KISAH SANG PEMUJA
YANG SETIA
Kisah ini merupakan kisah fiksi, yang bersumber dari kisah Nabi Ayub as. Namun, isi dari pada kisah ini merupakan hasil imajinasi dari penulis. Oleh karena itu, mohon untuk tidak di pertanyakan akan kebenaran dari kisah ini atau tidak dikait-kaitkan pada suatu agama tertentu
Al kisah .....seorang
hamba yang menjadi kekasih Tuhan. Tiada yang menyamai pada masanya, bagaimana
ia selalu berdzikir lesan dan hatinya untuk mengingat kebesaran TuhanNya. Pada
akhirnya, semua apa yang menjadi angan-angannya dapat terwujud dan menjadi
nyata. Ia memiliki kekayaan yang berlimpah bahkan tiada yang dapat menyamai
kekayaannya, ia memiliki ribuan hewan ternak, ia memilihi ribuan hektar lahan
pertanian. Ia menjadi yang terkaya di seluruh negerinya, bahkan mungkin, ia telah
menjadi orang terkaya di bumi. Selain
kekayaan materi, ia juga memiliki anak yang jumlahnya cukup banyak. Anak yang
menjadi penyejuk jiwa, anak yang akan menjadi penerus dari cita-cita orang tua,
anak-anak yang mampu mengusir sepi, anak-anak yang mampu memberikan kasih
sayang, anak-anak yang dengan hanya melihatnya saja akan dapat menyembuhkan
jiwa yang sakit, anak-anak yang bisa membangkitkan semangat untuk mengisi
kehidupan. Ia bernama Ayub, putra dari Nabi Ishak yang namanya Abadi tertulis
di semua kitab samawi. Di usianya yang sudah mencapai separuh dari kehidupannya.
Ayub telah menjadi orang yang sukses, namun ia tak setitik pun merubahnya
menjadi manusia yang congkak dan sombong. Ayub memulai segalanya dari nol,
memulai bisnisnya dari beberapa ekor ternak dan mengerjakan lahan pertanian
yang hanya sepetak saja. Namun, ia tak pernah berkeluh kesah, ia selalu
berusaha untuk memeras keringatnya, dan ia percaya kebaikan TuhanNya. Dan saat
yang ia nantikan pun tiba, semua keinginannya menjadi nyata. Dan ia selalu
melantunkan nyanyian jiwa untuk memujaNya.
Ya
Tuhan Yang baik dalam segala kehendaknya
Ya
Tuhan yang Maha Pemberi Rizki kepada semua makhluknya
Yang
Maha berbelas kasih kepada semua hambanya
Yang
Maha Indah dalam setiap rencananya
Oh
Tuhan....aku bersyukur padamu, atas setiap anugrah darimu
Oh
Tuhan yang tidak pernah mengecewakan bagi setiap pemujamu
Oh
Tuhan Yang maha berkuasa atas segala sesuatu
Oh
Tuhan hanya engkaulah tempat aku mengadu......
Betapa
besar anugrahMu......
Betapa
sedikit amalku.......
Betapa
banyak nikmatMu......
Betapa
sedikit maluku........
Oh
Tuhan.....setiap hembusan nafas adalah nikmat tak terkira
Keindahan
ciptaanmu adalah keindahan yang tak terkira
MenganalMu
adalah anugrah terindah
Kedekatan
denganMu adalah kebahagian yang sesungguhnya
Oh
Tuhan.....berawal dari tiada lalu menjadi ada
Berawal
aku tak punya apa-apa
Yang
kubisa hanya berdoa
Dan
berikhtiar yang kubisa
Engkaupun
tahu apa yang menjadi kemauanku
Akhirnya
Engkaupun tak mengecewakan aku
Tercipta
semua yang ada dalam anganku
Aku
sadar inipun bagian dari ujianMu
Senang
susah suka duka adalah beragam rasa
Semua
manusia harus merasakannya
Semua
ada massa (ukuran) dan waktunya
Semua
akan tiba sebagai kenangan semata
Oh...
Tuhan tetapkan hatiku
Bagai
karang yang bukan sekedar batu
Apapun
yang terjadi Engkau tempat aku bersimpuh
Apapun
yang terjadi Engkau selalu ada di hatiku
Tak
peduli suka, kaya atapun menjadi raja dunia
Tak
peduli duka lara, miskin papa bahkan budak tak berharga
Tetapkan
hatiku hanya memujiMu
Hanya
bersujud padaMu
Segala
puji bagimu Tuhan semesta Alam
Setiap untaian nyanyian jiwa Ayub,
menggetarkan kerajaan langit, para malaikat pun kagum dibuat oleh nyanyian
jiwanya yang menggetarkan Arsy Tuhan. Akhirnya Tuhan pun memuji keshalihan Ayub
sebagai pemuja terbaik pada masanya. Sungguh hal ini, membuat iblish tidak
senang dan membuatnya gelisah seraya memutar otak. Bagaimana cara menguji
keimanan Ayub. Ditengah kebingungan dan kegelisahan, akhirnya salah satu
penasehat dari iblish berkata, “Hai Iblish, datanglah pada Tuhan, sampaikan
pada Tuhan, jika Ayub tak layak mendapat predikat sebagai pemuja terbaik,
karena Ayub merupakan pemuja di tengah berkelimpahan anugrah dari TuhanNya.
Belum tentu, ketika semua nikmat berupa hartanya engkau musnahkan Ayub akan
tetap menjadi pemuja yang setia”. “Benar penasehat”, sahut iblish. Dengan wajah
yang berbinar, dengan disertai tawa yang membahana, dengan mengepalkan tangan
sebagai pertanda penuh dengan keyakinan, iblish pun berkata, “Kali ini, Ayub
pasti akan masuk dalam perangkapku, ia akan berubah menjadi hamba yang kufur,
gelar sebagai pemuja yang setia akan berubah....ha..haaa.....haaaaa, dan
lagi-lagi aku akan menjadi pemenangnya”. Lalu iblispun bersegera menghadap
kepada Tuhan, sambil menghaturkan sembah, lalu berkata, “ Ampun Tuhan, saya
sebagai penyeimbang dunia, kurang berkenan dengan gelar yang di berikan Tuhan
kepada Ayub, karena menjadi pemuja di tengah berkelimpahan harta, anak yang
banyak, istri yang shalehah adalah sangat mudah. Belum tentu Ayub, ketika
engkau musnahkan seluruh hartanya, ia akan menjadi pemuja yang setia”. Lalu Tuhan
menimpali, “lalu apa maumu wahai Iblis”. Iblis pun berkata, “berikanlah kuasaMu
kepadaku untuk memusnahkan semua harta yang dimiliki oleh Ayub, niscaya engkau
akan tahu, kalau Ayub tak pantas engkau beri gelar sebagai pemuja yang setia.
Lalu Tuhan pun menjawab, “terjadilah apa yang engkau kehendaki wahai Iblish”. Iblish
senang sekali permintaannya dikabulkan oleh Tuhan. Lalu iblish mohon diri untuk
kembali kepada istananya.
Tanpa disangka-sangka tiba-tiba bumi
terbelah dan menenggelamkan semua hawan ternak milik Ayub, anehnya itu terjadi
hanya menimpa semua hewan ternak milik Ayub. Dan tidak hanya itu, semua lahan pertanian milik Ayub pun tiba-tiba
terkena hama yang begitu dasyatnya, sampai tak ada satupun tanaman yang
tersisa. Para pekerjanya dan semua anak-anaknya bergegas memberitahu Ayub.
Dengan nafas yang terengah-engah salah satu dari anak Ayub berkata, “Wahai
Ayah, telah terjadi yang aneh pada semua hewan ternak kita, dan tidak hanya itu
semua lahan pertanian kita juga terserang hama yang begitu dasyatnya sampai tak
ada satupun dari tanaman kita yang masih hidup. Ini...sungguh aneh, kenapa ini
hanya menimpa kita ayah, kenapa yang lain tidak, apa maksud dari kejadian ini
ayah,,,, apakah Tuhan sudah tak sayang dengan kita????ataukah kita melakukan
kesalahan atau dosa yang sangat mengerikan???ataukah ini sebuah takdir
????ataukah ini sebuah karma?????........
Ayub hanya tersenyum mendengar
kata-kata anaknya, lalu Ayub berkata “Wahai anakku.........tenangkanlah
pikiranmu........!!!coba engkau renungkan....apa semua hewan ternak itu
milikmu..!!!!apa semua lahan pertanian ini juga milikmu!!!!!Apa semua harta
yang engkau miliki juga milikmu...!!!!atau milik dari Ayah.....!!!!Apa yang
bisa dijadikan dasar pemikiran kalau semua harta yang kita miliki adalah milik
kita........???? Jangankan harta, bahkan jantungmu yang engkau kira itu
milikmu,,,,,,tidak dapat engkau kendalikan detaknya. Bisakah kita mengklaim
sesuatu sebagai milik kita,,,,lalu kita tidak bisa
mengendalikannya??????......lalu apa definisi dari kata milik
sebenarnya........????? lalu apa bisa kita memiliki sesuatu sedangkan diri kita
nyata-nyata dimiliki olehNya...??????Engkau telah terikat oleh benda duniawi
anakku......Engkau telah terjebak rasa memiliki.......engkau telah tertipu oleh
pancainderamu.........rasa itu tak terasa sudah merasuki alam bawah
sadarmu.........engkau tidak menyadari itu........itu sangatlah berbahaya bagi
jiwa........itu penyebab manusia menjadi menderita..........ketika menderita ia
akan dekat dengan rasa putus asa,,,,,,hanya pengetahuan yang dapat
menyelamatkannya”
Tiba-tiba suasana menjadi hening,
semua anak-anak dan pekerja Ayub memasuki alam perenungan yang mendalam dan
membuat kesadaran jiwa baru. Kesunyian itu tiba-tiba pecah begitu ada salah
satu putra Ayub mengajukan pertanyaan, “Wahai ayah menyadari apa yang terjadi
adalah sulit, namun yang tak kalah sulitnya adalah bagaimana cara menghadapi
ini semua, sudah pasti kita tidak akan mampu membayar pekerja kita, sudah pasti
kita kesulitan untuk memenuhi kebuTuhan makan sehari-hari, sudah barang tentu
kita akan jatuh miskin seketika, sudah barang tentu kita tidak sanggup lagi
membeli obat ketika kita sakit, sudah barang tentu kita tak memiliki uang untuk
sekolah, sudah barang tentu kita akan hidup tak seperti biasa, hidup harus puas
dengan segala yang ada, harus bisa menahan ejekan tetangga, harus siap menahan
lapar ketika waktu makan tiba.
“Betul sekali anakku,,,,,tidak cukup
hanya menyadari apa yang telah terjadi, namun dengan menyadari apa yang telah
terjadi maka kita akan jauh dengan kerisauan hati. Selanjutnya tiba saat ini
kita menjadi pekerja, yang tadinya menjadi seorang tuan, kini kita harus mau
jadi karyawan, yang tadinya kita adalah bos, sekarang kita harus mau menjadai
pegawai yang tulus. Perubahan ini tentu, di masa awal tidak mudah. Tapi
ingatlah wahai anakku.........Setiap kesenangan dan penderitaan memiliki massa
(ukuran dan waktu. Dan setiap massa dan waktu mengikuti hukum relativitas.
Tergantung dari pengetahuan dan kesadaran jiwa kita. Dan setiap kesenangan dan
penderitaan akan bermuara menjadi kenangan. Ingatlah.......didunia ini yang
memiliki kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Dan ingatlah ....apapun
yang terjadi, Tuhan selalu bersama kita, Tuhan selalu menyertai kita dan Tuhan
memelihara kita. Tuhan memiliki kehendak yang sangat baik bagi hambanya....ini
adalah mutlak. Jika engkau tidak merasakan kehendak baiknya, maka berarti
hatimu telah terhijab, hatimu telah buta dan tuli”, Kata Ayub menjawab
pertanyaan putranya.
Baiklah ayah kini ku mulai mengerti,
setidaknya biar aku merasakan bagaimana menjadi pesuruh, karyawan, ataupun
mejadi budak. Yang selama ini, tak pernah terbayang olehku. Kita harus tetap
kuat, dan memperbanyak mengingatNya ketika kesedihan mulai merasuki hati kita.
Hanya dengan mengingatNya, hati kita menjadi tentram.
Melihat keteguhan hati Ayub dan
putra-putranya, membuat takjub para malaikat di kerajaan langit. Tidak demikian
dengan Iblish, melihat Ayub begitu teguh tak tergoyahkan, Iblish semakin tidak
tenang, seolah tak percaya apa yang terjadi. “Mengapa Ayub begitu teguh......mengapa
hatinya tak tergoyahkan........mengapa ia tak terpengaruh oleh penderitaan, Ayub
harus bisa dikalahkan.....Ayub pasti akan terkalahkan......Aku tidak akan
menyerah, karena ini akan berpengaruh ke masa depan, Iblish tak boleh
kalah.......Aku akan menghadap kepada Tuhan, aku akan meminta kepada Tuhan
untuk semua anaknya yang tersayang harus di lenyapkan, tidak cukup hanya hartanya
saja menjadi sebuah ukuran, gelar sebagai pemuja yang setia harus tidak mudah,
karena ini akan di kenang sepanjang masa.
Tuhan....ma’afkanlah hamba, datang
begitu tiba-tiba. Hamba sudah melihat keteguhan dan kehebatan dari hambamu yang
terkasih yang engkau beri gelar sang pemuja yang setia. Namun Tuhan, anugrah
dan gelar yang engkau berikan akan dikenang sepanjang masa tak cukup hanya
kehilangan harta saja sebagai ukuran, apa kata dunia nantinya, bila begitu
mudahnya mendapatkan gelar sang pemuja yang setia, kata Iblish meminta kepada Tuhannya.
“Lalu apa maumu????, hai iblish” jawab Tuhan. Lalu iblish berkata, “Tuhan berikan
kuasa padaku untuk melenyapkan semua anak-anak Ayub. Terjadilah sesuai
kehendakmu hai Iblish..........Engkau akan melihat bagaimana hamba terkasihku
memang layak di beri gelar sebagai sang pemuja yang setia......”kata Tuhan.
Secara mengejutkan,,,,dalam hitungan
detik, semua anak-anak Ayub mengalami rasa sakit pada jantungnya, dan kesulitas
bernafas, sampai akhirnya semua adak-anak Ayub meninggal secara bersamaan
dengan waktu yang sangat cepat. Dengan tergopoh-gopoh yang mengetahui itu,
langsung memberitahu Ayub, “wahai Ayub, semoga engkau diberikan kesabaran
mendengar berita ini..........Anakmu Ayub, ada apa dengan anakku, sahut Ayub.
“Semua anakmu meninggal secara mendadak. “Ya Allah.......Semua adalah milikmu
dan akan kembali kepadamu, kuatkan aku Ya Allah, saya yakin ini terjadi semua
atas kehendakmu.
Wahai suamiku,,,,,dosa apa yang telah
kita lakukan, bukankah selama ini kita berusaha menjadi pemujanya yang setia,
bukankah kita telah sabar dalam menghadapi kemiskinan ini,,,,,bukannya kita
telah berusaha menjauh dari segala laranganNya, bukannya masih banya hamba yang
lain yang lebih durjana tp mengapa tdk mengalami cobaan seperti yang kita
alami....mengapa ini harus menerpa kita suamiku, bagaimana aku bisa melanjutkan
kehidupan ini,,,,,,,bagaimana masa tuaku nanti.......bagaimana hidup tanpa
penerus...........dengan disertai tangis yang histeris, menambah kesedihan yang
cukup mendalam, terkadang istri dari Ayub tak sadarkan diri.............
Akhirnya tiba jua, waktu pemakaman
yang penuh haru, sesekali terlihat Ayub meneteskan air mata dan beberapa kali
sang istri tak sadarkan diri. Setiap hari, mereka teringat bagaimana cerianya hidup
dengan anak-anak mereka. Jangankan makhluk bumi, makhluq langitpun tak tega
melihat keadaan Ayub. Seluruh alam seperti ikut merasakan duka yang cukup
mendalam. Namun tidak demikian dengan yang terjadi di istana Iblish,
“hahaha......kali ini hati Ayub pasti terguncang sebagaimana istrinya yang
telah terguncang, sekarang akulah yang menjadi pemenangnya, kemenangan dari iblish
dan sekutunya”.
Ketika pemakaman telah usai, Ayub
berusaha menenangkan hati istrinya,
Wahai
istriku..........
Tenangkanlah
hatimu dan janganlah engkau terperdaya
Kitalah
yang salah, karena merasa memiliki
Setiap anugrahnya tak kita sadari
Bahwa
itu hanyalah titipan semata
Setiap
manusia tidaklah sama
Memiliki
tingkatanya yang berbeda-beda
Anugrahnya
pun tak sama
Takdirnya
pun tak mungkin sama
Antara
satu dengan lainnya tang mungkin sama
Janganlah
kita berburuk sangka
Karena
semua ada maksud dan tujuanNya
Ingatlah
kita juga berawal dari tiada
Atas
kehendaknya menjadi ada
Berlahan-lahan
bisa merasakan sbg manusia
Setiap
massa selalu ada suka dan duka
Kita
tak dapat menghindari dari keduanya
Wahai
istriku,,,,,,,,
Kematian
bukan berarti lenyap tak berbekas
Eksistensi
manusia tidak lenyap dengan kematian
Kematian
hanya pintu kedua memasuki kehidupan (selanjutnya)
Tidak
ada gunanya ratapan
Yang
membuat kita sedih
Bila
kematiannya tak berarti
Kehidupannya
tak bernilai
Tak
tahu kemana setelah mati
Manusia
pastilah akan mencari jalan kembali
Kepada
haribaan sang Ilahi
Tak
dapat di prediksi berapa lama akan kembali suci
Hanya
kasih Tuhan yang akan merahmati
Mendengar penjelasan sang suami yang
begitu indah, sang istripun sudah mulai tenang, lalu istri Ayub berkata, “kita
sudah tidak memiliki apa-apa lagi suami, semua barang-barang yang kita miliki
sudah terjual untuk menyambung hidup, saat ini kita sudah tidak memiliki
apa-apa lagi untuk di jual. Ayub pun menjawab, “Sabar istriku, aku akan kembali
bekerja sebagai buruh orang lain. Istri menyahut, “suamiku saat ini engkau
sudah tidak muda lagi, dan engkau adalah bekas orang terkaya di negeri ini dan
bahkan engkau adalah keturunan orang yang terpandang di negeri ini. Dengan
menghirup nafas dalam-dalam, Ayub pun berkata, “Kemuliaan seseorang bukan
terletak ia keturunan siapa, mengenai umur, aku akan mencari pekerjaan yang aku
mampu, namun wajib bagiku menjadi tulang punggung dari keluarga ini,
kemuliaanku sebagai seorang suami adalah mencari nafkah buat keluarga. Mengenai
aku adalah bekas orang kaya, roda kehidupan selalu berputar, setiap manusia
harus siap menjadi peran apa saja, apakah itu sebagai buruh atau sebagai bos.
Justru ketika kita memainkan peran dalam peran yang berbeda, kita akan semakin
menjadi manusia yang bijaksana. Karena merasakan apa yang orang lain rasakan.
Aku tidak kaget dengan keadaan seperti ini, karena aku dulu berawal dari
menjadi buruh. Tenangkalah hatimu istriku, kita lahir ke dunia tanpa apa-apa,
kita meninggalkan dunia ini juga akan meninggalkan semua apa yang kita miliki.
Hanyalah kebaikan hati yang menjadi teman abadi dalam mengarungi kehidupan
setelah mati”.
Kerajaan langit kembali dibuat takjub,
dan tak henti-hentinya para malaikat memuji Ayub, bahkan ada beberapa malaikat
yang menetaskan air mata. “Sungguh ini sebuah ujian terberat bagi seorang
hamba, sungguh ini akan menjadi sebuah kisah di sepanjang masa, sungguh manusia
layak mendapatkan derajat tertinggi di sisiNya”, kata malaikat. Kerajaan iblish
kembali gaduh, kegaduhan ini disebabkan raja iblish yang sangat gelisah,
berjalan mondar mandir sambil berteriak-teriak, “kumpulkan semua penasehatku dan
para pembantuku, hai semua yang ada disini, tidak bisa kupercaya Ayub masih
begitu tegarnya, semua usaha yang kita lakukan telah gagal, apakah saya harus
menghadap Tuhan dengan kepala tertunduk dan harus mengakui ketinggian derajat
yang dimiliki bangsa malaikat, bukankah kita ini dulunya adalah ciptaan yang
paling dekat dengan Tuhan, mengapa kedekatan ini bisa dikalahkan oleh bangsa
manusia. Sungguh ini membuat aku kecewa, sekarang aku minta semua yang hadir
disini, untuk berfikir bagaimana bisa menjauhkan Ayub dari Tuhan. Lalu salah
satu dari penasehat iblish berkata, “tidak ada cara lain, kecuali kita perberat
ujiannya, kalau harta masih kuat, dengan anak juga masih kuat maka kita coba
dengan kesehatannya. Sepanjang sejarah manusia belum ada yang lolos terhadap
ujian ini”. Hah........sahut iblish seolah tak percaya. Jangankan manusia para
malaikatpun tidak ada yang sanggup, apa Tuhan akan menyetujuinya?????. “tidak
ada cara lain, engkau tahu sendiri, Ayub telah mencapai kesadaran spiritual
yang tinggi yang belum pernah di capai oleh para leluhurnya. Engkau menyaksikan
sendiri, ketika anak-anaknya wafat, dengan penuh kemantapan hati, ia membuka
seluruh bajunya lalu bersujud kepada Tuhan dengan mengucapkan, “wahai Tuhan aku
lahir dalam keadaan telanjang maka akupun akan kembali kepadamu dalam keadaan
telanjang, ini menunjukkan kesadaran Ilahiah dari Ayub sudah cukup tinggi, kita
di berikan kuasa ada batas waktunya. Tidak ada pilihan lagi, jika tidak memakai
cara ini, lebih baik kita menyerah saja. Karena hasilnya pasti akan sama, Ayub
sebagai pemenangnya”.
“Baiklah penasehat, aku akan segera menghadap Tuhan”,
sahut iblish. Lalu dengan hanya kedipan mata, iblish pun sudah sampai menjumpai
Tuhan. “Tuhan ......kami menyadari ujian kami yang kedua pun tidak dapat
menggoyahkan hati Ayub, ia tetap menjadi sang pemuja yang setia”. Namun Tuhan....perkenankanlah
hamba untuk dapat mengujinya sekali lagi, bila dengan ujian ini, Ayub tetap
menjadi sang pemuja yang setia, maka aku akan mengakui kepantasan Ayub sebagai
hambamu yang mendapatkan anugrah sebagai sang pemuja yang setia. Perkenankan
hamba, untuk mengujinya dengan penyakit yang mengerikan, yang belum pernah
dialami oleh manusia sebelumnya.
“Baiklah, kuasaku beserta kuasamu,
terjadilah yang menjadi kehendakmu.......” , begitu kata Tuhan. Lalu dengan
hati yang penuh kesenangan dan rasa percaya diri yang berlebihan, sambil
mengepalkan tangan, sang iblish berkata, “kali ini Ayub pasti akan terguncang
dan akan menjauh dari Tuhan”.
Ketika Ayub telah terlelap dalam
buaian malam, karena seharian bekerja, hanyalah tidur yang mampu menyembuhkan
keletihan yang amat sangat. Bahkan, malam itu, Ayub lupa tidak mensucikan diri,
karena kantuk dan lelah yang amat sangat. Dan pada malam itu, Iblish pun turun
dari langit meniupkan sesuatu ke dalam tubuh Ayub. Lalu hanya dalam hitungan
detik, Ayub merasakan sekujurnya tubuh terasa gatal dan disertai panas. Ayub
mengira dengan hanya di oles dengan ramuan tradisional maka penyakitnya akan
hilang. Setelah ia selesai mengobati bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya.
Lalu ia bergegas mengambil wuduk dan melaksanakan sholat. Lalu dalam munajatnya
Ayub berkata :
Ya
Tuhan hanya engkaulah yang Maha baik dalam rencanaMu
Ya
Tuhan Engkaulah yang berkuasa atas segala sesuatu
Ya
Tuhan Engkaulah yang meliputi segala sesuatu
Ya
Tuhan hanya engkaulah sebaik-baik tempat mengadu
Ya Tuhan ...kasihmu tiada terkira
Pujaku
memang tak sempurna
Hatiku
tak akan goyah
Sampai
aku menutup mata
Hanya
engkalah tempat aku berseru
Hanya
engkaulah yang menjadi penghiburku
Hanya
engkaulah yang menguatkan jiwaku
Hanya
engkaulah yang dapat melindungku
Hanya
Engkau yang membelaku
Setiap cinta harus mau menanggung
derita
Setiap cinta harus dapat diuji secara
nyata
Setiap cinta tak hanya berkata-kata
Setiap cinta selalu dapat menguatkan
jiwa
Ditinggal
harta tak membuat aku gentar
Ditinggal
anak tak membuat aku bergetar
Amarahmu
yang bikin aku gentar
Kebencianmu
yang bikin aku berdebar (ketakutan)
Tuhan ....aku tak minta keadaanku
pulih
Tuhan....hanya kasihmu yang selalu aku
nanti
Biarlah semua manusia membenci
Tapi cintamu yang selalu kunanti
Ampunilah
aku sebagai pemuja
Yang
senantiasa terperdaya oleh kenikmatasn sementara
Terkadang
hamba berbuat salah
Seringkali
aku lalai sebagai kekasih
Selesai bermunajat, Ayub merasa
tubuhnya terasa gatal yang amat sangat lalu ia menggaruknya, namun masih terasa
gatal, akhirnya tanpa ia sadari ia telah melukai seluruh tubuhnya, dari
bintik-bintik itu keluar darah segar. Sang istri yang melihat suaminya berlumuran
darah dan mengeluarkan bau amis darah mencoba untuk mendekat dan berkata, “
Wahai suamiku, apa yang terjadi denganmu???kenapa sekujur tubuhmu mengeluarkan
darah”. Saya masih memiliki beberapa potong pakaian, akan aku jual, untuk biaya
berobat engkau, suamiku”. Jangan.....jangan istriku, jangan kau jual
pakaianmu..!!! karena pakainmu tinggal dua potong saja. Lalu istrinya tak kuasa
menahan tangisnya, sang istri menangis tersedu-sedu sambil meratap dan tak
kuasa menahan beban berat yang ada di dadanya,
“Wahai
Tuhan, cobaan apalagi yang menimpaku
Engkau
tahu kemampuanku
Kenapa
engkau senang akan airmataku
Kenapa
semua ini harus menimpaku
Bukankah
aku adalah pemujaMu
Bukankah
suamiku adalah kekasihMu
Bukankah
aku selalu mengikuti perintahMu
Bukankah
aku tidak pernah mengecewakanMu
Ya
Allah jika ini terjadi karena dosaku.....bukankah engkau maha pengasih
Ya
Allah jika ini karena salahku....bukankah engkau Maha Pema’af
Ya
Allah jika ini adalah karmaku ..bukankah engkau maha baik
Ya
Allah jika ini adalah dosaku .....bukankah engkau maha pengampun
Oh.. Tuhan kini engkau tahu deritaku
Satu-satunya harapanku telah telah tak
berdaya
Ketika engkau ambil hartaku, aku masih
berusaha bertahan
Ketika engkau ambil anakku, sungguh
jiwaku terguncang
Kini, kau buat suamiku tak berdaya
Oh
...Tuhan, sungguh ini tak tertahankan
Mengapa
tidak engkau ambil nyawaku
Biar
aku terbebas dari sakit bak tertusuk sembilu
Oh....Tuhan
bebaskan aku....(Menangis dengan histeris)
Mendengar ratapan sang istri, Ayub pun
mencoba menenangkan sang istri tersayang dengan berkata,
Wahai
istriku ...janganlah engkau begitu
Berputus
asa dengan pikiran tak menentu
Sadarilah
wahai istriku......
Penderitaan
yang kita alami hanya sesaat saja
Mampukah engkau menghitung nikmatNya
Sejak
dalam kandungan, rizkimu telah diatur olehNya
Engkau
berada pada tempat yang kokoh
Lalu
Tuhan, memberikan kasihnya melalui orang tuamu
Yang
engkau lihat hanya orang tuamu
Engkau
tak tahu, bahwa Tuhan yang sebenarnya mengasihimu
Namun,
Tuhan tak pernah marah
Walau
ia tak dilihat kebaikanNya oleh mu
Ia
menumbuhkanmu, mengajarimu akan segala sesuatu
Semua
tubuhmu merasakan akan berbagai macam rasa
Hatimu
pun dapat merasakan segala rasa suka dan duka
Jika
engkau sadari , antara sakit dan sehat masih banyak yang sehat
Antara
suka dan duka masih banyak suka
Antara
tawa dan sedih masih banyak tawa
Antara
pahit dan manis masih banyak yang manis
Antara
penderitaan dan kesenangan masih banyak kesenangan
Jangan
karena penderitaan yang sesaat engkau menjadi sesat
Jangan
hanya karena tangis engkau menjadi bengis
Jangan
hanya pedih engkau menjadi tak tahu diri
Jangan
hanya derita engkau menjadi durhaka
Mendengar kata-kata suaminya, istri Ayub
agak tenang, namun jauh dari kedalaman hati yang paling dalam, ia sangat
tertekan, bahkan jiwanya terguncang. Dia sengaja tidak menampakkan itu pada Ayub.
Beberapa hari kemudian, penyakit Ayub semakin parah, seluruh tubuhnya suda
mulai mengeluarkan darah dan nanah yang mengeluarkan bau yang amat sangat
menjijikan. Sang istri, sudah tak bisa bersabar lagi, kini sang istri sudah
semakin mantab untuk meninggalkan suaminya, tanpa lagi memikirkan kondisi
suaminya. Bahkan sang istri berkata dalam hati, “bukankah suamiku hamba yang taat,
Tuhan pasti menjaganya”. Lalu sang istri pun pergi meninggalkan Ayub yang
tergolek lemah.
Ayub memanggil-manggil istrinya, namun
tak kinjung muncul di hadapannya. Akhirnya Ayub sadar bila, istrinya telah
meninggalkannya. Sungguh Ayub merasa sedih sekali, jiwanya sudah mulai
terguncang. Sakit di tubuhnya, sudah mulai menyebabkan jiwanya juga sakit.
Seringkali ia meneteskan air matanya. Beberapa sahabatnya pun tak sanggup untuk
menjenguknya dari dekat. Sahabatnya dengan terus terang menyampaikan permohonan
ma’af untuk tidak dapat menjenguk dari dekat, karena bau anyir yang muncul dari
tubuh Ayub. Bahkan bau itu tercium dari jarak lima ratus meter.
Walaupun Ayub memaklumi sahabatnya
tidak dapat mendekat dikarenakan bau amis darah yang sangat menjijikan. Namun,
kekecewaan Ayub tak dapat ditutupi. Tak terasa, air mata di pipinya menetes, Ayub
sungguh merasakan beratnya ujian kali ini. Para malaikat yang dapat menyaksikan
penderitaan Ayub juga meneteskan air mata. Berbeda dengan yang di istana Iblish,
melalui kekuatan yang dimilikinya iblis tertawa dan mereka merasa yakin, kali
ini mereka akan menang.
Ketika malam sudah mulai larut, rasa
perih, gatal dan darah bercampur nanah yang terus keluar dari tubuh Ayub,
bahkan tubuhnya sudah mulai ada belatungnya, ini dikarenakan tubuh Ayub sudah
mulai membusuk. Ayub mulai merasakan
demam tinggi dan badannya sudah mulai lemah, air matanya terus berlinang
membasahi pipinya, ia kembalikan merasakan betapa kejamnya istri yang ia cintai
meninggalkannya pada saat ia tergolek lemah, begitupula dengan para sahabatnya.
Ayub kembali meratab :
“Ya
Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang
Engkau
yang maha meliputi segala sesuatu
Engkau
yang maha berkuasa atas segala sesuatu
Engkau
tempat kembali segala sesuatu
Tuhan aku tahu akan kasihmu
Tuhan aku tahu akan kebaikanmu
Tuhan aku tahu engkau adalah dekat
Tuhan aku tahu akan kebesaranmu
Engkau
pun tahu apa yang kurasa
Engkau
pun tahu yang ku derita
Engkau
pun tahu apa yang ku minta
Engkau
pun tahu apa penyebab sesak di dada
Ya Tuhan sungguh ini berat bagiku
Rasa sakit ini sungguh menyiksaku
Aku tak tahu apa penyebab penyakitku
Apakah ini perlambang kebencian Mu
Oh
Tuhan....ku harap ini bukan murkamu
Ku
harap ini bukan pertanda amarahmu
Ku
harap ini bukan sebagai adzab untukku
Ku
harap ini dapat mengampuni dosaku
Sungguh ini membuat aku hampir
berputus asa
Karena begitu berat aku rasa
Namun aku percaya pada waktu yang akan
menggilasnya
Namun ku rasa bagai selamanya
Hanyalah
terlelap sebagai pelipir lara
Walau
sulit untuk tidur seperti biasanya
Benar-benar
tak lagi ku ingat jika aku pernah sehat jiwa dan raga
Sakit
badan ini telah mebuat aku sakit jiwa
Jika taj punya hidayah mungkin aku
sudah berburuk sangka
Aku adalah manusia biasa
Rasa sakit ini sungguh mengguncang
jiwa
Entahlah...apakah aku masih tergolong
orang yang tabah
Oh
Tuhan..bila ini takdirku
Biarlah
menghapus dosaku
Engkau
tahu akan kemampuanku
Aku
hanya bisa berserah diri kepadaMu
Sampai pada waktu yang telah di
tetapkan oleh Tuhan, Ayub tetap menjadi pemuja yang setia. Walau hatinya
sedikit terguncang tapi ia tetap menjadi pemuja yang setia. Akhirnya iblish pun
mengakui Ayub sebagai pemuja yang setia. Akhirnya Tuhan melalui malaikatnya
menyembuhkan Ayub dengan perantaraan air yang keluar dari bumi. Air tersebut
keluar disebabkan pukulan tongkat dari malaikat. Dan semua malaikat yang ada di
bumi dan yang ada di langit melantunkan pujian kepada Tuhan dan kepada Ayub
sebagai rasa sukacita yang dalam.
Setelah Ayub sembuh dari penyakitnya,
ia tak henti-hentinya mengucapkan tahmid sebagai perwujudan yang mendalam. Dan
sampai kapan pun, kesabaran dan ketabahan Ayub akan menjadi teladan bagi
seluruh umat manusia. Dan akhirnya Tuhan pun mengembalikan semua yang pada
awalnya di berikan kepada Ayub, baik harta, istri dan kembali memiliki
anak-anak yang menyenangkan hati dan sholeh. Ayub sanggup lolos dari ujian
Allah karena kekuatan iman dan hidup penuh dengan kesadaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar