu milikmu..!!!!apa semua lahan pertanian ini juga milikmu!!!!!Apa semua harta yang engkau miliki juga milikmu...!!!!atau milik dari Ayah.....!!!!Apa yang bisa dijadikan dasar pemikiran kalau semua harta yang kita miliki adalah milik kita........???? Jangankan harta, bahkan jantungmu yang engkau kira itu milikmu,,,,,,tidak dapat engkau kendalikan detaknya. Bisakah kita mengklaim sesuatu sebagai milik kita,,,,lalu kita tidak bisa mengendalikannya??????......lalu apa definisi dari kata milik sebenarnya........????? lalu apa bisa kita memiliki sesuatu sedangkan diri kita nyata-nyata dimiliki olehNya...??????Engkau telah terikat oleh benda duniawi anakku......Engkau telah terjebak rasa memiliki.......engkau telah tertipu oleh pancainderamu.........rasa itu tak terasa sudah merasuki alam bawah sadarmu.........engkau tidak menyadari itu........itu sangatlah berbahaya bagi jiwa........itu penyebab manusia menjadi menderita..........ketika menderita ia akan dekat dengan rasa putus asa,,,,,,hanya pengetahuan yang dapat menyelamatkannya”
          Tiba-tiba suasana menjadi hening, semua anak-anak dan pekerja Ayub memasuki alam perenungan yang mendalam dan membuat kesadaran jiwa baru. Kesunyian itu tiba-tiba pecah begitu ada salah satu putra Ayub mengajukan pertanyaan, “Wahai ayah menyadari apa yang terjadi adalah sulit, namun yang tak kalah sulitnya adalah bagaimana cara menghadapi ini semua, sudah pasti kita tidak akan mampu membayar pekerja kita, sudah pasti kita kesulitan untuk memenuhi kebuTuhan makan sehari-hari, sudah barang tentu kita akan jatuh miskin seketika, sudah barang tentu kita tidak sanggup lagi membeli obat ketika kita sakit, sudah barang tentu kita tak memiliki uang untuk sekolah, sudah barang tentu kita akan hidup tak seperti biasa, hidup harus puas dengan segala yang ada, harus bisa menahan ejekan tetangga, harus siap menahan lapar ketika waktu makan tiba.
          “Betul sekali anakku,,,,,tidak cukup hanya menyadari apa yang telah terjadi, namun dengan menyadari apa yang telah terjadi maka kita akan jauh dengan kerisauan hati. Selanjutnya tiba saat ini kita menjadi pekerja, yang tadinya menjadi seorang tuan, kini kita harus mau jadi karyawan, yang tadinya kita adalah bos, sekarang kita harus mau menjadai pegawai yang tulus. Perubahan ini tentu, di masa awal tidak mudah. Tapi ingatlah wahai anakku.........Setiap kesenangan dan penderitaan memiliki massa (ukuran dan waktu. Dan setiap massa dan waktu mengikuti hukum relativitas. Tergantung dari pengetahuan dan kesadaran jiwa kita. Dan setiap kesenangan dan penderitaan akan bermuara menjadi kenangan. Ingatlah.......didunia ini yang memiliki kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Dan ingatlah ....apapun yang terjadi, Tuhan selalu bersama kita, Tuhan selalu menyertai kita dan Tuhan memelihara kita. Tuhan memiliki kehendak yang sangat baik bagi hambanya....ini adalah mutlak. Jika engkau tidak merasakan kehendak baiknya, maka berarti hatimu telah terhijab, hatimu telah buta dan tuli”, Kata Ayub menjawab pertanyaan putranya.
          Baiklah ayah kini ku mulai mengerti, setidaknya biar aku merasakan bagaimana menjadi pesuruh, karyawan, ataupun mejadi budak. Yang selama ini, tak pernah terbayang olehku. Kita harus tetap kuat, dan memperbanyak mengingatNya ketika kesedihan mulai merasuki hati kita. Hanya dengan mengingatNya, hati kita menjadi tentram.
          Melihat keteguhan hati Ayub dan putra-putranya, membuat takjub para malaikat di kerajaan langit. Tidak demikian dengan Iblish, melihat Ayub begitu teguh tak tergoyahkan, Iblish semakin tidak tenang, seolah tak percaya apa yang terjadi. “Mengapa Ayub begitu teguh......mengapa hatinya tak tergoyahkan........mengapa ia tak terpengaruh oleh penderitaan, Ayub harus bisa dikalahkan.....Ayub pasti akan terkalahkan......Aku tidak akan menyerah, karena ini akan berpengaruh ke masa depan, Iblish tak boleh kalah.......Aku akan menghadap kepada Tuhan, aku akan meminta kepada Tuhan untuk semua anaknya yang tersayang harus di lenyapkan, tidak cukup hanya hartanya saja menjadi sebuah ukuran, gelar sebagai pemuja yang setia harus tidak mudah, karena ini akan di kenang sepanjang masa.
          Tuhan....ma’afkanlah hamba, datang begitu tiba-tiba. Hamba sudah melihat keteguhan dan kehebatan dari hambamu yang terkasih yang engkau beri gelar sang pemuja yang setia. Namun Tuhan, anugrah dan gelar yang engkau berikan akan dikenang sepanjang masa tak cukup hanya kehilangan harta saja sebagai ukuran, apa kata dunia nantinya, bila begitu mudahnya mendapatkan gelar sang pemuja yang setia, kata Iblish meminta kepada Tuhannya. “Lalu apa maumu????, hai iblish” jawab Tuhan. Lalu iblish berkata, “Tuhan berikan kuasa padaku untuk melenyapkan semua anak-anak Ayub. Terjadilah sesuai kehendakmu hai Iblish..........Engkau akan melihat bagaimana hamba terkasihku memang layak di beri gelar sebagai sang pemuja yang setia......”kata Tuhan.
          Secara mengejutkan,,,,dalam hitungan detik, semua anak-anak Ayub mengalami rasa sakit pada jantungnya, dan kesulitas bernafas, sampai akhirnya semua adak-anak Ayub meninggal secara bersamaan dengan waktu yang sangat cepat. Dengan tergopoh-gopoh yang mengetahui itu, langsung memberitahu Ayub, “wahai Ayub, semoga engkau diberikan kesabaran mendengar berita ini..........Anakmu Ayub, ada apa dengan anakku, sahut Ayub. “Semua anakmu meninggal secara mendadak. “Ya Allah.......Semua adalah milikmu dan akan kembali kepadamu, kuatkan aku Ya Allah, saya yakin ini terjadi semua atas kehendakmu.
          Wahai suamiku,,,,,dosa apa yang telah kita lakukan, bukankah selama ini kita berusaha menjadi pemujanya yang setia, bukankah kita telah sabar dalam menghadapi kemiskinan ini,,,,,bukannya kita telah berusaha menjauh dari segala laranganNya, bukannya masih banya hamba yang lain yang lebih durjana tp mengapa tdk mengalami cobaan seperti yang kita alami....mengapa ini harus menerpa kita suamiku, bagaimana aku bisa melanjutkan kehidupan ini,,,,,,,bagaimana masa tuaku nanti.......bagaimana hidup tanpa penerus...........dengan disertai tangis yang histeris, menambah kesedihan yang cukup mendalam, terkadang istri dari Ayub tak sadarkan diri.............
          Akhirnya tiba jua, waktu pemakaman yang penuh haru, sesekali terlihat Ayub meneteskan air mata dan beberapa kali sang istri tak sadarkan diri. Setiap hari, mereka teringat bagaimana cerianya hidup dengan anak-anak mereka. Jangankan makhluk bumi, makhluq langitpun tak tega melihat keadaan Ayub. Seluruh alam seperti ikut merasakan duka yang cukup mendalam. Namun tidak demikian dengan yang terjadi di istana Iblish, “hahaha......kali ini hati Ayub pasti terguncang sebagaimana istrinya yang telah terguncang, sekarang akulah yang menjadi pemenangnya, kemenangan dari iblish dan sekutunya”.
          Ketika pemakaman telah usai, Ayub berusaha menenangkan hati istrinya,
Wahai istriku..........
Tenangkanlah hatimu dan janganlah engkau terperdaya
Kitalah yang salah, karena merasa memiliki
 Setiap anugrahnya tak kita sadari
Bahwa itu hanyalah titipan semata

Setiap manusia tidaklah sama
Memiliki tingkatanya yang berbeda-beda
Anugrahnya pun tak sama
Takdirnya pun tak mungkin sama
Antara satu dengan lainnya tang mungkin sama
Janganlah kita berburuk sangka
Karena semua ada maksud dan tujuanNya
Ingatlah kita juga berawal dari tiada

Atas kehendaknya menjadi ada
Berlahan-lahan bisa merasakan sbg manusia
Setiap massa selalu ada suka dan duka
Kita tak dapat menghindari dari keduanya

Wahai istriku,,,,,,,,
Kematian bukan berarti lenyap tak berbekas
Eksistensi manusia tidak lenyap dengan kematian
Kematian hanya pintu kedua memasuki kehidupan (selanjutnya)
Tidak ada gunanya ratapan

Yang membuat kita sedih
Bila kematiannya tak berarti
Kehidupannya tak bernilai
Tak tahu kemana setelah mati

Manusia pastilah akan mencari jalan kembali
Kepada haribaan sang Ilahi
Tak dapat di prediksi berapa lama akan kembali suci
Hanya kasih Tuhan yang akan merahmati
         
          Mendengar penjelasan sang suami yang begitu indah, sang istripun sudah mulai tenang, lalu istri Ayub berkata, “kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi suami, semua barang-barang yang kita miliki sudah terjual untuk menyambung hidup, saat ini kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk di jual. Ayub pun menjawab, “Sabar istriku, aku akan kembali bekerja sebagai buruh orang lain. Istri menyahut, “suamiku saat ini engkau sudah tidak muda lagi, dan engkau adalah bekas orang terkaya di negeri ini dan bahkan engkau adalah keturunan orang yang terpandang di negeri ini. Dengan menghirup nafas dalam-dalam, Ayub pun berkata, “Kemuliaan seseorang bukan terletak ia keturunan siapa, mengenai umur, aku akan mencari pekerjaan yang aku mampu, namun wajib bagiku menjadi tulang punggung dari keluarga ini, kemuliaanku sebagai seorang suami adalah mencari nafkah buat keluarga. Mengenai aku adalah bekas orang kaya, roda kehidupan selalu berputar, setiap manusia harus siap menjadi peran apa saja, apakah itu sebagai buruh atau sebagai bos. Justru ketika kita memainkan peran dalam peran yang berbeda, kita akan semakin menjadi manusia yang bijaksana. Karena merasakan apa yang orang lain rasakan. Aku tidak kaget dengan keadaan seperti ini, karena aku dulu berawal dari menjadi buruh. Tenangkalah hatimu istriku, kita lahir ke dunia tanpa apa-apa, kita meninggalkan dunia ini juga akan meninggalkan semua apa yang kita miliki. Hanyalah kebaikan hati yang menjadi teman abadi dalam mengarungi kehidupan setelah mati”.
          Kerajaan langit kembali dibuat takjub, dan tak henti-hentinya para malaikat memuji Ayub, bahkan ada beberapa malaikat yang menetaskan air mata. “Sungguh ini sebuah ujian terberat bagi seorang hamba, sungguh ini akan menjadi sebuah kisah di sepanjang masa, sungguh manusia layak mendapatkan derajat tertinggi di sisiNya”, kata malaikat. Kerajaan iblish kembali gaduh, kegaduhan ini disebabkan raja iblish yang sangat gelisah, berjalan mondar mandir sambil berteriak-teriak, “kumpulkan semua penasehatku dan para pembantuku, hai semua yang ada disini, tidak bisa kupercaya Ayub masih begitu tegarnya, semua usaha yang kita lakukan telah gagal, apakah saya harus menghadap Tuhan dengan kepala tertunduk dan harus mengakui ketinggian derajat yang dimiliki bangsa malaikat, bukankah kita ini dulunya adalah ciptaan yang paling dekat dengan Tuhan, mengapa kedekatan ini bisa dikalahkan oleh bangsa manusia. Sungguh ini membuat aku kecewa, sekarang aku minta semua yang hadir disini, untuk berfikir bagaimana bisa menjauhkan Ayub dari Tuhan. Lalu salah satu dari penasehat iblish berkata, “tidak ada cara lain, kecuali kita perberat ujiannya, kalau harta masih kuat, dengan anak juga masih kuat maka kita coba dengan kesehatannya. Sepanjang sejarah manusia belum ada yang lolos terhadap ujian ini”. Hah........sahut iblish seolah tak percaya. Jangankan manusia para malaikatpun tidak ada yang sanggup, apa Tuhan akan menyetujuinya?????. “tidak ada cara lain, engkau tahu sendiri, Ayub telah mencapai kesadaran spiritual yang tinggi yang belum pernah di capai oleh para leluhurnya. Engkau menyaksikan sendiri, ketika anak-anaknya wafat, dengan penuh kemantapan hati, ia membuka seluruh bajunya lalu bersujud kepada Tuhan dengan mengucapkan, “wahai Tuhan aku lahir dalam keadaan telanjang maka akupun akan kembali kepadamu dalam keadaan telanjang, ini menunjukkan kesadaran Ilahiah dari Ayub sudah cukup tinggi, kita di berikan kuasa ada batas waktunya. Tidak ada pilihan lagi, jika tidak memakai cara ini, lebih baik kita menyerah saja. Karena hasilnya pasti akan sama, Ayub sebagai pemenangnya”.
          “Baiklah  penasehat, aku akan segera menghadap Tuhan”, sahut iblish. Lalu dengan hanya kedipan mata, iblish pun sudah sampai menjumpai Tuhan. “Tuhan ......kami menyadari ujian kami yang kedua pun tidak dapat menggoyahkan hati Ayub, ia tetap menjadi sang pemuja yang setia”. Namun Tuhan....perkenankanlah hamba untuk dapat mengujinya sekali lagi, bila dengan ujian ini, Ayub tetap menjadi sang pemuja yang setia, maka aku akan mengakui kepantasan Ayub sebagai hambamu yang mendapatkan anugrah sebagai sang pemuja yang setia. Perkenankan hamba, untuk mengujinya dengan penyakit yang mengerikan, yang belum pernah dialami oleh manusia sebelumnya.        
          “Baiklah, kuasaku beserta kuasamu, terjadilah yang menjadi kehendakmu.......” , begitu kata Tuhan. Lalu dengan hati yang penuh kesenangan dan rasa percaya diri yang berlebihan, sambil mengepalkan tangan, sang iblish berkata, “kali ini Ayub pasti akan terguncang dan akan menjauh dari Tuhan”.         
          Ketika Ayub telah terlelap dalam buaian malam, karena seharian bekerja, hanyalah tidur yang mampu menyembuhkan keletihan yang amat sangat. Bahkan, malam itu, Ayub lupa tidak mensucikan diri, karena kantuk dan lelah yang amat sangat. Dan pada malam itu, Iblish pun turun dari langit meniupkan sesuatu ke dalam tubuh Ayub. Lalu hanya dalam hitungan detik, Ayub merasakan sekujurnya tubuh terasa gatal dan disertai panas. Ayub mengira dengan hanya di oles dengan ramuan tradisional maka penyakitnya akan hilang. Setelah ia selesai mengobati bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. Lalu ia bergegas mengambil wuduk dan melaksanakan sholat. Lalu dalam munajatnya Ayub berkata :
Ya Tuhan hanya engkaulah yang Maha baik dalam rencanaMu
Ya Tuhan Engkaulah yang berkuasa atas segala sesuatu
Ya Tuhan Engkaulah yang meliputi segala sesuatu       
Ya Tuhan hanya engkaulah sebaik-baik tempat mengadu          
 Ya Tuhan ...kasihmu tiada terkira           
Pujaku memang tak sempurna
Hatiku tak akan goyah
Sampai aku menutup mata
Hanya engkalah tempat aku berseru
Hanya engkaulah yang menjadi penghiburku
Hanya engkaulah yang menguatkan jiwaku
Hanya engkaulah yang dapat melindungku        
Hanya Engkau yang membelaku  
          Setiap cinta harus mau menanggung derita
          Setiap cinta harus dapat diuji secara nyata
          Setiap cinta tak hanya berkata-kata
          Setiap cinta selalu dapat menguatkan jiwa
Ditinggal harta tak membuat aku gentar
Ditinggal anak tak membuat aku bergetar
Amarahmu yang bikin aku gentar
Kebencianmu yang bikin aku berdebar (ketakutan)         
          Tuhan ....aku tak minta keadaanku pulih
          Tuhan....hanya kasihmu yang selalu aku nanti
          Biarlah semua manusia membenci
          Tapi cintamu yang selalu kunanti
Ampunilah aku sebagai pemuja
Yang senantiasa terperdaya oleh kenikmatasn sementara
Terkadang hamba berbuat salah    
Seringkali aku lalai sebagai kekasih         

          Selesai bermunajat, Ayub merasa tubuhnya terasa gatal yang amat sangat lalu ia menggaruknya, namun masih terasa gatal, akhirnya tanpa ia sadari ia telah melukai seluruh tubuhnya, dari bintik-bintik itu keluar darah segar. Sang istri yang melihat suaminya berlumuran darah dan mengeluarkan bau amis darah mencoba untuk mendekat dan berkata, “ Wahai suamiku, apa yang terjadi denganmu???kenapa sekujur tubuhmu mengeluarkan darah”. Saya masih memiliki beberapa potong pakaian, akan aku jual, untuk biaya berobat engkau, suamiku”. Jangan.....jangan istriku, jangan kau jual pakaianmu..!!! karena pakainmu tinggal dua potong saja. Lalu istrinya tak kuasa menahan tangisnya, sang istri menangis tersedu-sedu sambil meratap dan tak kuasa menahan beban berat yang ada di dadanya,
“Wahai Tuhan, cobaan apalagi yang menimpaku
Engkau tahu kemampuanku
Kenapa engkau senang akan airmataku
Kenapa semua ini harus menimpaku
Bukankah aku adalah pemujaMu
Bukankah suamiku adalah kekasihMu
Bukankah aku selalu mengikuti perintahMu
Bukankah aku tidak pernah mengecewakanMu
Ya Allah jika ini terjadi karena dosaku.....bukankah engkau maha pengasih
Ya Allah jika ini karena salahku....bukankah engkau Maha Pema’af
Ya Allah jika ini adalah karmaku ..bukankah engkau maha baik
Ya Allah jika ini adalah dosaku .....bukankah engkau maha pengampun          
          Oh.. Tuhan kini engkau tahu deritaku
          Satu-satunya harapanku telah telah tak berdaya  
          Ketika engkau ambil hartaku, aku masih berusaha bertahan
          Ketika engkau ambil anakku, sungguh jiwaku terguncang
          Kini, kau buat suamiku tak berdaya
Oh ...Tuhan, sungguh ini tak tertahankan
Mengapa tidak engkau ambil nyawaku
Biar aku terbebas dari sakit bak tertusuk sembilu
Oh....Tuhan bebaskan aku....(Menangis dengan histeris)
          Mendengar ratapan sang istri, Ayub pun mencoba menenangkan sang istri tersayang dengan berkata,
Wahai istriku ...janganlah engkau begitu
Berputus asa dengan pikiran tak menentu
Sadarilah wahai istriku......

Penderitaan yang kita alami hanya sesaat saja
 Mampukah engkau menghitung nikmatNya
Sejak dalam kandungan, rizkimu telah diatur olehNya
Engkau berada pada tempat yang kokoh

Lalu Tuhan, memberikan kasihnya melalui orang tuamu
Yang engkau lihat hanya orang tuamu
Engkau tak tahu, bahwa Tuhan yang sebenarnya mengasihimu
Namun, Tuhan tak pernah marah

Walau ia tak dilihat kebaikanNya oleh mu
Ia menumbuhkanmu, mengajarimu akan segala sesuatu
Semua tubuhmu merasakan akan berbagai macam rasa
Hatimu pun dapat merasakan segala rasa suka dan duka

Jika engkau sadari , antara sakit dan sehat masih banyak yang sehat
Antara suka dan duka masih banyak suka
Antara tawa dan sedih masih banyak tawa
Antara pahit dan manis masih banyak yang manis
Antara penderitaan dan kesenangan masih banyak kesenangan

Jangan karena penderitaan yang sesaat engkau menjadi sesat
Jangan hanya karena tangis engkau menjadi bengis
Jangan hanya pedih engkau menjadi tak tahu diri
Jangan hanya derita engkau menjadi durhaka
          Mendengar kata-kata suaminya, istri Ayub agak tenang, namun jauh dari kedalaman hati yang paling dalam, ia sangat tertekan, bahkan jiwanya terguncang. Dia sengaja tidak menampakkan itu pada Ayub. Beberapa hari kemudian, penyakit Ayub semakin parah, seluruh tubuhnya suda mulai mengeluarkan darah dan nanah yang mengeluarkan bau yang amat sangat menjijikan. Sang istri, sudah tak bisa bersabar lagi, kini sang istri sudah semakin mantab untuk meninggalkan suaminya, tanpa lagi memikirkan kondisi suaminya. Bahkan sang istri berkata dalam hati, “bukankah suamiku hamba yang taat, Tuhan pasti menjaganya”. Lalu sang istri pun pergi meninggalkan Ayub yang tergolek lemah.          
          Ayub memanggil-manggil istrinya, namun tak kinjung muncul di hadapannya. Akhirnya Ayub sadar bila, istrinya telah meninggalkannya. Sungguh Ayub merasa sedih sekali, jiwanya sudah mulai terguncang. Sakit di tubuhnya, sudah mulai menyebabkan jiwanya juga sakit. Seringkali ia meneteskan air matanya. Beberapa sahabatnya pun tak sanggup untuk menjenguknya dari dekat. Sahabatnya dengan terus terang menyampaikan permohonan ma’af untuk tidak dapat menjenguk dari dekat, karena bau anyir yang muncul dari tubuh Ayub. Bahkan bau itu tercium dari jarak lima ratus meter.
          Walaupun Ayub memaklumi sahabatnya tidak dapat mendekat dikarenakan bau amis darah yang sangat menjijikan. Namun, kekecewaan Ayub tak dapat ditutupi. Tak terasa, air mata di pipinya menetes, Ayub sungguh merasakan beratnya ujian kali ini. Para malaikat yang dapat menyaksikan penderitaan Ayub juga meneteskan air mata. Berbeda dengan yang di istana Iblish, melalui kekuatan yang dimilikinya iblis tertawa dan mereka merasa yakin, kali ini mereka akan menang.
          Ketika malam sudah mulai larut, rasa perih, gatal dan darah bercampur nanah yang terus keluar dari tubuh Ayub, bahkan tubuhnya sudah mulai ada belatungnya, ini dikarenakan tubuh Ayub sudah mulai membusuk.  Ayub mulai merasakan demam tinggi dan badannya sudah mulai lemah, air matanya terus berlinang membasahi pipinya, ia kembalikan merasakan betapa kejamnya istri yang ia cintai meninggalkannya pada saat ia tergolek lemah, begitupula dengan para sahabatnya. Ayub kembali meratab :
“Ya Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang
Engkau yang maha meliputi segala sesuatu
Engkau yang maha berkuasa atas segala sesuatu
Engkau tempat kembali segala sesuatu
          Tuhan aku tahu akan kasihmu        
          Tuhan aku tahu akan kebaikanmu
          Tuhan aku tahu engkau adalah dekat
          Tuhan aku tahu akan kebesaranmu
Engkau pun tahu apa yang kurasa
Engkau pun tahu yang ku derita
Engkau pun tahu apa yang ku minta
Engkau pun tahu apa penyebab sesak di dada
          Ya Tuhan sungguh ini berat bagiku
          Rasa sakit ini sungguh menyiksaku
          Aku tak tahu apa penyebab penyakitku
          Apakah ini perlambang kebencian Mu
Oh Tuhan....ku harap ini bukan murkamu
Ku harap ini bukan pertanda amarahmu
Ku harap ini bukan sebagai adzab untukku
Ku harap ini dapat mengampuni dosaku
          Sungguh ini membuat aku hampir berputus asa
          Karena begitu berat aku rasa
          Namun aku percaya pada waktu yang akan menggilasnya
          Namun ku rasa bagai selamanya    
Hanyalah terlelap sebagai pelipir lara
Walau sulit untuk tidur seperti biasanya
Benar-benar tak lagi ku ingat jika aku pernah sehat jiwa dan raga
Sakit badan ini telah mebuat aku sakit jiwa
          Jika taj punya hidayah mungkin aku sudah berburuk sangka
          Aku adalah manusia biasa
          Rasa sakit ini sungguh mengguncang jiwa
          Entahlah...apakah aku masih tergolong orang yang tabah
Oh Tuhan..bila ini takdirku
Biarlah menghapus dosaku
Engkau tahu akan kemampuanku
Aku hanya bisa berserah diri kepadaMu
          Sampai pada waktu yang telah di tetapkan oleh Tuhan, Ayub tetap menjadi pemuja yang setia. Walau hatinya sedikit terguncang tapi ia tetap menjadi pemuja yang setia. Akhirnya iblish pun mengakui Ayub sebagai pemuja yang setia. Akhirnya Tuhan melalui malaikatnya menyembuhkan Ayub dengan perantaraan air yang keluar dari bumi. Air tersebut keluar disebabkan pukulan tongkat dari malaikat. Dan semua malaikat yang ada di bumi dan yang ada di langit melantunkan pujian kepada Tuhan dan kepada Ayub sebagai rasa sukacita yang dalam.        
          Setelah Ayub sembuh dari penyakitnya, ia tak henti-hentinya mengucapkan tahmid sebagai perwujudan yang mendalam. Dan sampai kapan pun, kesabaran dan ketabahan Ayub akan menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Dan akhirnya Tuhan pun mengembalikan semua yang pada awalnya di berikan kepada Ayub, baik harta, istri dan kembali memiliki anak-anak yang menyenangkan hati dan sholeh. Ayub sanggup lolos dari ujian Allah karena kekuatan iman dan hidup penuh dengan kesadaran.