Translate

Senin, 13 Oktober 2014

KISAH SANG PEMUJA

KISAH SANG PEMUJA
YANG SETIA

Kisah ini merupakan kisah fiksi, yang bersumber dari kisah Nabi Ayub as. Namun, isi dari pada kisah ini merupakan hasil imajinasi dari penulis. Oleh karena itu, mohon untuk tidak di pertanyakan akan kebenaran dari kisah ini atau tidak dikait-kaitkan pada suatu agama tertentu 

Al kisah .....seorang hamba yang menjadi kekasih Tuhan. Tiada yang menyamai pada masanya, bagaimana ia selalu berdzikir lesan dan hatinya untuk mengingat kebesaran TuhanNya. Pada akhirnya, semua apa yang menjadi angan-angannya dapat terwujud dan menjadi nyata. Ia memiliki kekayaan yang berlimpah bahkan tiada yang dapat menyamai kekayaannya, ia memiliki ribuan hewan ternak, ia memilihi ribuan hektar lahan pertanian. Ia menjadi yang terkaya di seluruh negerinya, bahkan mungkin, ia telah  menjadi orang terkaya di bumi. Selain kekayaan materi, ia juga memiliki anak yang jumlahnya cukup banyak. Anak yang menjadi penyejuk jiwa, anak yang akan menjadi penerus dari cita-cita orang tua, anak-anak yang mampu mengusir sepi, anak-anak yang mampu memberikan kasih sayang, anak-anak yang dengan hanya melihatnya saja akan dapat menyembuhkan jiwa yang sakit, anak-anak yang bisa membangkitkan semangat untuk mengisi kehidupan. Ia bernama Ayub, putra dari Nabi Ishak yang namanya Abadi tertulis di semua kitab samawi. Di usianya yang sudah mencapai separuh dari kehidupannya. Ayub telah menjadi orang yang sukses, namun ia tak setitik pun merubahnya menjadi manusia yang congkak dan sombong. Ayub memulai segalanya dari nol, memulai bisnisnya dari beberapa ekor ternak dan mengerjakan lahan pertanian yang hanya sepetak saja. Namun, ia tak pernah berkeluh kesah, ia selalu berusaha untuk memeras keringatnya, dan ia percaya kebaikan TuhanNya. Dan saat yang ia nantikan pun tiba, semua keinginannya menjadi nyata. Dan ia selalu melantunkan nyanyian jiwa untuk memujaNya.
Ya Tuhan Yang baik dalam segala kehendaknya
Ya Tuhan yang Maha Pemberi Rizki kepada semua makhluknya
Yang Maha berbelas kasih kepada semua hambanya
Yang Maha Indah dalam setiap rencananya

Oh Tuhan....aku bersyukur padamu, atas setiap anugrah darimu
Oh Tuhan yang tidak pernah mengecewakan bagi setiap pemujamu
Oh Tuhan Yang maha berkuasa atas segala sesuatu                              
Oh Tuhan hanya engkaulah tempat aku mengadu......

Betapa besar anugrahMu......
Betapa sedikit amalku.......
Betapa banyak nikmatMu......
Betapa sedikit maluku........

Oh Tuhan.....setiap hembusan nafas adalah nikmat tak terkira
Keindahan ciptaanmu adalah keindahan yang tak terkira
MenganalMu adalah anugrah terindah
Kedekatan denganMu adalah kebahagian yang sesungguhnya

Oh Tuhan.....berawal dari tiada lalu menjadi ada
Berawal aku tak punya apa-apa
Yang kubisa hanya berdoa
Dan berikhtiar yang kubisa

Engkaupun tahu apa yang menjadi kemauanku
Akhirnya Engkaupun tak mengecewakan aku
Tercipta semua yang ada dalam anganku
Aku sadar inipun bagian dari ujianMu

Senang susah suka duka adalah beragam rasa
Semua manusia harus merasakannya
Semua ada massa (ukuran) dan waktunya
Semua akan tiba sebagai kenangan semata

Oh... Tuhan tetapkan hatiku         
Bagai karang yang bukan sekedar batu
Apapun yang terjadi Engkau tempat aku bersimpuh
Apapun yang terjadi Engkau selalu ada di hatiku

Tak peduli suka, kaya atapun menjadi raja dunia
Tak peduli duka lara, miskin papa bahkan budak tak berharga
Tetapkan hatiku hanya memujiMu
Hanya bersujud padaMu   

Segala puji bagimu Tuhan semesta Alam
          Setiap untaian nyanyian jiwa Ayub, menggetarkan kerajaan langit, para malaikat pun kagum dibuat oleh nyanyian jiwanya yang menggetarkan Arsy Tuhan. Akhirnya Tuhan pun memuji keshalihan Ayub sebagai pemuja terbaik pada masanya. Sungguh hal ini, membuat iblish tidak senang dan membuatnya gelisah seraya memutar otak. Bagaimana cara menguji keimanan Ayub. Ditengah kebingungan dan kegelisahan, akhirnya salah satu penasehat dari iblish berkata, “Hai Iblish, datanglah pada Tuhan, sampaikan pada Tuhan, jika Ayub tak layak mendapat predikat sebagai pemuja terbaik, karena Ayub merupakan pemuja di tengah berkelimpahan anugrah dari TuhanNya. Belum tentu, ketika semua nikmat berupa hartanya engkau musnahkan Ayub akan tetap menjadi pemuja yang setia”. “Benar penasehat”, sahut iblish. Dengan wajah yang berbinar, dengan disertai tawa yang membahana, dengan mengepalkan tangan sebagai pertanda penuh dengan keyakinan, iblish pun berkata, “Kali ini, Ayub pasti akan masuk dalam perangkapku, ia akan berubah menjadi hamba yang kufur, gelar sebagai pemuja yang setia akan berubah....ha..haaa.....haaaaa, dan lagi-lagi aku akan menjadi pemenangnya”. Lalu iblispun bersegera menghadap kepada Tuhan, sambil menghaturkan sembah, lalu berkata, “ Ampun Tuhan, saya sebagai penyeimbang dunia, kurang berkenan dengan gelar yang di berikan Tuhan kepada Ayub, karena menjadi pemuja di tengah berkelimpahan harta, anak yang banyak, istri yang shalehah adalah sangat mudah. Belum tentu Ayub, ketika engkau musnahkan seluruh hartanya, ia akan menjadi pemuja yang setia”. Lalu Tuhan menimpali, “lalu apa maumu wahai Iblis”. Iblis pun berkata, “berikanlah kuasaMu kepadaku untuk memusnahkan semua harta yang dimiliki oleh Ayub, niscaya engkau akan tahu, kalau Ayub tak pantas engkau beri gelar sebagai pemuja yang setia. Lalu Tuhan pun menjawab, “terjadilah apa yang engkau kehendaki wahai Iblish”. Iblish senang sekali permintaannya dikabulkan oleh Tuhan. Lalu iblish mohon diri untuk kembali kepada istananya.

          Tanpa disangka-sangka tiba-tiba bumi terbelah dan menenggelamkan semua hawan ternak milik Ayub, anehnya itu terjadi hanya menimpa semua hewan ternak milik Ayub. Dan tidak hanya itu,  semua lahan pertanian milik Ayub pun tiba-tiba terkena hama yang begitu dasyatnya, sampai tak ada satupun tanaman yang tersisa. Para pekerjanya dan semua anak-anaknya bergegas memberitahu Ayub. Dengan nafas yang terengah-engah salah satu dari anak Ayub berkata, “Wahai Ayah, telah terjadi yang aneh pada semua hewan ternak kita, dan tidak hanya itu semua lahan pertanian kita juga terserang hama yang begitu dasyatnya sampai tak ada satupun dari tanaman kita yang masih hidup. Ini...sungguh aneh, kenapa ini hanya menimpa kita ayah, kenapa yang lain tidak, apa maksud dari kejadian ini ayah,,,, apakah Tuhan sudah tak sayang dengan kita????ataukah kita melakukan kesalahan atau dosa yang sangat mengerikan???ataukah ini sebuah takdir ????ataukah ini sebuah karma?????........
          Ayub hanya tersenyum mendengar kata-kata anaknya, lalu Ayub berkata “Wahai anakku.........tenangkanlah pikiranmu........!!!coba engkau renungkan....apa semua hewan ternak itu milikmu..!!!!apa semua lahan pertanian ini juga milikmu!!!!!Apa semua harta yang engkau miliki juga milikmu...!!!!atau milik dari Ayah.....!!!!Apa yang bisa dijadikan dasar pemikiran kalau semua harta yang kita miliki adalah milik kita........???? Jangankan harta, bahkan jantungmu yang engkau kira itu milikmu,,,,,,tidak dapat engkau kendalikan detaknya. Bisakah kita mengklaim sesuatu sebagai milik kita,,,,lalu kita tidak bisa mengendalikannya??????......lalu apa definisi dari kata milik sebenarnya........????? lalu apa bisa kita memiliki sesuatu sedangkan diri kita nyata-nyata dimiliki olehNya...??????Engkau telah terikat oleh benda duniawi anakku......Engkau telah terjebak rasa memiliki.......engkau telah tertipu oleh pancainderamu.........rasa itu tak terasa sudah merasuki alam bawah sadarmu.........engkau tidak menyadari itu........itu sangatlah berbahaya bagi jiwa........itu penyebab manusia menjadi menderita..........ketika menderita ia akan dekat dengan rasa putus asa,,,,,,hanya pengetahuan yang dapat menyelamatkannya”
          Tiba-tiba suasana menjadi hening, semua anak-anak dan pekerja Ayub memasuki alam perenungan yang mendalam dan membuat kesadaran jiwa baru. Kesunyian itu tiba-tiba pecah begitu ada salah satu putra Ayub mengajukan pertanyaan, “Wahai ayah menyadari apa yang terjadi adalah sulit, namun yang tak kalah sulitnya adalah bagaimana cara menghadapi ini semua, sudah pasti kita tidak akan mampu membayar pekerja kita, sudah pasti kita kesulitan untuk memenuhi kebuTuhan makan sehari-hari, sudah barang tentu kita akan jatuh miskin seketika, sudah barang tentu kita tidak sanggup lagi membeli obat ketika kita sakit, sudah barang tentu kita tak memiliki uang untuk sekolah, sudah barang tentu kita akan hidup tak seperti biasa, hidup harus puas dengan segala yang ada, harus bisa menahan ejekan tetangga, harus siap menahan lapar ketika waktu makan tiba.
          “Betul sekali anakku,,,,,tidak cukup hanya menyadari apa yang telah terjadi, namun dengan menyadari apa yang telah terjadi maka kita akan jauh dengan kerisauan hati. Selanjutnya tiba saat ini kita menjadi pekerja, yang tadinya menjadi seorang tuan, kini kita harus mau jadi karyawan, yang tadinya kita adalah bos, sekarang kita harus mau menjadai pegawai yang tulus. Perubahan ini tentu, di masa awal tidak mudah. Tapi ingatlah wahai anakku.........Setiap kesenangan dan penderitaan memiliki massa (ukuran dan waktu. Dan setiap massa dan waktu mengikuti hukum relativitas. Tergantung dari pengetahuan dan kesadaran jiwa kita. Dan setiap kesenangan dan penderitaan akan bermuara menjadi kenangan. Ingatlah.......didunia ini yang memiliki kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Dan ingatlah ....apapun yang terjadi, Tuhan selalu bersama kita, Tuhan selalu menyertai kita dan Tuhan memelihara kita. Tuhan memiliki kehendak yang sangat baik bagi hambanya....ini adalah mutlak. Jika engkau tidak merasakan kehendak baiknya, maka berarti hatimu telah terhijab, hatimu telah buta dan tuli”, Kata Ayub menjawab pertanyaan putranya.
          Baiklah ayah kini ku mulai mengerti, setidaknya biar aku merasakan bagaimana menjadi pesuruh, karyawan, ataupun mejadi budak. Yang selama ini, tak pernah terbayang olehku. Kita harus tetap kuat, dan memperbanyak mengingatNya ketika kesedihan mulai merasuki hati kita. Hanya dengan mengingatNya, hati kita menjadi tentram.
          Melihat keteguhan hati Ayub dan putra-putranya, membuat takjub para malaikat di kerajaan langit. Tidak demikian dengan Iblish, melihat Ayub begitu teguh tak tergoyahkan, Iblish semakin tidak tenang, seolah tak percaya apa yang terjadi. “Mengapa Ayub begitu teguh......mengapa hatinya tak tergoyahkan........mengapa ia tak terpengaruh oleh penderitaan, Ayub harus bisa dikalahkan.....Ayub pasti akan terkalahkan......Aku tidak akan menyerah, karena ini akan berpengaruh ke masa depan, Iblish tak boleh kalah.......Aku akan menghadap kepada Tuhan, aku akan meminta kepada Tuhan untuk semua anaknya yang tersayang harus di lenyapkan, tidak cukup hanya hartanya saja menjadi sebuah ukuran, gelar sebagai pemuja yang setia harus tidak mudah, karena ini akan di kenang sepanjang masa.
          Tuhan....ma’afkanlah hamba, datang begitu tiba-tiba. Hamba sudah melihat keteguhan dan kehebatan dari hambamu yang terkasih yang engkau beri gelar sang pemuja yang setia. Namun Tuhan, anugrah dan gelar yang engkau berikan akan dikenang sepanjang masa tak cukup hanya kehilangan harta saja sebagai ukuran, apa kata dunia nantinya, bila begitu mudahnya mendapatkan gelar sang pemuja yang setia, kata Iblish meminta kepada Tuhannya. “Lalu apa maumu????, hai iblish” jawab Tuhan. Lalu iblish berkata, “Tuhan berikan kuasa padaku untuk melenyapkan semua anak-anak Ayub. Terjadilah sesuai kehendakmu hai Iblish..........Engkau akan melihat bagaimana hamba terkasihku memang layak di beri gelar sebagai sang pemuja yang setia......”kata Tuhan.
          Secara mengejutkan,,,,dalam hitungan detik, semua anak-anak Ayub mengalami rasa sakit pada jantungnya, dan kesulitas bernafas, sampai akhirnya semua adak-anak Ayub meninggal secara bersamaan dengan waktu yang sangat cepat. Dengan tergopoh-gopoh yang mengetahui itu, langsung memberitahu Ayub, “wahai Ayub, semoga engkau diberikan kesabaran mendengar berita ini..........Anakmu Ayub, ada apa dengan anakku, sahut Ayub. “Semua anakmu meninggal secara mendadak. “Ya Allah.......Semua adalah milikmu dan akan kembali kepadamu, kuatkan aku Ya Allah, saya yakin ini terjadi semua atas kehendakmu.
          Wahai suamiku,,,,,dosa apa yang telah kita lakukan, bukankah selama ini kita berusaha menjadi pemujanya yang setia, bukankah kita telah sabar dalam menghadapi kemiskinan ini,,,,,bukannya kita telah berusaha menjauh dari segala laranganNya, bukannya masih banya hamba yang lain yang lebih durjana tp mengapa tdk mengalami cobaan seperti yang kita alami....mengapa ini harus menerpa kita suamiku, bagaimana aku bisa melanjutkan kehidupan ini,,,,,,,bagaimana masa tuaku nanti.......bagaimana hidup tanpa penerus...........dengan disertai tangis yang histeris, menambah kesedihan yang cukup mendalam, terkadang istri dari Ayub tak sadarkan diri.............
          Akhirnya tiba jua, waktu pemakaman yang penuh haru, sesekali terlihat Ayub meneteskan air mata dan beberapa kali sang istri tak sadarkan diri. Setiap hari, mereka teringat bagaimana cerianya hidup dengan anak-anak mereka. Jangankan makhluk bumi, makhluq langitpun tak tega melihat keadaan Ayub. Seluruh alam seperti ikut merasakan duka yang cukup mendalam. Namun tidak demikian dengan yang terjadi di istana Iblish, “hahaha......kali ini hati Ayub pasti terguncang sebagaimana istrinya yang telah terguncang, sekarang akulah yang menjadi pemenangnya, kemenangan dari iblish dan sekutunya”.
          Ketika pemakaman telah usai, Ayub berusaha menenangkan hati istrinya,
Wahai istriku..........
Tenangkanlah hatimu dan janganlah engkau terperdaya
Kitalah yang salah, karena merasa memiliki
 Setiap anugrahnya tak kita sadari
Bahwa itu hanyalah titipan semata

Setiap manusia tidaklah sama
Memiliki tingkatanya yang berbeda-beda
Anugrahnya pun tak sama
Takdirnya pun tak mungkin sama
Antara satu dengan lainnya tang mungkin sama
Janganlah kita berburuk sangka
Karena semua ada maksud dan tujuanNya
Ingatlah kita juga berawal dari tiada

Atas kehendaknya menjadi ada
Berlahan-lahan bisa merasakan sbg manusia
Setiap massa selalu ada suka dan duka
Kita tak dapat menghindari dari keduanya

Wahai istriku,,,,,,,,
Kematian bukan berarti lenyap tak berbekas
Eksistensi manusia tidak lenyap dengan kematian
Kematian hanya pintu kedua memasuki kehidupan (selanjutnya)
Tidak ada gunanya ratapan

Yang membuat kita sedih
Bila kematiannya tak berarti
Kehidupannya tak bernilai
Tak tahu kemana setelah mati

Manusia pastilah akan mencari jalan kembali
Kepada haribaan sang Ilahi
Tak dapat di prediksi berapa lama akan kembali suci
Hanya kasih Tuhan yang akan merahmati
         
          Mendengar penjelasan sang suami yang begitu indah, sang istripun sudah mulai tenang, lalu istri Ayub berkata, “kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi suami, semua barang-barang yang kita miliki sudah terjual untuk menyambung hidup, saat ini kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk di jual. Ayub pun menjawab, “Sabar istriku, aku akan kembali bekerja sebagai buruh orang lain. Istri menyahut, “suamiku saat ini engkau sudah tidak muda lagi, dan engkau adalah bekas orang terkaya di negeri ini dan bahkan engkau adalah keturunan orang yang terpandang di negeri ini. Dengan menghirup nafas dalam-dalam, Ayub pun berkata, “Kemuliaan seseorang bukan terletak ia keturunan siapa, mengenai umur, aku akan mencari pekerjaan yang aku mampu, namun wajib bagiku menjadi tulang punggung dari keluarga ini, kemuliaanku sebagai seorang suami adalah mencari nafkah buat keluarga. Mengenai aku adalah bekas orang kaya, roda kehidupan selalu berputar, setiap manusia harus siap menjadi peran apa saja, apakah itu sebagai buruh atau sebagai bos. Justru ketika kita memainkan peran dalam peran yang berbeda, kita akan semakin menjadi manusia yang bijaksana. Karena merasakan apa yang orang lain rasakan. Aku tidak kaget dengan keadaan seperti ini, karena aku dulu berawal dari menjadi buruh. Tenangkalah hatimu istriku, kita lahir ke dunia tanpa apa-apa, kita meninggalkan dunia ini juga akan meninggalkan semua apa yang kita miliki. Hanyalah kebaikan hati yang menjadi teman abadi dalam mengarungi kehidupan setelah mati”.
          Kerajaan langit kembali dibuat takjub, dan tak henti-hentinya para malaikat memuji Ayub, bahkan ada beberapa malaikat yang menetaskan air mata. “Sungguh ini sebuah ujian terberat bagi seorang hamba, sungguh ini akan menjadi sebuah kisah di sepanjang masa, sungguh manusia layak mendapatkan derajat tertinggi di sisiNya”, kata malaikat. Kerajaan iblish kembali gaduh, kegaduhan ini disebabkan raja iblish yang sangat gelisah, berjalan mondar mandir sambil berteriak-teriak, “kumpulkan semua penasehatku dan para pembantuku, hai semua yang ada disini, tidak bisa kupercaya Ayub masih begitu tegarnya, semua usaha yang kita lakukan telah gagal, apakah saya harus menghadap Tuhan dengan kepala tertunduk dan harus mengakui ketinggian derajat yang dimiliki bangsa malaikat, bukankah kita ini dulunya adalah ciptaan yang paling dekat dengan Tuhan, mengapa kedekatan ini bisa dikalahkan oleh bangsa manusia. Sungguh ini membuat aku kecewa, sekarang aku minta semua yang hadir disini, untuk berfikir bagaimana bisa menjauhkan Ayub dari Tuhan. Lalu salah satu dari penasehat iblish berkata, “tidak ada cara lain, kecuali kita perberat ujiannya, kalau harta masih kuat, dengan anak juga masih kuat maka kita coba dengan kesehatannya. Sepanjang sejarah manusia belum ada yang lolos terhadap ujian ini”. Hah........sahut iblish seolah tak percaya. Jangankan manusia para malaikatpun tidak ada yang sanggup, apa Tuhan akan menyetujuinya?????. “tidak ada cara lain, engkau tahu sendiri, Ayub telah mencapai kesadaran spiritual yang tinggi yang belum pernah di capai oleh para leluhurnya. Engkau menyaksikan sendiri, ketika anak-anaknya wafat, dengan penuh kemantapan hati, ia membuka seluruh bajunya lalu bersujud kepada Tuhan dengan mengucapkan, “wahai Tuhan aku lahir dalam keadaan telanjang maka akupun akan kembali kepadamu dalam keadaan telanjang, ini menunjukkan kesadaran Ilahiah dari Ayub sudah cukup tinggi, kita di berikan kuasa ada batas waktunya. Tidak ada pilihan lagi, jika tidak memakai cara ini, lebih baik kita menyerah saja. Karena hasilnya pasti akan sama, Ayub sebagai pemenangnya”.
          “Baiklah  penasehat, aku akan segera menghadap Tuhan”, sahut iblish. Lalu dengan hanya kedipan mata, iblish pun sudah sampai menjumpai Tuhan. “Tuhan ......kami menyadari ujian kami yang kedua pun tidak dapat menggoyahkan hati Ayub, ia tetap menjadi sang pemuja yang setia”. Namun Tuhan....perkenankanlah hamba untuk dapat mengujinya sekali lagi, bila dengan ujian ini, Ayub tetap menjadi sang pemuja yang setia, maka aku akan mengakui kepantasan Ayub sebagai hambamu yang mendapatkan anugrah sebagai sang pemuja yang setia. Perkenankan hamba, untuk mengujinya dengan penyakit yang mengerikan, yang belum pernah dialami oleh manusia sebelumnya.        
          “Baiklah, kuasaku beserta kuasamu, terjadilah yang menjadi kehendakmu.......” , begitu kata Tuhan. Lalu dengan hati yang penuh kesenangan dan rasa percaya diri yang berlebihan, sambil mengepalkan tangan, sang iblish berkata, “kali ini Ayub pasti akan terguncang dan akan menjauh dari Tuhan”.         
          Ketika Ayub telah terlelap dalam buaian malam, karena seharian bekerja, hanyalah tidur yang mampu menyembuhkan keletihan yang amat sangat. Bahkan, malam itu, Ayub lupa tidak mensucikan diri, karena kantuk dan lelah yang amat sangat. Dan pada malam itu, Iblish pun turun dari langit meniupkan sesuatu ke dalam tubuh Ayub. Lalu hanya dalam hitungan detik, Ayub merasakan sekujurnya tubuh terasa gatal dan disertai panas. Ayub mengira dengan hanya di oles dengan ramuan tradisional maka penyakitnya akan hilang. Setelah ia selesai mengobati bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. Lalu ia bergegas mengambil wuduk dan melaksanakan sholat. Lalu dalam munajatnya Ayub berkata :
Ya Tuhan hanya engkaulah yang Maha baik dalam rencanaMu
Ya Tuhan Engkaulah yang berkuasa atas segala sesuatu
Ya Tuhan Engkaulah yang meliputi segala sesuatu       
Ya Tuhan hanya engkaulah sebaik-baik tempat mengadu          
 Ya Tuhan ...kasihmu tiada terkira           
Pujaku memang tak sempurna
Hatiku tak akan goyah
Sampai aku menutup mata
Hanya engkalah tempat aku berseru
Hanya engkaulah yang menjadi penghiburku
Hanya engkaulah yang menguatkan jiwaku
Hanya engkaulah yang dapat melindungku        
Hanya Engkau yang membelaku  
          Setiap cinta harus mau menanggung derita
          Setiap cinta harus dapat diuji secara nyata
          Setiap cinta tak hanya berkata-kata
          Setiap cinta selalu dapat menguatkan jiwa
Ditinggal harta tak membuat aku gentar
Ditinggal anak tak membuat aku bergetar
Amarahmu yang bikin aku gentar
Kebencianmu yang bikin aku berdebar (ketakutan)         
          Tuhan ....aku tak minta keadaanku pulih
          Tuhan....hanya kasihmu yang selalu aku nanti
          Biarlah semua manusia membenci
          Tapi cintamu yang selalu kunanti
Ampunilah aku sebagai pemuja
Yang senantiasa terperdaya oleh kenikmatasn sementara
Terkadang hamba berbuat salah    
Seringkali aku lalai sebagai kekasih         

          Selesai bermunajat, Ayub merasa tubuhnya terasa gatal yang amat sangat lalu ia menggaruknya, namun masih terasa gatal, akhirnya tanpa ia sadari ia telah melukai seluruh tubuhnya, dari bintik-bintik itu keluar darah segar. Sang istri yang melihat suaminya berlumuran darah dan mengeluarkan bau amis darah mencoba untuk mendekat dan berkata, “ Wahai suamiku, apa yang terjadi denganmu???kenapa sekujur tubuhmu mengeluarkan darah”. Saya masih memiliki beberapa potong pakaian, akan aku jual, untuk biaya berobat engkau, suamiku”. Jangan.....jangan istriku, jangan kau jual pakaianmu..!!! karena pakainmu tinggal dua potong saja. Lalu istrinya tak kuasa menahan tangisnya, sang istri menangis tersedu-sedu sambil meratap dan tak kuasa menahan beban berat yang ada di dadanya,
“Wahai Tuhan, cobaan apalagi yang menimpaku
Engkau tahu kemampuanku
Kenapa engkau senang akan airmataku
Kenapa semua ini harus menimpaku
Bukankah aku adalah pemujaMu
Bukankah suamiku adalah kekasihMu
Bukankah aku selalu mengikuti perintahMu
Bukankah aku tidak pernah mengecewakanMu
Ya Allah jika ini terjadi karena dosaku.....bukankah engkau maha pengasih
Ya Allah jika ini karena salahku....bukankah engkau Maha Pema’af
Ya Allah jika ini adalah karmaku ..bukankah engkau maha baik
Ya Allah jika ini adalah dosaku .....bukankah engkau maha pengampun          
          Oh.. Tuhan kini engkau tahu deritaku
          Satu-satunya harapanku telah telah tak berdaya  
          Ketika engkau ambil hartaku, aku masih berusaha bertahan
          Ketika engkau ambil anakku, sungguh jiwaku terguncang
          Kini, kau buat suamiku tak berdaya
Oh ...Tuhan, sungguh ini tak tertahankan
Mengapa tidak engkau ambil nyawaku
Biar aku terbebas dari sakit bak tertusuk sembilu
Oh....Tuhan bebaskan aku....(Menangis dengan histeris)
          Mendengar ratapan sang istri, Ayub pun mencoba menenangkan sang istri tersayang dengan berkata,
Wahai istriku ...janganlah engkau begitu
Berputus asa dengan pikiran tak menentu
Sadarilah wahai istriku......

Penderitaan yang kita alami hanya sesaat saja
 Mampukah engkau menghitung nikmatNya
Sejak dalam kandungan, rizkimu telah diatur olehNya
Engkau berada pada tempat yang kokoh

Lalu Tuhan, memberikan kasihnya melalui orang tuamu
Yang engkau lihat hanya orang tuamu
Engkau tak tahu, bahwa Tuhan yang sebenarnya mengasihimu
Namun, Tuhan tak pernah marah

Walau ia tak dilihat kebaikanNya oleh mu
Ia menumbuhkanmu, mengajarimu akan segala sesuatu
Semua tubuhmu merasakan akan berbagai macam rasa
Hatimu pun dapat merasakan segala rasa suka dan duka

Jika engkau sadari , antara sakit dan sehat masih banyak yang sehat
Antara suka dan duka masih banyak suka
Antara tawa dan sedih masih banyak tawa
Antara pahit dan manis masih banyak yang manis
Antara penderitaan dan kesenangan masih banyak kesenangan

Jangan karena penderitaan yang sesaat engkau menjadi sesat
Jangan hanya karena tangis engkau menjadi bengis
Jangan hanya pedih engkau menjadi tak tahu diri
Jangan hanya derita engkau menjadi durhaka
          Mendengar kata-kata suaminya, istri Ayub agak tenang, namun jauh dari kedalaman hati yang paling dalam, ia sangat tertekan, bahkan jiwanya terguncang. Dia sengaja tidak menampakkan itu pada Ayub. Beberapa hari kemudian, penyakit Ayub semakin parah, seluruh tubuhnya suda mulai mengeluarkan darah dan nanah yang mengeluarkan bau yang amat sangat menjijikan. Sang istri, sudah tak bisa bersabar lagi, kini sang istri sudah semakin mantab untuk meninggalkan suaminya, tanpa lagi memikirkan kondisi suaminya. Bahkan sang istri berkata dalam hati, “bukankah suamiku hamba yang taat, Tuhan pasti menjaganya”. Lalu sang istri pun pergi meninggalkan Ayub yang tergolek lemah.          
          Ayub memanggil-manggil istrinya, namun tak kinjung muncul di hadapannya. Akhirnya Ayub sadar bila, istrinya telah meninggalkannya. Sungguh Ayub merasa sedih sekali, jiwanya sudah mulai terguncang. Sakit di tubuhnya, sudah mulai menyebabkan jiwanya juga sakit. Seringkali ia meneteskan air matanya. Beberapa sahabatnya pun tak sanggup untuk menjenguknya dari dekat. Sahabatnya dengan terus terang menyampaikan permohonan ma’af untuk tidak dapat menjenguk dari dekat, karena bau anyir yang muncul dari tubuh Ayub. Bahkan bau itu tercium dari jarak lima ratus meter.
          Walaupun Ayub memaklumi sahabatnya tidak dapat mendekat dikarenakan bau amis darah yang sangat menjijikan. Namun, kekecewaan Ayub tak dapat ditutupi. Tak terasa, air mata di pipinya menetes, Ayub sungguh merasakan beratnya ujian kali ini. Para malaikat yang dapat menyaksikan penderitaan Ayub juga meneteskan air mata. Berbeda dengan yang di istana Iblish, melalui kekuatan yang dimilikinya iblis tertawa dan mereka merasa yakin, kali ini mereka akan menang.
          Ketika malam sudah mulai larut, rasa perih, gatal dan darah bercampur nanah yang terus keluar dari tubuh Ayub, bahkan tubuhnya sudah mulai ada belatungnya, ini dikarenakan tubuh Ayub sudah mulai membusuk.  Ayub mulai merasakan demam tinggi dan badannya sudah mulai lemah, air matanya terus berlinang membasahi pipinya, ia kembalikan merasakan betapa kejamnya istri yang ia cintai meninggalkannya pada saat ia tergolek lemah, begitupula dengan para sahabatnya. Ayub kembali meratab :
“Ya Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang
Engkau yang maha meliputi segala sesuatu
Engkau yang maha berkuasa atas segala sesuatu
Engkau tempat kembali segala sesuatu
          Tuhan aku tahu akan kasihmu        
          Tuhan aku tahu akan kebaikanmu
          Tuhan aku tahu engkau adalah dekat
          Tuhan aku tahu akan kebesaranmu
Engkau pun tahu apa yang kurasa
Engkau pun tahu yang ku derita
Engkau pun tahu apa yang ku minta
Engkau pun tahu apa penyebab sesak di dada
          Ya Tuhan sungguh ini berat bagiku
          Rasa sakit ini sungguh menyiksaku
          Aku tak tahu apa penyebab penyakitku
          Apakah ini perlambang kebencian Mu
Oh Tuhan....ku harap ini bukan murkamu
Ku harap ini bukan pertanda amarahmu
Ku harap ini bukan sebagai adzab untukku
Ku harap ini dapat mengampuni dosaku
          Sungguh ini membuat aku hampir berputus asa
          Karena begitu berat aku rasa
          Namun aku percaya pada waktu yang akan menggilasnya
          Namun ku rasa bagai selamanya    
Hanyalah terlelap sebagai pelipir lara
Walau sulit untuk tidur seperti biasanya
Benar-benar tak lagi ku ingat jika aku pernah sehat jiwa dan raga
Sakit badan ini telah mebuat aku sakit jiwa
          Jika taj punya hidayah mungkin aku sudah berburuk sangka
          Aku adalah manusia biasa
          Rasa sakit ini sungguh mengguncang jiwa
          Entahlah...apakah aku masih tergolong orang yang tabah
Oh Tuhan..bila ini takdirku
Biarlah menghapus dosaku
Engkau tahu akan kemampuanku
Aku hanya bisa berserah diri kepadaMu
          Sampai pada waktu yang telah di tetapkan oleh Tuhan, Ayub tetap menjadi pemuja yang setia. Walau hatinya sedikit terguncang tapi ia tetap menjadi pemuja yang setia. Akhirnya iblish pun mengakui Ayub sebagai pemuja yang setia. Akhirnya Tuhan melalui malaikatnya menyembuhkan Ayub dengan perantaraan air yang keluar dari bumi. Air tersebut keluar disebabkan pukulan tongkat dari malaikat. Dan semua malaikat yang ada di bumi dan yang ada di langit melantunkan pujian kepada Tuhan dan kepada Ayub sebagai rasa sukacita yang dalam.        
          Setelah Ayub sembuh dari penyakitnya, ia tak henti-hentinya mengucapkan tahmid sebagai perwujudan yang mendalam. Dan sampai kapan pun, kesabaran dan ketabahan Ayub akan menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Dan akhirnya Tuhan pun mengembalikan semua yang pada awalnya di berikan kepada Ayub, baik harta, istri dan kembali memiliki anak-anak yang menyenangkan hati dan sholeh. Ayub sanggup lolos dari ujian Allah karena kekuatan iman dan hidup penuh dengan kesadaran.


         















Tidak ada komentar: